Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 November 2018

5 Rumah Makan Favorit Keluarga di Bandung Timur


Warung makan atau restoran favorit saya sih gak jauh-jauh dari rumah. Cuma saking saya dan keluarga terbiasa kesana, eh malah lupa foto-foto. Karena itu, untuk ilustrasinya saya capture saja dari (Mbah) Google Street. Minta tolong ya, Mbah #sungkem 🙏.

Rabu, 10 Mei 2017

Ibu Tidak Pintar Masak




Di budaya timur, sering disebut-sebut salah satu kriteria seorang isteri atau seorang ibu yang baik itu pintar masak. Terus terang, pencitraan seperti ini sering membuat saya terbebani. Pasalnya saya tidak pintar masak, tidak begitu suka berlama-lama di dapur, pokoknya tidak ada minat yang tinggi pada dunia masak-memasak. Sebelumnya saya luruskan dulu ya. Saya tidak suka aktivitas memasak bukan berarti saya tidak masak untuk keluarga saya. Saya masak kok semampu saya. Tapi perkembangannya ya mungkin jauh sih kalau dibandingkan dengan ibu-ibu yang suka memasak.
Saya suka mikir-mikir apakah saya salah karena tidak suka aktivitas memasak? Akhirnya saya mengingat-ingat kehidupan masa lalu saya untuk menemukan jawabannya.
Dulu, sejak ibu saya tidak punya pembantu, di rumah kami dibagi-bagi tugas. Saya sebagai anak sulung bertugas mencuci baju dan setrika, sedangkan adik perempuan saya bertugas membantu memasak di dapur. Bisa jadi hal inilah yang menyebabkan saya tidak bisa memasak dan akhirnya tidak suka aktivitas memasak. Seingat saya, saat saya remaja saya hanya bisa menggoreng telur, masak mie instan dan agar-agar.
Untunglah ketika keluar kuliah, saya pernah bergabung dengan teman-teman yang mendirikan warung makan. Di situ saya baru tahu bahwa masakan Indonesia itu memiliki bumbu dasar. Bawang merah, bawang putih, garam itu ada di hampir semua masakan Indonesia. Selebihnya bisa cabe, bisa kunyit, bisa ketumbar, tergantung jenis masakannya.
Itu yang pertama. Hal keduanya adalah soal takaran dan komposisi. Awalnya saya hanya bantu potong-potong bahan saja. Tidak pernah sekalipun berani memasukan bumbu walaupun hanya sejumput garam. Terlebih menentukan komposisi bahan, pada sambal misalnya. Saya tidak tahu untuk seporsi sambal itu, cabenya segimana, gulanya segimana, garamnya segimana, dan seterusnya. Blank pokoknya.
Dari membantu teman itu alhamdulillah...akhirnya sedikit demi sedikit saya belajar rumus rasa. Saya mulai tahu kalau bahan A dicampur bahan B, jadinya memiliki rasa C. Kalau nyicip rasa D itu terkandung bahan E, F dan G, dan sebagainya. Hihi...baru tahu ternyata pekerjaan masak itu menyangkut juga soal perasaan, tidak berhenti di takaran.
Pas pulang kampung, saya memasak tumis asin cumi cabai hijau. Asal tahu saja, ayah saya sampai sujud syukur saya bisa masak sesuatu haha...😂. Sampai sekarang, ayah selalu kangen dengan masakan pertama putrinya itu. Sebetulnya waktu itu saya masih santai soal masak-memasak. Soalnya kan gak ada yang maksa saya mesti masak. Namun pas saya nikah, di situ saya baru sadar bahwa ternyata memasak itu merupakan bagian dari berumah tangga. Ya kalau bukan saya yang masak, siapa lagi? Suami kan udah jelas pergi pagi pulang sore. Haduuh...
Meski begitu untunglah saya tidak sepolos dulu lagi. Pengetahuan tentang bumbu dasar dan rumus rasa sangat membantu. Namun supaya saya punya pegangan, saya minta adik saya menulis beberapa resep sederhana yang biasa dia masak di rumah. Sampai beberapa tahun, buku kecil berisi resep tulisan adik saya itu selalu setia menemani. Terselip manis di antara toples garam dan merica. Di dalamnya tertulis antara lain resep tumis kangkung, sayur asem, dan pepes tahu. Semuanya sih ada sekitar selusin resep. Lumayan lah diputer-puter hehe...
Semakin kesini saya coba resep-resep yang lain. Yang praktis-praktis saja sih. Ada lauk pauk seperti teriyaki, sup bola daging, berbagai tumisan dan lain-lain. Ada juga penganan-penganan semacam resep pancake sederhana, berbagai macam puding atau cake. Tapi ya jarang-jarang juga 😅.
Sebetulnya keluarga jarang protes dengan rasa masakan saya. Saya pikir mungkin lidah mereka sudah terbiasa saja dengan racikan bumbu masakan saya. Namun saya masih suka tidak pede membawa masakan keluar rumah. Misalnya pas acara potluck (botram/mayoran) bersama tetangga, saya lebih sering bawa buah, puding, minuman atau makanan jadi saja.
Nah, yang tadi itu buat masak sehari-hari. Untuk hari raya kayak idul fitri sih saya usahakan masak lebih spesial. Ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, semur daging sapi pasti saya bikin. Kalau idul adha ya saya bikin gulai, sate dan acar. Meskipun saya jarang-jarang masak besar, alhamdulillah sih jarang gagal. Pokoknya soal rumus rasa itu memang bener-bener penting.
Jadi kenapa saya tetap mengklaim tidak suka aktivitas memasak? Jawabannya, mungkin karena tidak semua manusia diciptakan Tuhan harus suka memasak hehehe...💃💃💃

