Senin, 08 April 2013

Jadikan Rendang Sebagai Buah Tangan dari Indonesia

gambar diambil dari sini


Apa yang kita bayangkan tentang rendang

Bagi yang sudah tahu, mungkin akan membayangkan potongan daging sapi berlumur bumbu matang, berwarna coklat kehitaman. Saat dicicipi… akan terasa sensasi gurih dan begitu spicy. Cukup dimakan dengan nasi putih panas, hmmm... tak terkatakan nikmatnya.

Ya, rendang memang sarat dengan bumbu tradisional khas Indonesia, seperti bawang merah, bawang putih, cabe, serai, daun kunyit dan lain-lain. Sudah itu, dicampur pula santan kental yang bikin alamak nyuuus… gurihnya.

Tidak salah kalau pada tahun 2011, rendang pernah dinobatkan sebagai hidangan peringkat pertama dalam daftar World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) yang digelar oleh CNN International. Hebat sekali, bukan?

Masyarakat Indonesia mengenal makanan tradisional ini sebagai makanan khas Suku Minang di Sumatera Barat. Di Sumatera Barat sendiri, rendang berasal dari berbagai kota seperti Kota Padang, Bukittinggi, Solok, Padang Pariaman, Payakumbuh dan lain-lain. Namun, sepertinya peranan rumah makan masakan Padang turun andil dalam mengenalkan jenis makanan ini. Sehingga, meskipun rendang bukan hanya milik masyarakat Kota Padang, tapi kita sudah biasa menyebutnya dengan rendang padang.

Menurut sumber yang pernah saya baca, ternyata rendang tidak hanya sekedar santapan. Melainkan juga memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Minangkabau. Hal ini tergambar dalam empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang.

Bahan pokok pertama, yaitu daging melambangkan para pemimpin suku adat. Bahan pokok kedua, kelapa merupakan lambang kaum intelektual. Sedangkan bahan ketiga yaitu cabai melambangkan alim ulama. Terakhir, bumbu melambangkan keseluruhan masyarakat Minangkabau. Haaa… saya baru tahu hal itu.

Sepertinya ketidaktahuan saya itu bisa dimaklumi. Saya memang terlahir dari orang keturunan suku Sunda. Namun, sejak bersuamikan orang Minang, saya jadi dekat dengan berbagai masakan khas Sumatera Barat, termasuk rendang padang.


Ya, demi menyenangkan suami, saya mencoba belajar mengolah masakan-masakan Padang. Untunglah, suami mau mendampingi saya saat mengolahnya sehingga saya merasa bersemangat melakukannya. Namun, entahlah… Untuk masakan rendang padang, saya tidak pernah benar-benar berhasil membuatnya. Dagingnya masih alot lah, bumbunya kurang kental lah, warnanya pucat lah dan lain-lain.

Akhirnya, untuk tidak mengecewakan suami dan anak-anak yang sudah ketagihan makan rendang padang ini, saya memutuskan untuk membelinya di rumah makan padang. Lumayan menolong sih, tapi sepertinya rendang padang di Bandung ini, taste-nya memang sudah disesuaikan dengan lidah orang Sunda.

Sampai suatu ketika, seorang teman mengenalkan rendang kemasan. Mereknya Randang Padang Restu Mande. Mulanya, saya heran. Saya kira, teman saya itu menjual bumbu rendang.


“Bukan bumbu rendang. Ini rendang asli,” ujar teman saya itu.
“Asli rendang? Ada dagingnya?” tanya saya sangsi.
“Iya. Di dalamnya daging rendang matang. Tinggal disantap. Atau kalau ingin hangat, ya tinggal dipanaskan,” tegas teman saya lagi.


Saya pun memutuskan untuk mencobanya. Soalnya penasaran. Pikir saya, sesuatu yang dikemas itukan biasanya makanan ringan atau yang bersifat instan. Ini kok rendang, makanan berat, kok bisa-bisanya sih dikemas. Saat itu saya hanya membeli satu kotak saja yaitu rendang daging sapi spicy (hot) taste.

Agak deg-degan sih. Khawatirnya, belum-belum, suami sudah mencela. Haha… sebenarnya, ini perasaan saya saja yang tidak pede. Makanya saya bawa rendang tersebut ke dapur dengan diam-diam. Saya buka kotak kardusnya. Di dalamnya benar saja terdapat daging rendang matang berbungkus plastik kedap udara.

Sesuai petunjuk yang tertera dalam kemasan, saya pun mendidihkan air dan merendam bungkusan plastik foodgrade yang berisi rendang tersebut selama 3 menit. Setelah itu, plastiknya saya buka dan saya sajikan di piring.


Saya panggil suami untuk mencicipi rendang tersebut. Apa coba komentarnya?
“Rendang dari mana, Bu? Rasanya, Padang asli,” kata suami saya tersebut.
Mendengar ucapan suami, anak-anak pun berebut untuk mencobanya.
“Eh, rasanya mirip rendang buatan nenek ya,” komentar anakku.
“Iya. Kayak yang waktu kita makan saat lebaran itu,” komentar anakku yang lainnya.

Hihi… terus terang hati saya berbunga-bunga mendengarnya. Barulah setelah itu, saya berani memperlihatkan bungkus dari rendang kemasan tersebut.

Ah, itu sih hanya sekedar pengalaman pribadi saya saja sebenarnya. Secara pribadi, saya memang benar-benar tertolong dengan keberadaan rendang kemasan. Bayangkan saja, rendang, makanan yang diakui kelezatannya nomor satu secara internasional, ternyata begitu mudah didapatkan. Bisa disimpan dalam waktu cukup lama. Bisa dimakan kapan saja tanpa kita perlu ribet memasaknya. Tinggal rebus dengan air mendidih selama 3 menit, maka kita sudah bisa menyantapnya. Benar-benar luar biasa!

Namun lebih dari itu, saya sebenarnya salut pada inovasi yang dibuat oleh Randang Padang Restu Mande.



Saya harap sih dengan inovasi ini, rendang bisa menjadi ikon bangsa Indonesia dalam bidang kuliner di kancah internasional seperti halnya kimchi untuk bangsa Korea. Untuk itu, kita perlu mendukungnya dengan mengenalkan rendang pada setiap orang dengan cara menjadikannya sebagai buah tangan untuk teman atau saudara di berbagai belahan dunia.



15 komentar:

  1. rendangnya enak ya, mba yas? jadi pengen nyobain. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak, Mbak. Gak ada bedanya dengan rendang yang biasa kita makan. Cuma pengemasannya aja yang beda :)

      Hapus
  2. Wah mantap, manyos jadi laper

    BalasHapus
  3. rendang padang memang nikmat. semoga sukses mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi suka rendang juga ya, Mbak.
      Terima kasih ya :)

      Hapus
  4. lihat gambar pembukanya jadi pengenn makan...saya juga suka mbak..sampe bumbunya yang tersisa saya simpan untuk makan di waktu makan berikutnya he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang banget kalo sampai dibuang ya, Mbak. Kalau saya, bumbu sisanya dijadikan bumbu nasi goreng, Mbak :)

      Hapus
  5. Woow rendang, suka banget..
    Kalo makan ke padang, pasti rendang ..

    Sukses ya ngontesnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mak Nchie...
      Sering berkunjung ke Kota Padang ya. Saya paling ke rumah makan padang aja :D

      Hapus
  6. Wee mantap banget emang rendang restu mande :D hehe... buat oleh oleh saudara di luar negeri pas banget

    BalasHapus

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...