Tampilkan postingan dengan label kisah anakku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah anakku. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Ayo Bikin Slime!



Sejak hari minggu siang kemarin, saya baru ngeh kalau Ade kena cacar. Hari sabtunya suhu tubuh Ade memang lumayan tinggi. Saya kira hanya panas biasa saja. Jadi saya beri obat penurun panas. Besoknya suhu badan Ade menurun, tapi malah bermunculan bintil-bintil kecil di sekujur tubuhnya. Ternyata Ade kena cacar air. Gak heran sih, soalnya beberapa hari sebelumnya wabah cacar ini sudah ramai dibicarakan para orang tua murid teman sekelas Ade di grup WA. Beberapa teman Ade sudah terkena cacar duluan. Waduuh...padahal hari seninnya kan UAS. Ya sudahlah, izin susulan saja.
Kasihan banget, Ade. Mukanya sampai blepotan Caladine
Hari ini, hari senin jadilah Ade nemenin saya di rumah. Namanya anak bawaan gak mau diam, dikasih sakit gitu ya tetep gak mau diam juga. Pengennya ditemenin dan dilayanin terus. Pas dia buka laptop ayahnya, saya sudah seneng. Wah, alamat dia bakal anteng nih. Eh, ternyata tetep saja ada maunya. Dia nyalain laptop ayahnya dan muter video-video youtube yang menayangkan hampir semua tutorial slime. Mulutnya terus saja ngoceh, “Lihat, Bu. Mudah kok, Bu. Ayo, bikin Bu.”
Saya yang baru habis sakit dan tubuh masih terasa lemas akhirnya memutuskan, “Baiklah. Ayo kita happy-happy saja. Rumah berantakan urusan nanti. Yang penting kita sudah makan, haha...”
Saya menyerah ikut keinginan Ade dengan harapan dia bakal anteng setelah dibikinin slime. Saya pun lihat sebentar tutorialnya. Ya, ternyata caranya memang cukup sederhana. Bahan-bahannya pun mudah di dapat. Bahan yang sudah ada di rumah: lotion dan sabun cair. Kebetulan sebulan yang lalu dikasih lotion sama tantenya anak-anak. Sabun cair juga hadiah dari pembalut, haha...
Yang kurangnya tinggal: lem dan obat tetes mata. What? Iya, obat tetes mata. Fungsinya apa? Alaah...ikutin saja haha...
Pertama, siapkan dulu bahan-bahannya:


  1. Air
  2. Lem cair (saya pakai merk Povinal) 
  3. Obat tetes mata
  4. Body Lotion
  5. Sabun mandi cair

Cara membuatnya:

  • Masukan air sebanyak 2 sendok makan ke mangkok plastik/melamin
  • Tambahkan 2 botol lem cair/ 2 sendok makan lem putih Pvc (saya lebih suka pakai lem cair karena tekstur slime jadi lebih kenyal) 
  • Aduk hingga tercampur
  • Tambahkan Body Lotion 1 sendok makan, aduk hingga bercampur
  • Tambahkan setengah botol obat tetes mata, aduk merata
  • Tambahkan 1 sendok makan sabun mandi cair, aduk hingga adonan tidak menempel ke wadah
  • Jika masih menempel ke wadah atau malah berbusa, masukan obat tetes mata sisanya
  • Terus aduk hingga kalis
  • Setelah kalis, teteskan pewarna makanan dan aduk lagi hingga warna tercampur merata

Nah, slimenya jadi deh!
Pada awalnya, slime masih terasa lembek. Tidak apa-apa jusru di situ serunya. Yang penting kalis, artinya slime bisa dilepaskan dari telapak tangan. Lama kelamaan slime akan semakin mengeras. Jika kita ingin slime yang lebih lembek lagi, rendam saja di air hangat. Kira-kira 5 menit, angkat dan mainkan kembali.
Selamat mencoba dan selamat bersenang-senang!

Doakan juga biar Ade cepat sembuh dan sehat selalu yaa....

Sabtu, 29 Oktober 2016

[SPONSORED] GIZI TAMBAHAN UNTUK ANAK TIDAK SUKA NASI



Memiliki anak yang tidak suka nasi memang bikin deg-degan. Setiap ibu ingin anaknya sehat, makannya banyak, tidak pemilih makanan (picky eater). Kenyataannya Ade, anak bontot saya yang hampir menginjak usia 7 tahun ini tidak suka nasi. Tentunya keadaan seperti ini membuat saya pusing tujuh keliling. Padahal Ade, anaknya aktif sekali. Berbagai upaya dilakukan dari mulai membujuk, mengolah beras dalam bentuk lain, hingga konsultasi ke dokter ahli.