Senin, 09 Januari 2017

Teriyaki Favorit Keluarga




Ini nih, salah satu lauk favorit keluargaku! Teriyaki!
Menurut wikipedia, teriyaki adalah makanan Jepang yang dimasak dengan cara dipanaskan atau dipanggang dengan menggunakan kecap, sake, dan gula/madu. Sedangkan asal kata dari teriyaki yaitu teri dan yaki. Teri artinya bersinar (mungkin karena mengkilap yang berasal dari kecap) dan yaki artinya dibakar atau dipanggang. Bahan makanan yang biasa digunakan seperti ikan, daging atau tahu.
Saya sendiri biasa menggunakan bahan dasar daging sapi. Sedangkan untuk bumbunya, saya pakai bumbu teriyaki instan yang sudah ada label halalnya. Untuk bumbu-bumbu tambahannya nanti saya share di bawah ya.
Sebetulnya saya gak sering-sering juga masak makanan ini karena bahannya yang dominan daging. Sudah pada tahu kan harga daging sekilonya hehe... Paling sering sih pas hari raya qurban di mana stok daging cukup banyak. Bisa karena pas ada rejeki qurban sendiri atau dikasih saudara dan tetangga yang qurban.
Oya disclaimer satu lagi (sebelum ada yang protes), terus terang saya bukan seorang ibu yang jago masak. Bisa bikin masakan sederhana pun, baru setelah nikah. Itupun berakibat pada kesepuluh jari saya berbalut hansaplast haha... Tapi demi nyenengin keluarga, diusahakanlah ya. Jadi, jika para mastah cooking menemukan proses-proses yang dirasa ‘ajaib’ dalam pengolahan masakan ini, mohon dimaafkeun saja yah. InsyaAllah kritik dan saran membangun (membangun apaan? Jelas-jelas memasak), saya terima dengan senyum paling manis.
Oke tidak usah berpanjang-panjang lagi ya, Mak. Saya langsung share cara sederhana membuat teriyaki yang enak.


