Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Mei 2017

Ibu Tidak Pintar Masak




Di budaya timur, sering disebut-sebut salah satu kriteria seorang isteri atau seorang ibu yang baik itu pintar masak. Terus terang, pencitraan seperti ini sering membuat saya terbebani. Pasalnya saya tidak pintar masak, tidak begitu suka berlama-lama di dapur, pokoknya tidak ada minat yang tinggi pada dunia masak-memasak. Sebelumnya saya luruskan dulu ya. Saya tidak suka aktivitas memasak bukan berarti saya tidak masak untuk keluarga saya. Saya masak kok semampu saya. Tapi perkembangannya ya mungkin jauh sih kalau dibandingkan dengan ibu-ibu yang suka memasak.
Saya suka mikir-mikir apakah saya salah karena tidak suka aktivitas memasak? Akhirnya saya mengingat-ingat kehidupan masa lalu saya untuk menemukan jawabannya.
Dulu, sejak ibu saya tidak punya pembantu, di rumah kami dibagi-bagi tugas. Saya sebagai anak sulung bertugas mencuci baju dan setrika, sedangkan adik perempuan saya bertugas membantu memasak di dapur. Bisa jadi hal inilah yang menyebabkan saya tidak bisa memasak dan akhirnya tidak suka aktivitas memasak. Seingat saya, saat saya remaja saya hanya bisa menggoreng telur, masak mie instan dan agar-agar.
Untunglah ketika keluar kuliah, saya pernah bergabung dengan teman-teman yang mendirikan warung makan. Di situ saya baru tahu bahwa masakan Indonesia itu memiliki bumbu dasar. Bawang merah, bawang putih, garam itu ada di hampir semua masakan Indonesia. Selebihnya bisa cabe, bisa kunyit, bisa ketumbar, tergantung jenis masakannya.
Itu yang pertama. Hal keduanya adalah soal takaran dan komposisi. Awalnya saya hanya bantu potong-potong bahan saja. Tidak pernah sekalipun berani memasukan bumbu walaupun hanya sejumput garam. Terlebih menentukan komposisi bahan, pada sambal misalnya. Saya tidak tahu untuk seporsi sambal itu, cabenya segimana, gulanya segimana, garamnya segimana, dan seterusnya. Blank pokoknya.
Dari membantu teman itu alhamdulillah...akhirnya sedikit demi sedikit saya belajar rumus rasa. Saya mulai tahu kalau bahan A dicampur bahan B, jadinya memiliki rasa C. Kalau nyicip rasa D itu terkandung bahan E, F dan G, dan sebagainya. Hihi...baru tahu ternyata pekerjaan masak itu menyangkut juga soal perasaan, tidak berhenti di takaran.
Pas pulang kampung, saya memasak tumis asin cumi cabai hijau. Asal tahu saja, ayah saya sampai sujud syukur saya bisa masak sesuatu haha...😂. Sampai sekarang, ayah selalu kangen dengan masakan pertama putrinya itu. Sebetulnya waktu itu saya masih santai soal masak-memasak. Soalnya kan gak ada yang maksa saya mesti masak. Namun pas saya nikah, di situ saya baru sadar bahwa ternyata memasak itu merupakan bagian dari berumah tangga. Ya kalau bukan saya yang masak, siapa lagi? Suami kan udah jelas pergi pagi pulang sore. Haduuh...
Meski begitu untunglah saya tidak sepolos dulu lagi. Pengetahuan tentang bumbu dasar dan rumus rasa sangat membantu. Namun supaya saya punya pegangan, saya minta adik saya menulis beberapa resep sederhana yang biasa dia masak di rumah. Sampai beberapa tahun, buku kecil berisi resep tulisan adik saya itu selalu setia menemani. Terselip manis di antara toples garam dan merica. Di dalamnya tertulis antara lain resep tumis kangkung, sayur asem, dan pepes tahu. Semuanya sih ada sekitar selusin resep. Lumayan lah diputer-puter hehe...
Semakin kesini saya coba resep-resep yang lain. Yang praktis-praktis saja sih. Ada lauk pauk seperti teriyaki, sup bola daging, berbagai tumisan dan lain-lain. Ada juga penganan-penganan semacam resep pancake sederhana, berbagai macam puding atau cake. Tapi ya jarang-jarang juga 😅.
Sebetulnya keluarga jarang protes dengan rasa masakan saya. Saya pikir mungkin lidah mereka sudah terbiasa saja dengan racikan bumbu masakan saya. Namun saya masih suka tidak pede membawa masakan keluar rumah. Misalnya pas acara potluck (botram/mayoran) bersama tetangga, saya lebih sering bawa buah, puding, minuman atau makanan jadi saja.
Nah, yang tadi itu buat masak sehari-hari. Untuk hari raya kayak idul fitri sih saya usahakan masak lebih spesial. Ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, semur daging sapi pasti saya bikin. Kalau idul adha ya saya bikin gulai, sate dan acar. Meskipun saya jarang-jarang masak besar, alhamdulillah sih jarang gagal. Pokoknya soal rumus rasa itu memang bener-bener penting.
Jadi kenapa saya tetap mengklaim tidak suka aktivitas memasak? Jawabannya, mungkin karena tidak semua manusia diciptakan Tuhan harus suka memasak hehehe...💃💃💃