Ade anaknya aktif
Saya mulai mengenalkan nasi pada Ade di usia 1 tahun dan dia tidak menolak. Mulai umur 1 tahun itu, saya biasa menyuapi Ade dengan nasi yang dicampur kuah sup supaya mudah ditelan. Namun, ketika Ade menginjak usia 2 tahun, dia memuntahkan nasi dari mulutnya. Mula-mula Ade mengecap-ngecap tiap butiran nasi di lidahnya. Sesudah itu dia langsung mengeluarkan semuanya ke lantai. Sejak saat itu, Ade selalu menutup mulutnya jika saya menyodorkan nasi ke depan mulutnya.

Semakin besar, ketidaksukaan Ade pada nasi semakin parah. Dari yang awalnya tidak mau makan nasi, berkembang jadi takut dan jijik pada nasi. Jika di lantai ada nasi, maka Ade lebih baik berjalan memutar daripada harus berpapasan atau malah menginjak nasi. Jika kami sekeluarga makan di rumah makan, maka Ade akan memilih meja kosong menghindari meja kami yang pasti tersaji nasi. Dan jika Ade pulang ke rumah sedangkan asap penanak nasi sedang mengepul-ngepulnya karena sebentar lagi nasi di dalamnya akan matang, maka Ade akan berteriak, “bau apa, ini?!!!”

Saya pernah mengkonsultasikan masalah ini pada dokter. Namun dokter malah menegur saya. Dokter bilang, “Karbohidrat itu bermacam-macam, Bu. Tidak hanya nasi. Ibu jangan mau mudahnya saja. Cobalah kreatif mengolah bahan makanan lain yang gizinya setara dengan nasi.”

Weleh...weleh...malah ibunya dibilang nggak mau susah :D

Ade suka berbagai jenis makanan seperti pisang dan tahu, kecuali nasi
Melihat keadaan Ade, suamiku pernah bilang bahwa kasus Ade itu lebih gampang dibanding anak yang tidak suka sayur dan buah. Jika anak tidak mau nasi, maka masih banyak sumber karbohidrat dari makanan lain yang bisa diberikan pada anak. Tapi kalau anak tidak suka sayur dan buah, kita harus menggantinya dengan apa?

Mendengar ucapan suami, saya cukup terhibur dan kembali bersemangat. Ya, Ade memang tidak suka ‘cuma’ nasi. Tapi selain nasi, dia suka makan apa saja. Singkong, jagung, ubi, pasta, roti, mie, wortel, bunga kol, buncis, tahu, tempe, ikan, daging serta segala jenis buah seperti pisang, semangka, apel, nanas, nangka, dan banyak lagi. Jadi saya sebetulnya tidak perlu khawatir.

Sekarang Ade menginjak kelas 1 SD. Sekolahnya menerapkan sistem full day system. Masuk pukul 8.00 dan selesai pukul 16.00. Otomatis dia makan siang di sekolah. Nah, kondisi ini yang membuatku kembali khawatir. Sekolah tentu tidak mengistimewakan salah seorang yang berbeda. Kondisi anak dipukul rata. Makanan pokoknya semua nasi. Pada akhirnya Ade hanya memakan lauk, sayur dan buahnya saja.

Karbohidrat pengganti nasi: perkedel kentang, ubi dan jagung rebus
Saya berusaha membuatkan bekal untuk Ade supaya kebutuhan karbohidratnya terpenuhi. Namun mungkin karena penampilannya sudah tidak menarik atau sudah dingin, membuat Ade kehilangan selera untuk memakannya. Saya benar-benar kesulitan mengontrol makan Ade saat di sekolah. Pada akhirnya saya mencoba memaksimalkan asupan makanan Ade sebelum dia berangkat ke sekolah.

Menurut data yang saya baca, kebutuhan energi anak sekolah dasar (usia 7-12 tahun) berkisar antara 1800-2200 Kkal. Saya pun putar otak untuk mengakalinya. Saat bangun di pagi hari, Ade selalu minta dibuatkan susu. Ade suka sekali susu. Sehari bisa minum susu minimal 3 gelas. Saya beri Ade jenis susu dengan kandungan gizi yang sesuai usianya. Saya baca di kemasan susunya, setiap satu sajian mengandung energi 180 Kkal. Berarti jika Ade minum susu 3 sajian sehari, setidaknya 25% energi Ade sudah terpenuhi. Jika begitu, kini saya harus memikirkan bagaimana sisa yang 75%-nya bisa terpenuhi dari berbagai asupan bergizi lainnya.