Bahan:
·         Daging sapi ½ kg
·         Bawang merah 5 buah
·         Bawang putih 2 buah
·         Jahe 3-4 cm
·         Bawang bombay 1 buah (ukuran besar)
·         Paprika hijau 1 buah (bisa diganti cabai hijau 4 buah)
·         Bumbu teriyaki instan (3 sachet)
·         Air 1 liter

Cara membuat:
·         Cuci daging dan potong sebesar jari


·         Kupas jahe dan iris tipis, siapkan bumbu teriyaki 2 sachet


·         Lumuri daging dengan irisan jahe dan bumbu, sisihkan


·         Haluskan bawang merah dan bawang putih, kupas dan iris tipis bawang bombay


·         Potong paprika memanjang (kalau cabe hijau rajang kasar)


·         Tumis bawang merah, bawang putih dan bawang bombay (untuk bawang bombay setengahnya saja)


·         Masukan daging dan tumis hingga berwarna coklat


·       Masukan paprika setengahnya saja dan tumis hingga layu. Tambahkan air, biarkan hingga mendidih dan air hampir surut.


 
·         Masukan 1 sachet bumbu teriyaki,  irisan bawang bombay dan paprika yang setengahnya lagi


·         Aduk hingga airnya benar-benar surut dan mengental, angkat dan hidangkan panas-panas


Nah gitu aja sih, Mak. Mudah, cepat dan enak. Sayangnya masak kali ini ada sedikit gagal. Paprikanya lupa gak dibagi dua, tapi dimasukin semuanya pas di awal. Jadinya terlalu layu. Diperbaiki deh pas masak lagi. Tapi yang ini rasanya insyaAllah enak. Cuma kurang di penampilan saja.
Oiya, berbagi sedikit pengalaman, aku lebih suka potong dagingnya pakai gunting. Soalnya pisau di rumahku pada tumpul dan males ngasahnya haha... Terus seringnya juga gak pakai paprika tapi pakai cabai ijo karena anak-anak suka rasa yang lebih pedas. Padahal pake paprika itu rasanya lebih sip dan terlihat lebih asli teriyakinya haha... Tapi alasan gak pake paprika itu sebenarnya sih susah dapetnya di warung sayur sebelah, mesti ke supermarket hehe... Oya, untuk bawang bombaynya, kalau ukurannya kecil-kecil bisa pakai 2 butir saja. Satu butir untuk ditumis di awal dan satu lagi dimasukan terakhir.
Demikian Mak, semoga bermanfaat ya. Happy Cooking :)

Sabtu, 29 Oktober 2016

[SPONSORED] GIZI TAMBAHAN UNTUK ANAK TIDAK SUKA NASI



Memiliki anak yang tidak suka nasi memang bikin deg-degan. Setiap ibu ingin anaknya sehat, makannya banyak, tidak pemilih makanan (picky eater). Kenyataannya Ade, anak bontot saya yang hampir menginjak usia 7 tahun ini tidak suka nasi. Tentunya keadaan seperti ini membuat saya pusing tujuh keliling. Padahal Ade, anaknya aktif sekali. Berbagai upaya dilakukan dari mulai membujuk, mengolah beras dalam bentuk lain, hingga konsultasi ke dokter ahli.

Ade anaknya aktif
Saya mulai mengenalkan nasi pada Ade di usia 1 tahun dan dia tidak menolak. Mulai umur 1 tahun itu, saya biasa menyuapi Ade dengan nasi yang dicampur kuah sup supaya mudah ditelan. Namun, ketika Ade menginjak usia 2 tahun, dia memuntahkan nasi dari mulutnya. Mula-mula Ade mengecap-ngecap tiap butiran nasi di lidahnya. Sesudah itu dia langsung mengeluarkan semuanya ke lantai. Sejak saat itu, Ade selalu menutup mulutnya jika saya menyodorkan nasi ke depan mulutnya.

Semakin besar, ketidaksukaan Ade pada nasi semakin parah. Dari yang awalnya tidak mau makan nasi, berkembang jadi takut dan jijik pada nasi. Jika di lantai ada nasi, maka Ade lebih baik berjalan memutar daripada harus berpapasan atau malah menginjak nasi. Jika kami sekeluarga makan di rumah makan, maka Ade akan memilih meja kosong menghindari meja kami yang pasti tersaji nasi. Dan jika Ade pulang ke rumah sedangkan asap penanak nasi sedang mengepul-ngepulnya karena sebentar lagi nasi di dalamnya akan matang, maka Ade akan berteriak, “bau apa, ini?!!!”

