![]() |
foto dari Unsplash |
Wajahnya terlihat lesu. Saya memaklumi.
Yah namanya juga anak pulang sekolah, tentu ia kecapaian.
Selepas menyimpan tas dan mengganti
seragam, bukannya langsung makan, seperti biasanya. Ia malah duduk di depan
televisi. Sebagai ibunya, saya tahu dia sama sekali tidak sungguh-sungguh
menonton tayangan tersebut. Sama sekali bukan program favoritnya.
“Kak, nggak lapar?” tanyaku
mengingatkan.
Anak gadisku yang baru menginjak kelas X
SMU itu menatapku. Di matanya kulihat sejuta tanya.
Bukan menjawab pertanyaanku. Ia malah
membicarakan hal lain.
“Bu, teman sekelasku dikeluarkan dari
sekolah,” ucapnya sendu.
Hmm... itu rupanya masalah dia. Aku
tersenyum lembut. Ingin menenangkan perasaannya. Rupanya ia kehilangan seorang
teman yang entah apa masalahnya.
“Memang kenapa dengan temanmu, Kak?” Aku
mencoba bersimpati dengan keadaan temannya itu.
“Ketahuan sekolah, dia lagi hamil, Bu.”
Seketika itu juga senyumku hilang.
Perutku terasa mulaasss sekali. Ya Allah, Ya Rabbana...
Sejenak aku merasa bingung. Semua kata
yang tadi aku siapkan untuk menghibur gadisku menguap seketika. Pikiran dan
perasaanku berhasil dikuasai oleh kabar mengerikan itu. Ya memang, itu tidak
terjadi pada anakku. Tapi...tapi... teman sekelasnya, tetaplah begitu
mengerikan bagiku. Dan aku tidak pernah mau membayangkan hal yang lebih
mengerikan dari itu.
Aku paham sekarang kacaunya perasaan
gadisku. Ternyata aku pun seperti itu. Gadisku yang ceria menjalani
hari-harinya dengan bermain dan belajar, kini disentakkan oleh kenyataan
ternyata teman yang satu umur dengannya, sama-sama berseragam putih abu, dalam
waktu yang tidak lama lagi akan melahirkan
seorang bayi. Oh God....
Kenapa semua itu bisa terjadi?
Bagaimana hal sejauh itu bisa terjadi?
Bagaimana mulainya?
Apakah semudah itu?
Pasti pertanyaan-pertanyaan itu yang
tadi kulihat di matanya. Berkecamuk dalam pikirannya hingga dia seperti
limbung. Tentu akulah yang dia harapkan sebagai pegangannya.
“Kakak tahu apa saja mengenai teman
Kakak itu?” Aku segera memosisikan diri lagi sebagai teman bicaranya.
“Nggak tahu banyak sih. Lagi pula
sekolah seperti menutup-nutupi. Tapi teman-teman yang tahu sih bilang kalau dia
hamil itu sama pacarnya.”
“Masya Allah... Itulah bahayanya
pacaran, Kak. Pantas saja dalam Al Qura’an sudah disebutkan bahwa kita sebagai
muslim janganlah mendekati zina. Jangankan zina, mendekati saja jangan.
Bukankah pacaran itu perbuatan mendekati zina?” tanyaku mencoba memancing
reaksi Kakak.
“Tapi teman-temanku banyak yang punya
pacar lho, Bu.”
“Ibu juga prihatin dengan keadaan
sekarang, Kak. Dalam pandangan masyarakat kita secara umum, pacaran sudah
seperti perbuatan biasa. Padahal resikonya sungguh besar. Ibu harap kamu tidak
terpengaruh oleh lingkungan yang salah.”
“Insya Allah nggak, Bu. Kakak sudah bisa
membedakan yang benar dan yang salah.”
“Alhamdulillah. O,ya Kak, Ibu ingin
menyampaikan sebuah hadits yang mudah-mudahan dengan hadits ini, Kakak semakin
berpegang teguh kepada kebenaran.”
“Apa haditsnya gitu?”