Memang sih, bagusnya saya menghitung asupan gizi tidak berdasarkan kalori saja melainkan dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). Tapi bagi saya yang bukan seorang ahli gizi, hal itu masih terasa rumit. Jadi, patokan saya untuk saat ini memastikan yang di makan Ade merupakan bahan-bahan makanan bergizi. Itu saja dulu.

Lanjut ya. Nah, setelah Ade mandi, saya biasa memberikan dia sarapan. Bisa setangkup roti bakar, jagung rebus, pasta, pisang goreng, tahu goreng, apa pun yang tersedia di rumah. Untuk lebih meyakinkan hati saya, saya melengkapi asupan gizi untuk Ade dengan memberinya madu. Saya termasuk orang yang percaya dengan khasiat madu. Saat ini saya memberikan Madu Suplemen Pertumbuhan Anak Grow n Health pada Ade.

Ade suka sekali madu Grow n Health
Ternyata Grow n Health tidak hanya berisi madu murni. Namun merupakan campuran zat-zat gizi yang dibutuhkan anak seperti ekstrak ikan gabus, ekstrak temu lawak dan ekstrak kulit manggis. Karena itu warna cairannya terlihat keruh. Namun rasanya...mmm, bikin Ade ketagihan!

Yuk, kita lihat satu persatu manfaat dari zat-zat yang terkandung dalam Madu Suplemen Pertumbuhan Anak Grow n Health ini.

Madu

foto dari Wikipedia
Madu memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap mulai dari karbohidrat, protein, zat besi, magnesium dan berbagai mineral lainnya. Menurut wikipedia, dalam 100 gr madu terkandung 304 Kkal. Setiap 1 sendok makan madu, itu kira-kira 15 ml atau 23,2 gr. Artinya setiap saya memberikan 1 sendok makan madu pada Ade, berarti kalori yang masuk sekitar 75 kkal. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, sebaiknya madu dikonsumsi 3 X 1 sendok makan setiap sehari.

Ekstrak Ikan Gabus (Albumin)

Ikan gabus (foto dari Wikipedia)
Setelah Ade mengkonsumsi Grow n Health, saya baru tahu lho tentang kandungan gizi dari ikan gabus. Ternyata ikan gabus itu memiliki kadar protein yang sangat tinggi. Untuk 100 gram ikan gabus terdapat 25,2 gram protein. Dalam jumlah yang sama (100 gram), kandungan protein pada daging ayam hanya 18,2 gram, pada daging sapi 18,8 gram dan pada telur 12,8 gram.

Salah satu jenis protein yang banyak terdapat pada ikan gabus yaitu albumin. Albumin bermanfaat dalam proses penyembuhan luka dan menjaga kestabilan kadar cairan dalam tubuh. Wuiiih...penting banget ya fungsi ‘Si Albumin’ ini.

Ekstrak Temulawak

Temulawak (foto dari Wikipedia)
Khasiat temulawak sudah dikenal sejak dahulu. Para orang tua kita sering memberikannya pada anak-anak supaya menambah nafsu makan. Kini para ahli sudah melakukan penelitian dan menemukan bahwa pada temulawak terdapat satu zat penting bernama curcumin. Curcumin ini memiliki beragam manfaat seperti membantu melindungi kerusakan sel-sel, menyembuhkan peradangan dan membantu fungsi pencernaan. Di dunia medis sendiri, curcumin ini diketahui memiliki efek analgesik, antioksidan dan antiinflamasi sehingga dapat membantu penyembuhan penyakit liver.

Ekstrak Kulit Manggis

Manggis (foto dari Wikipedia)
Beberapa waktu lalu booming sekali soal kulit manggis ini. Menurut penelitian, ternyata dalam kulit manggis terdapat kandungan zat xanthone yang berguna mencegah perkembangan sel kanker. Kanker memang merupakan salah satu penyakit yang menakutkan. Bisa datang pada siapa saja, kapan saja dan di usia berapa pun. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika kita rutin meminum ekstrak kulit manggis ini dalam kadar yang tepat. Selain itu, kulit manggis juga bermanfaat mencegah diare dan merawat kulit.