Saya pernah mengkonsultasikan masalah ini pada dokter. Namun dokter malah menegur saya. Dokter bilang, “Karbohidrat itu bermacam-macam, Bu. Tidak hanya nasi. Ibu jangan mau mudahnya saja. Cobalah kreatif mengolah bahan makanan lain yang gizinya setara dengan nasi.”

Weleh...weleh...malah ibunya dibilang nggak mau susah :D

Ade suka berbagai jenis makanan seperti pisang dan tahu, kecuali nasi
Melihat keadaan Ade, suamiku pernah bilang bahwa kasus Ade itu lebih gampang dibanding anak yang tidak suka sayur dan buah. Jika anak tidak mau nasi, maka masih banyak sumber karbohidrat dari makanan lain yang bisa diberikan pada anak. Tapi kalau anak tidak suka sayur dan buah, kita harus menggantinya dengan apa?

Mendengar ucapan suami, saya cukup terhibur dan kembali bersemangat. Ya, Ade memang tidak suka ‘cuma’ nasi. Tapi selain nasi, dia suka makan apa saja. Singkong, jagung, ubi, pasta, roti, mie, wortel, bunga kol, buncis, tahu, tempe, ikan, daging serta segala jenis buah seperti pisang, semangka, apel, nanas, nangka, dan banyak lagi. Jadi saya sebetulnya tidak perlu khawatir.

Sekarang Ade menginjak kelas 1 SD. Sekolahnya menerapkan sistem full day system. Masuk pukul 8.00 dan selesai pukul 16.00. Otomatis dia makan siang di sekolah. Nah, kondisi ini yang membuatku kembali khawatir. Sekolah tentu tidak mengistimewakan salah seorang yang berbeda. Kondisi anak dipukul rata. Makanan pokoknya semua nasi. Pada akhirnya Ade hanya memakan lauk, sayur dan buahnya saja.

Karbohidrat pengganti nasi: perkedel kentang, ubi dan jagung rebus
Saya berusaha membuatkan bekal untuk Ade supaya kebutuhan karbohidratnya terpenuhi. Namun mungkin karena penampilannya sudah tidak menarik atau sudah dingin, membuat Ade kehilangan selera untuk memakannya. Saya benar-benar kesulitan mengontrol makan Ade saat di sekolah. Pada akhirnya saya mencoba memaksimalkan asupan makanan Ade sebelum dia berangkat ke sekolah.

Menurut data yang saya baca, kebutuhan energi anak sekolah dasar (usia 7-12 tahun) berkisar antara 1800-2200 Kkal. Saya pun putar otak untuk mengakalinya. Saat bangun di pagi hari, Ade selalu minta dibuatkan susu. Ade suka sekali susu. Sehari bisa minum susu minimal 3 gelas. Saya beri Ade jenis susu dengan kandungan gizi yang sesuai usianya. Saya baca di kemasan susunya, setiap satu sajian mengandung energi 180 Kkal. Berarti jika Ade minum susu 3 sajian sehari, setidaknya 25% energi Ade sudah terpenuhi. Jika begitu, kini saya harus memikirkan bagaimana sisa yang 75%-nya bisa terpenuhi dari berbagai asupan bergizi lainnya.

Memang sih, bagusnya saya menghitung asupan gizi tidak berdasarkan kalori saja melainkan dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). Tapi bagi saya yang bukan seorang ahli gizi, hal itu masih terasa rumit. Jadi, patokan saya untuk saat ini memastikan yang di makan Ade merupakan bahan-bahan makanan bergizi. Itu saja dulu.

Lanjut ya. Nah, setelah Ade mandi, saya biasa memberikan dia sarapan. Bisa setangkup roti bakar, jagung rebus, pasta, pisang goreng, tahu goreng, apa pun yang tersedia di rumah. Untuk lebih meyakinkan hati saya, saya melengkapi asupan gizi untuk Ade dengan memberinya madu. Saya termasuk orang yang percaya dengan khasiat madu. Saat ini saya memberikan Madu Suplemen Pertumbuhan Anak Grow n Health pada Ade.