“Sebentar, Ibu bacakan:
“Dari
Nabi SAW, beliau bersabda:
“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
- Pemimpin yang adil,
- pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah),
- seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya),
- dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
- seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: “Aku takut kepada Allah”,
- seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya,
- dan seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.”
“Hari yang tidak ada naungan itu
maksudnya hari kiamat, ya Bu?”
“Iya, saat manusia dikumpulkan di alam
mahsyar. Di sana jarak matahari sangat dekat dengan kepala-kepala manusia.
Menurut keterangan kira-kira hanya 1-2 mil saja. Terbayang panasnya, bukan?”
“Iya, Bu.”
“Nah, dari sekian banyak manusia yang
terpanggang panas matahari itu ada tujuh golongan yang oleh Allah diberi
naungan sehingga mereka tidak merasa kepanasan. Di sini Ibu mau menggaris
bawahi satu golongan yaitu pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.
Jadi Kak, mereka itu para pemuda yang seumur dengan Kakak saat ini. Yang dalam
masa tumbuhnya begitu banyak godaan. Namun mereka tetap istiqomah dalam
ketaatan kepada Allah Swt.”
“Apakah mereka itu para pemuda yang
sepanjang waktu sholat terus, Bu?”
“Ya, bukan dong. Ibadah itukan ada
hablumminalloh dan hablumminanas. Artinya bentuk ibadah bukan hanya sekedar
ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji saja. Tapi kamu belajar
yang rajin, berbakti pada orang tua, sayang pada saudara, berbuat baik pada
semua ciptaan Allah, itu juga ibadah.”
“Oh gitu ya...”
“Iya. Ibu harap banget dari Kakak supaya
Kakak bisa menjaga diri untuk tetap menjadi muslim yang istiqomah. Tidak
terpengaruh oleh lingkungan yang salah. Meskipun semua teman-teman Kakak
melakukannya. Kalau menurut Allah salah, ya tetap salah. Jangan diikuti. Demi
apa, Kak?”
“Demi keselamatan masa depan Kakak
sendiri.”
“Iya, masa depan di dunia dan akhirat
kita.”
Begitulah perbincangan antara aku dan
anak gadisku, setelah kabar yang mengerikan itu. Meskipun dengan segunung
kekhawatiran hinggap di hatiku namun aku coba untuk tetap mempercayainya.
Selebihnya aku pasrahkan kepada Allah. Hanya Dia-lah yang bisa menjaga
anak-anakku di mana pun mereka berada. Kita sebagai orang tuanya hanya bisa
memberitahu, menjaga semampu kita, dan mendoakannya.
Ya Allah lindungilah anak-anak kami.
Jangan biarkan syetan mendekati mereka. Hindarkanlah mereka dari kejahatan dan
kecelakaan, aamiin...
Baca juga: Menghadapi Anak Usia Remaja
Baca juga: Menghadapi Anak Usia Remaja
*****
Itu tulisan curahan hati saya 4 tahun lalu,
saat Kakak baru menginjak kelas X. Sekarang Kakak sudah kuliah. Sebetulnya hati
saya bertambah sakit saat Kakak sudah di kelas XII dan dia cerita lagi pada
saya kalau salah satu temannya ikut UN susulan.
“Kenapa nyusul?” tanya saya.
“Nunggu penyembuhan operasi.” jawabnya.
“Hah? Operasi kenapa?” tanyaku kaget.
Terbayang di benakku, temannya Kakak mendapatkan kecelakaan parah.
“Operasi caesar habis melahirkan,”
jawabnya lagi dengan enteng dan setengah tertawa.
Innalillahi....
Betapa semakin biasanya kejadian ini dialami oleh remaja sekarang hingga Kakak saja tidak merasa kaget lagi mendengarnya. Dan bagi saya itu lebih-lebih menyakitkan. Ya sebelum yang operasi caesar ini dan setelah kejadian teman sekelasnya di kelas X, Kakak mendapat kabar beberapa kali mengenai kejadian serupa dari teman seumurannya. Naudzubillah… Semoga Allah swt. menjauhkan kami dari hal-hal demikian.