Nah, itu ternyata kandungan dari madu Grow n Health. Oya, seperti yang tertulis di kemasannya, semua bahan baku Grow n Health sudah melalui proses seleksi dan melalui proses sertifikasi halal dan keamanan pangan. Jadi saya merasa lebih yakin menggunakannya. Kini, Ade sudah menghabiskan setengah botol Grow n Health. Alhamdulillah, dia suka dan kesehatannya pun terjaga bahkan di cuaca buruk seperti sekarang ini.

Bagi bunda yang ingin mengetahui penjelasan lebih lengkap tentang madu Grow n Health ini, bisa melalui:


Instagram: grownhealth


Facebook Page: GrowNHealth

Twitter: GrowNHealth

Sedangkan bagi yang berminat memesan produknya dan ingin mendapatkan harga diskon 10%, bisa melalui:

WA: 087834464222

BBM: D29550E4 (0=nol)

Jangan lupa menyertakan kode: KBGNH19


Sabtu, 26 Maret 2016

Kenali Anak Karena Setiap Anak Berbeda


 Bulan maret 2016 ini, putra saya Hamzah meraih juara 1 Kompetisi Sains Madrasah (KSM) untuk Tsanawiyah tingkat Kota Bandung di Bidang Fisika. Hamzah pun berhak maju ke KSM tingkat provinsi pada bulan mei mendatang. Prestasi yang Hamzah raih pernah juga dirasakan oleh kakaknya Hamzah, yaitu Husna. Bahkan Husna berhasil melaju hingga tingkat nasional di bidang fisika ini. Meskipun di tingkat nasional, Husna hanya berhasil meraih medali perak. Karena prestasinya itu, Husna bisa masuk ke SMAN 3 Bandung melalui jalur prestasi.

Saya sebagai ibunya tentu merasa bangga hehe... Ibu mana sih yang tidak bangga jika anaknya berprestasi? Nah, karena foto Hamzah dengan medali emas dan pialanya saya jadikan foto profil facebook, otomatis banyak sekali respon positif yang saya terima. Mulai dari ucapan selamat hingga menanyakan bagaimana cara mendidik anak supaya berprestasi.

Saya sering bingung jika ditanya seperti itu. Pasalnya, saya bukan tipe orang tua yang menyuruh anak supaya belajar terus menerus, les ini-itu dan mesti mengerjakan berbagai soal-soal pelajaran. Tapi bukan pula saya cuek terhadap pendidikan anak. Saya membaca juga buku-buku parenting. Namun bagi saya, pendidikan anak bukan bagaimana mereka hapal berbagai isi pelajaran sekolah dan mendapat nilai tinggi. Bagi saya, pendidikan anak itu adalah memahamkan anak bagaimana dia mengenali dirinya, mengerti tentang kehidupan ini dan dapat menjalaninya dengan baik.
Beberapa buku parenting yang saya baca

Selain tentunya kita mendukung anak dengan kasih sayang, doa dan fasilitas sekemampuan kita, yang saya praktekan di rumah terhadap anak-anak, antara lain seperti ini:

1.      Banyak Ngobrol

Saat anak-anak di rumah, saya lebih banyak ngobrol dengan mereka alih-alih menyuruh mereka membuka buku pelajaran. Bukan...bukan saya menyepelekan pekerjaan rumah dari sekolah. Saya juga mengingatkan jika mereka ada PR. Tapi aktivitas ngobrol bersama anak-anak harus menjadi prioritas. Tidak harus selalu pas kita santai kok. Ada pekerjaan yang bisa disambi saat ngobrol dengan anak. Saya sering ngobrol dengan anak sambil merapikan baju di lemari atau sambil luluran lotion ke tangan dan kaki ;)

Salah seorang teman saya pernah bilang, katanya dia juga sering ngobrol dengan anak tapi masalahnya anak-anak tidak mau dengar. Lalu saya tanya, memang kamu ngomong apa? Jawab teman saya, ya ngasih nasihat.

Haha...tentu saja anak tidak mau dengar. Pasti anak-anak bilang, ibu membosankan, pasti ibu kasih nasihat lagi, sebel, dan lain sebagainya. Yang saya maksud ngobrol itu adalah membicarakan apapun yang menarik minat anak. Jadi, sudut pandangnya adalah sudut pandang anak. Bukan sudut pandang orang tua. Misalnya, anak kita sedang gandrung game. Cobalah pelajari sedikit tentang game itu dan kenapa anak kita begitu tertarik. Nah kita bisa jadikan soal game itu menjadi obrolan yang menarik. Tentu anak-anak akan meresponnya dengan semangat. Barulah kita bisa memasukan nilai-nilai positif di dalamnya tanpa nada menggurui. Misalnya kita mengangkat sisi positif dari game itu seperti melatih ketekunan atau sportifitas. Tentu anak-anak akan bangga jika game kesukaannya dipuji. Lalu ingatkan pula bahwa tugas utama kita adalah belajar jadi ambil manfaatnya dari game tersebut dan jangan sampai mengganggu tugas utama kita. Insya Allah jika kita memberi penghargaan pada aktivitas anak, maka anak akan rela mendengar nasihat kita.