Ade suka sekali madu Grow n Health
Ternyata Grow n Health tidak hanya berisi madu murni. Namun merupakan campuran zat-zat gizi yang dibutuhkan anak seperti ekstrak ikan gabus, ekstrak temu lawak dan ekstrak kulit manggis. Karena itu warna cairannya terlihat keruh. Namun rasanya...mmm, bikin Ade ketagihan!

Yuk, kita lihat satu persatu manfaat dari zat-zat yang terkandung dalam Madu Suplemen Pertumbuhan Anak Grow n Health ini.

Madu

foto dari Wikipedia
Madu memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap mulai dari karbohidrat, protein, zat besi, magnesium dan berbagai mineral lainnya. Menurut wikipedia, dalam 100 gr madu terkandung 304 Kkal. Setiap 1 sendok makan madu, itu kira-kira 15 ml atau 23,2 gr. Artinya setiap saya memberikan 1 sendok makan madu pada Ade, berarti kalori yang masuk sekitar 75 kkal. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, sebaiknya madu dikonsumsi 3 X 1 sendok makan setiap sehari.

Ekstrak Ikan Gabus (Albumin)

Ikan gabus (foto dari Wikipedia)
Setelah Ade mengkonsumsi Grow n Health, saya baru tahu lho tentang kandungan gizi dari ikan gabus. Ternyata ikan gabus itu memiliki kadar protein yang sangat tinggi. Untuk 100 gram ikan gabus terdapat 25,2 gram protein. Dalam jumlah yang sama (100 gram), kandungan protein pada daging ayam hanya 18,2 gram, pada daging sapi 18,8 gram dan pada telur 12,8 gram.

Salah satu jenis protein yang banyak terdapat pada ikan gabus yaitu albumin. Albumin bermanfaat dalam proses penyembuhan luka dan menjaga kestabilan kadar cairan dalam tubuh. Wuiiih...penting banget ya fungsi ‘Si Albumin’ ini.

Ekstrak Temulawak

Temulawak (foto dari Wikipedia)
Khasiat temulawak sudah dikenal sejak dahulu. Para orang tua kita sering memberikannya pada anak-anak supaya menambah nafsu makan. Kini para ahli sudah melakukan penelitian dan menemukan bahwa pada temulawak terdapat satu zat penting bernama curcumin. Curcumin ini memiliki beragam manfaat seperti membantu melindungi kerusakan sel-sel, menyembuhkan peradangan dan membantu fungsi pencernaan. Di dunia medis sendiri, curcumin ini diketahui memiliki efek analgesik, antioksidan dan antiinflamasi sehingga dapat membantu penyembuhan penyakit liver.

Ekstrak Kulit Manggis

Manggis (foto dari Wikipedia)
Beberapa waktu lalu booming sekali soal kulit manggis ini. Menurut penelitian, ternyata dalam kulit manggis terdapat kandungan zat xanthone yang berguna mencegah perkembangan sel kanker. Kanker memang merupakan salah satu penyakit yang menakutkan. Bisa datang pada siapa saja, kapan saja dan di usia berapa pun. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika kita rutin meminum ekstrak kulit manggis ini dalam kadar yang tepat. Selain itu, kulit manggis juga bermanfaat mencegah diare dan merawat kulit.

Nah, itu ternyata kandungan dari madu Grow n Health. Oya, seperti yang tertulis di kemasannya, semua bahan baku Grow n Health sudah melalui proses seleksi dan melalui proses sertifikasi halal dan keamanan pangan. Jadi saya merasa lebih yakin menggunakannya. Kini, Ade sudah menghabiskan setengah botol Grow n Health. Alhamdulillah, dia suka dan kesehatannya pun terjaga bahkan di cuaca buruk seperti sekarang ini.

Bagi bunda yang ingin mengetahui penjelasan lebih lengkap tentang madu Grow n Health ini, bisa melalui:


Instagram: grownhealth


Facebook Page: GrowNHealth

Twitter: GrowNHealth

Sedangkan bagi yang berminat memesan produknya dan ingin mendapatkan harga diskon 10%, bisa melalui:

WA: 087834464222

BBM: D29550E4 (0=nol)

Jangan lupa menyertakan kode: KBGNH19


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...