Naudzubillah semoga anak2 kita sll dilindungi Alloh, dilindungi dr godaan aku mules mba bcanya 😿😿 *lgsg peluk anakku y Alloh smg aku dimampukan mendidik anak2ku dijalanNya aamiin
BalasHapusAamiin...sama Mba,aku juga muleesss kalau inget lagi T_T
Hapus*istigfar... serem banget rasanya dunia buat anak-anak kalo denger cerita yg model begini mbak. Tapi ya gimana udah fakta apalagi dekat dengan anak. Makasih mbak ceritanya, cara komunikasi sama anaknya adem banget, aku suka.. mudah-mudahn selalu bisa jadi orang tua yang ada untuk anaknya aamiin
BalasHapusAamiin...iya Mba, orang tua jangan sampai lengah dengan pergaulan anak-anaknya.
HapusNgeri banget ya mba Yas. Jaman aku SMA juga ada kejadian kayak gini. Ketika yang tabu dan tidak halal menjadi biasa.
BalasHapusYa Allah, jauhkanlah dari keburukan.
Aamiin...dan sedihnya, kadang ada anggapan nanti juga orang-orang pada lupa dengan kejadian ini :(
HapusNgeri banget ya mba Yas. Jaman aku SMA juga ada kejadian kayak gini. Ketika yang tabu dan tidak halal menjadi biasa.
BalasHapusYa Allah, jauhkanlah dari keburukan.
Merinding banget membayangkan generasi muda kita sampai terjerumus pada sex bebas sampai hamil di usia sekolah gitu ya, mba :(. Miris rasanya. Semoga keluarga kita terlindung dari hal-hal buruk begitu.
BalasHapusAamiin...iya, kasihan dengan masa depan mereka Mak :(
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMiris sekali anak anak skg.
BalasHapusPendidikan agama memang pondasi terkuat.
Jadi kita harus perbaiki diri trus nih :))
Salam kenal
10 Apr 2017 23.18.00
Betul, Kak. Salam kenal juga :)
Hapusya Alloh. innalillaahi wa inna ilayhi rooji'uun. naudzubillaahi min dzaalik.
BalasHapussaya juga pernah punya teman SMA yang pacarannya sudah begitu erat. ngeri kalau ingat itu.
Kadang suka heran, di mana ya pengawasan ortunya :(
HapusYa Allah.. Semoga anak2 kita menjadi anak yang soleh dan soleha, yg selalu dalam lindunganNya. Aamin
BalasHapusJaman millennial sekarang peran orang tua dlm menjaga anak2 memang harus lebih ekstra lagi ya Mbak.
Aamiin...betul Kakak.
Hapusmungkin sekarang tampak banyak ya krn sekarang lebih banyak yg terekspos dibanding dulu, pdhl jaamn aku sekolah juga ada ya tp sanagt ditutupi. Sekarang mah lebih dieskpos tp aad untungnya juga kita jadi hati2 menjaga anak kita
BalasHapusIya Mak, mau dulu atau sekarang, kalau pondasinya gak kuat ya seperti itu.
HapusTerima kasih Sharing nya mba,semoga aku bisa panjang umur agar bisa memperhatikan dan membimbing putriku hingga dewasa nanti.
BalasHapusAamiin...sama-sama, Kakak :)
HapusSaya jadi teringat teman saya yang mengalami hal serupa. Yang pasti mungkin bagi anak2 remaja 'biasa' itu karena mereka sudah tahu. Ibaratnya, ah dia hamil ya, pantes aja soalnya pacarannya terlalu nganu. Jadi semakin dewasa mereka semakin bisa melihat sesuatu dengan cara yang beda dari mereka sebelumnya.