Oya menurut saya, ngobrol antara orang tua dan anak itu berperan juga dalam mencerdaskan anak lho. Tentunya cara ngobrolnya jangan dibiarkan begitu saja tapi harus menghasilkan obrolan berkualitas. Oleh karenanya orang tua harus pandai mengarahkan sehingga obrolan tidak hanya sekedar ngalor-ngidul, kesana-kemari. Misalnya orang tua melemparkan sebuah pertanyaan ke anak seperti, siapa sih teman kalian yang paling populer di kelas, siapakah guru yang paling kalian sukai, atau kemana sih kalian ingin berlibur? Kalau obrolan seperti ini dibiasakan sejak anak kecil, anak akan terbiasa diajak mencerna sebuah pertanyaan dan memikirkan jawabannya. Kemudian kita tanya alasan dari pilihan mereka. Hal ini akan melatih mereka supaya terbiasa membuat alasan atas dasar pemikiran. Insya Allah dari aktifitas ngobrol dengan anak ini akan banyak manfaatnya. Jadi jangan sampai menyepelekannya ya.

2.      Seimbangkan Fungsi Otak Kanan dan Kiri

Masalah fungsi otak kanan dan kiri sudah banyak dibahas di buku, di seminar-seminar pendidikan dan di internet. Jadi silakan teman-teman cari sendiri. Di sini saya hanya ingin cerita mengenai apa yang saya lakukan untuk memaksimalkan fungsi otak kanan dan kiri anak.

Berdasarkan percobaan sederhana, saya diketahui dominan otak kanan dan suami dominan otak kiri. Mungkin tanpa disadari, perlakuan kami terhadap anak berdasarkan dominasi otak yang kami miliki ini membuat anak memiliki keseimbangan di keduanya. Itu baru mungkin ya hehe... Tapi bukan berarti karena saya dominan otak kanan lantas tidak melatih anak menggunakan otak kirinya. Kalau secara teori tahu, ya kenapa tidak dipraktekan, ya kan.

Untuk melatih otak kanan anak, saya sering menyanyikan lagu-lagu di dekat anak. Bahkan tiap anak yang lahir saya buatkan jingle khusus yang memuat nama masing-masing anak. Ketika saya menggendongnya, saya selalu menyanyikan jingle itu. Sampai anak-anak besar, mereka tahu jingle lagunya masing-masing.

Ketika anak sudah menginjak usia balita, saya senang cerita apa saja ke anak-anak. Dongeng, kisah masa kecil, pengalaman orang lain, dan sebagainya. Bercerita pada anak dapat meningkatkan daya imajinasi anak yang merupakan fungsi dari belahan otak kanan.

Sedangkan untuk melatih otak kirinya, saya mengajarkan berbagai hapalan doa dan surat-surat pendek bahkan sejak mereka bayi. Saya tidak menyuruh anak-anak berdiri di depan saya dan membacakan hapalannya. Cukup dengan melapalkan saja pada saat mereka mau masuk dan keluar kamar mandi, saat mau makan, saat mau pergi dan aktivitas lainnya. Untuk hapalan ayat, setiap pagi saya biasa menperdengarkan murottal dari MP3 dan melapalkannya sambil beraktifitas. Selebihnya saya mengajarkan mereka membaca, berhitung dan hal-hal lain yang membutuhkan kemampuan otak kiri.

3.      Karakter, Potensi Anak dan Menempatkannya.

Di sini saya ingin menceritakan tiga orang anak saya dengan karakter yang berbeda-beda dan bagaimana saya memperlakukan mereka sesuai kebutuhan mereka.

Pertama, Kakak Ovi (umur 12 tahun) yang memiliki karakter keras. Tidak ada yang bisa menundukkan Kakak Ovi kecuali dirinya sendiri yang ingin. Karakter ini sering memicu konflik dengan saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya sering mengadu kesal karena Kakak Ovi tidak mau menurut. Sebagai ibunya, saya justru melihat bahwa karakter keras yang dimiliki Kakak Ovi merupakan potensi besar. Saya tidak boleh menghilangkannya dengan mengatakan bahwa kekerasan wataknya itu merupakan kejelekan atau sikap bandel dalam artian negatif. Justru saya harus meyakinkan Kakak Ovi bahwa sikapnya itu merupakan keteguhan hatinya. Sehingga jika digunakan dalam jalan kebenaran, Kakak Ovi akan menjadi pemegang kebenaran yang kuat.