Senin, 10 April 2017

Bu, Teman Sekelasku Hamil!



foto dari Unsplash


Wajahnya terlihat lesu. Saya memaklumi. Yah namanya juga anak pulang sekolah, tentu ia kecapaian.

Selepas menyimpan tas dan mengganti seragam, bukannya langsung makan, seperti biasanya. Ia malah duduk di depan televisi. Sebagai ibunya, saya tahu dia sama sekali tidak sungguh-sungguh menonton tayangan tersebut. Sama sekali bukan program favoritnya.

“Kak, nggak lapar?” tanyaku mengingatkan.

Anak gadisku yang baru menginjak kelas X SMU itu menatapku. Di matanya kulihat sejuta tanya.

Bukan menjawab pertanyaanku. Ia malah membicarakan hal lain.

“Bu, teman sekelasku dikeluarkan dari sekolah,” ucapnya sendu.

Hmm... itu rupanya masalah dia. Aku tersenyum lembut. Ingin menenangkan perasaannya. Rupanya ia kehilangan seorang teman yang entah apa masalahnya.

“Memang kenapa dengan temanmu, Kak?” Aku mencoba bersimpati dengan keadaan temannya itu.

“Ketahuan sekolah, dia lagi hamil, Bu.”

Seketika itu juga senyumku hilang. Perutku terasa mulaasss sekali. Ya Allah, Ya Rabbana...

Sejenak aku merasa bingung. Semua kata yang tadi aku siapkan untuk menghibur gadisku menguap seketika. Pikiran dan perasaanku berhasil dikuasai oleh kabar mengerikan itu. Ya memang, itu tidak terjadi pada anakku. Tapi...tapi... teman sekelasnya, tetaplah begitu mengerikan bagiku. Dan aku tidak pernah mau membayangkan hal yang lebih mengerikan dari itu.

Aku paham sekarang kacaunya perasaan gadisku. Ternyata aku pun seperti itu. Gadisku yang ceria menjalani hari-harinya dengan bermain dan belajar, kini disentakkan oleh kenyataan ternyata teman yang satu umur dengannya, sama-sama berseragam putih abu, dalam waktu yang tidak lama lagi akan  melahirkan seorang bayi. Oh God....

Kenapa semua itu bisa terjadi?

Bagaimana hal sejauh itu bisa terjadi?

Bagaimana mulainya?

Apakah semudah itu?

Pasti pertanyaan-pertanyaan itu yang tadi kulihat di matanya. Berkecamuk dalam pikirannya hingga dia seperti limbung. Tentu akulah yang dia harapkan sebagai pegangannya.

“Kakak tahu apa saja mengenai teman Kakak itu?” Aku segera memosisikan diri lagi sebagai teman bicaranya.

“Nggak tahu banyak sih. Lagi pula sekolah seperti menutup-nutupi. Tapi teman-teman yang tahu sih bilang kalau dia hamil itu sama pacarnya.”

“Masya Allah... Itulah bahayanya pacaran, Kak. Pantas saja dalam Al Qura’an sudah disebutkan bahwa kita sebagai muslim janganlah mendekati zina. Jangankan zina, mendekati saja jangan. Bukankah pacaran itu perbuatan mendekati zina?” tanyaku mencoba memancing reaksi Kakak.

“Tapi teman-temanku banyak yang punya pacar lho, Bu.”

“Ibu juga prihatin dengan keadaan sekarang, Kak. Dalam pandangan masyarakat kita secara umum, pacaran sudah seperti perbuatan biasa. Padahal resikonya sungguh besar. Ibu harap kamu tidak terpengaruh oleh lingkungan yang salah.”