BalasHapusSemoga Allah senantiasa melindungi kita dan keluarga kita dari maksiat kepadaNya. Aamiin allahumma aamiin
Aamiin... terima kasih sudah mampir, Mak :)
HapusAstaghfirullahal'adzhiim. Merindiiiing ☹️☹️☹️
BalasHapusSama, Mak... :(
Hapusaku juga kalau lihat anak-anak sekarang itu rasanya kok khawatir dan miris ya mbak. sambil mencoba paham, pantes aja dulu keluarga dulu banyak yang kepo banget kalau aku lagi dekat dengan cowok. tapi memang masa-masa umur segitu emang masanya pengen bebas dan nggak suka diatur-atur kayaknya. cuma kalau sampai salah pergaulan ini yang serem -_-
BalasHapusIya, itu bukti kekhawatiran keluarga ke kita ya, Mak :)
HapusNaudzubillah, semoga anak-anak kita selamat dari fitnah dunia akhirat ya mbak :(
BalasHapusAamiin...
HapusInnalillahi, semoga kita bisa mendidik dan mengarahkan anak2 kita dengan benar ya, semoga selalu dalam lindunganNya, Aamiin.. :)
BalasHapusAamiin, ya Rabbal 'alamiin...
HapusAstagfirullah.. ya Allah lindungi anak-anak kami dari bisikan jahat setan.
BalasHapusAamiin...
HapusAstagfirulloh, naudzubillah.. salah satu ketakutan saya saat masih gadis adalah MBA karena pasti akan sangat menyakiti hati ortu, sampai akhirnya saya nikah sederhana tanpa hutang, sengaja saya berdoa agar pacaran dulu setelah menikah dan Tuhan mengabulkannya, sekarang saya hamil dan gada lagi yang menuduh saya hamil duluan. Semoga anak-anak dan sodara kita selalu dilindungi Tuhan ya Mbak, apalagi sekarang ada pro kontra pemasangan alat kontrasepsi bagi remaja
BalasHapusAlhamdulillah Mba sudah mengambil langkah yang baik ya :)
Hapusya Allah semoga semua ini gak terjadi sama anak-anak kita ya mam...
BalasHapusIya, aamiin...
HapusAku malah pas smp dulu waktu kls 1 dapetberita kk klas 3 ada yg hamil.
BalasHapusInnalillahiii...makin muda aja korbannya :'(
HapusSaya dulu juga pacaran waktu SMEA kelas 3 (sekarang jadi suami), tapi pacarannya sekedar apel malming duduk berjauhan, sekolah dianterin, pokoknya dalam batas wajar. Waktu ada temen hamil, saya bingung. Emang pacarannya ngapain kok bisa sampai hamil?
BalasHapusSayangnya dulu saya ga bisa curhat begini sama emak. Karena emak kerja di Arab.
Semoga nanti saya bisa bersikap seperti ini kalau si kecil sudah menginjak remaja. TFS Mbak
Alhamdulillah kita bisa melewati masa remaja dengan selamat ya, Mak :)
Hapussedih, khawatir, dan miris :(
BalasHapuswaktu smp juga pernah ngalamin berita ini tp kasusnya kakak kelas. dulu waktu denger kaget dan takut tp ala polosnya anak remaja awal. Klo skrg denger anak smp hamil lebih syok lagi "kok bisaaaaa :(("
Karena kita udah berumur ya, Mak. Anak SMP kan anak-anak banget!
HapusWalah temennya ampe operasi sesar begitu, astagfirullah
BalasHapusIya, Mak... padahal yang sesar kan biasanya emak-emak :(
Hapusmendadak pening baca fenomena ini ya mbak, astaghfirullah, sepertinya gak akan berhenti kalau hukum negara thd kondisi ini gak ditegakkan, padahal sudah gawat darurat banget ini :(
BalasHapusSaya mules, Mak. Iya ini tanggung jawab semua, termasuk negara.
HapusSemudah itu terjadi ya bu, menggampangkan hal-hal yang sangat harus dihindari
BalasHapusKalau nafsu bicara, akal jadi hilang mungkin, Mba :)
HapusAlhamdulillah si kakak punya ibu yg paham agama. Semoga anak2 kita selalu dilindungiNya dari melakukan perbuatan maksiat ya Mak
BalasHapusya Allah.. lindungi anak2 kami dari perbuatan yg dilarang.. *ikutkhawatir
BalasHapus