“Insya Allah nggak, Bu. Kakak sudah bisa membedakan yang benar dan yang salah.”

“Alhamdulillah. O,ya Kak, Ibu ingin menyampaikan sebuah hadits yang mudah-mudahan dengan hadits ini, Kakak semakin berpegang teguh kepada kebenaran.”

“Apa haditsnya gitu?”

“Sebentar, Ibu bacakan:

“Dari Nabi SAW, beliau bersabda:  

“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: 
  1. Pemimpin yang adil, 
  2. pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), 
  3. seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya), 
  4. dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 
  5. seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: “Aku takut kepada Allah”, 
  6. seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, 
  7. dan seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.” 
(HR Bukhari)

“Hari yang tidak ada naungan itu maksudnya hari kiamat, ya Bu?”

“Iya, saat manusia dikumpulkan di alam mahsyar. Di sana jarak matahari sangat dekat dengan kepala-kepala manusia. Menurut keterangan kira-kira hanya 1-2 mil saja. Terbayang panasnya, bukan?”

“Iya, Bu.”

“Nah, dari sekian banyak manusia yang terpanggang panas matahari itu ada tujuh golongan yang oleh Allah diberi naungan sehingga mereka tidak merasa kepanasan. Di sini Ibu mau menggaris bawahi satu golongan yaitu pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Jadi Kak, mereka itu para pemuda yang seumur dengan Kakak saat ini. Yang dalam masa tumbuhnya begitu banyak godaan. Namun mereka tetap istiqomah dalam ketaatan kepada Allah Swt.”

“Apakah mereka itu para pemuda yang sepanjang waktu sholat terus, Bu?”

“Ya, bukan dong. Ibadah itukan ada hablumminalloh dan hablumminanas. Artinya bentuk ibadah bukan hanya sekedar ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji saja. Tapi kamu belajar yang rajin, berbakti pada orang tua, sayang pada saudara, berbuat baik pada semua ciptaan Allah, itu juga ibadah.”

“Oh gitu ya...”

“Iya. Ibu harap banget dari Kakak supaya Kakak bisa menjaga diri untuk tetap menjadi muslim yang istiqomah. Tidak terpengaruh oleh lingkungan yang salah. Meskipun semua teman-teman Kakak melakukannya. Kalau menurut Allah salah, ya tetap salah. Jangan diikuti. Demi apa, Kak?”

“Demi keselamatan masa depan Kakak sendiri.”

“Iya, masa depan di dunia dan akhirat kita.”

Begitulah perbincangan antara aku dan anak gadisku, setelah kabar yang mengerikan itu. Meskipun dengan segunung kekhawatiran hinggap di hatiku namun aku coba untuk tetap mempercayainya. Selebihnya aku pasrahkan kepada Allah. Hanya Dia-lah yang bisa menjaga anak-anakku di mana pun mereka berada. Kita sebagai orang tuanya hanya bisa memberitahu, menjaga semampu kita, dan mendoakannya.

Ya Allah lindungilah anak-anak kami. Jangan biarkan syetan mendekati mereka. Hindarkanlah mereka dari kejahatan dan kecelakaan, aamiin...
Baca juga: Menghadapi Anak Usia Remaja

*****
Itu tulisan curahan hati saya 4 tahun lalu, saat Kakak baru menginjak kelas X. Sekarang Kakak sudah kuliah. Sebetulnya hati saya bertambah sakit saat Kakak sudah di kelas XII dan dia cerita lagi pada saya kalau salah satu temannya ikut UN susulan.
“Kenapa nyusul?” tanya saya.
“Nunggu penyembuhan operasi.” jawabnya.
“Hah? Operasi kenapa?” tanyaku kaget. Terbayang di benakku, temannya Kakak mendapatkan kecelakaan parah.
“Operasi caesar habis melahirkan,” jawabnya lagi dengan enteng dan setengah tertawa.
Innalillahi....


Betapa semakin biasanya kejadian ini dialami oleh remaja sekarang hingga Kakak saja tidak merasa kaget lagi mendengarnya. Dan bagi saya itu lebih-lebih menyakitkan. Ya sebelum yang operasi caesar ini dan setelah kejadian teman sekelasnya di kelas X, Kakak mendapat kabar beberapa kali mengenai kejadian serupa dari teman seumurannya. Naudzubillah… Semoga Allah swt. menjauhkan kami dari hal-hal demikian.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...