Saya tahu, ucapan dan perlakuan saya terhadapa dirinya sangat membesarkan hatinya. Meskipun dia kerap melakukan kesalahan karena sikap dasarnya itu membuat dia bermasalah dengan saudaranya, tapi dia yakin ibu selalu di sampingnya untuk membantunya menempatkan sikapnya dengan tepat.

Kedua, Abang Awan (umur 9 tahun). Bang Awan sudah menunjukkan kecerdasan intelektualnya sejak kecil. Dia sudah bisa membaca dengan lancar mulai usia 3 tahun. Dia juga sangat suka surfing di internet. Laman yang sering dia kunjungi seperti wikipedia, google maps, detik.com, dan berbagai situs berbasis ilmu pengetahuan dan berita. Tidak heran kalau dia sering menjadi tempat kita bertanya seperti, nama dan arah jalan, kejadian terkini, dan bermacam-macam pengetahuan lainnya. Anaknya cenderung pendiam, jarang mau main di luar dan minim aktivitas fisik. Anehnya ketika Bang Awan kecil ditanya cita-citanya mau jadi apa? Dia menjawab ingin menjadi tentara. Saya benar-benar tidak paham apa yang Bang Awan pikirkan tentang tentara.

Namun sekarang cita-citanya sudah berubah lagi. Hal itu saya ketahui saat pagi-pagi, Bang Awan bilang harus membawa kostum ke sekolah sesuai cita-cita. Saya tanya, memang Bang Awan cita-citanya ingin jadi apa? Dengan mantap Bang Awan menjawab, ingin menjadi Pengusaha Sukses!

Wow...

Melihat karakter Bang Awan yang kutu buku dan cenderung pendiam, saya berupaya memotivasi Bang Awan supaya mau melakukan aktivitas fisik seperti bermain sepeda bersama anak tetangga dan beberapa tugas kecil seperti mencuci sepatu sendiri. Ya dia harus melatih keterampilan sosial dan motoriknya supaya seimbang dengan kemampuan otaknya. Walaupun guru-gurunya mengatakan Bang Awan pintar di semua bidang pelajaran di sekolah dan dapat ranking 1 di kelas, tapi Ibu akan lebih bahagia jika Bang Awan suka ngobrol dan bermain dengan teman-temannya juga. Karena keberhasilan hidup itu tidak hanya ditentukan oleh kepintaran otak saja tapi juga kepintaran bergaul dan bekerja keras.

Ketiga, Ade Yahya (umur 5,5 tahun). Terus terang saya terkaget-kaget mendapati anak seperti Ade Yahya. Sejak bayi dia sering sekali jatuh dari tempat tidur. Di usia dua tahun dia pernah menggelinding dari tangga dan di usia 3 tahun dia pernah berjalan di puncak wuwungan rumah :’( Gerakan badan Ade itu lebih cepat dari yang kita duga. Misalnya, ketika Ade yahya bertanya, bolehkah Ade minta piring? Saat kita menjawab, ya, maka Ade Yahya sudah berlari memanjat rak piring. Gerak cepat dan keberaniannya itu kerap membuat saya kaget dan khawatir. Dia tidak takut melakukan apapun. Tidak heran jika di usia 4 tahun, Ade Yahya sudah bisa mengendarai sepeda milik saya. Namun karena gerakannya yang cepat itu pula, Ade sering melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru dan akhirnya melakukan kesalahan. Banyak teman-temannya yang protes padanya karena merasa terganggu. Hal yang paling sulit dilakukan di sekolah adalah baris berbaris dan sholat berjamaah. Dia selalu tidak sabar menunggu saat pikirannya tertarik kepada hal lain. Tapi bukan berarti dia tidak bisa konsentrasi. Adek Yahya bakal mampu melakukan sesuatu berjam-jam jika ada sesuatu yang benar-benar mampu menarik hatinya.

Oya Ade Yahya termasuk anak yang supel. Temannya banyak. Dia sering membawa teman-teman barunya ke rumah.

Saya tanya Ade, “Siapa itu Dek?”

“Teman,” Jawab Ade singkat.

“Siapa namanya?” Selidikku.

“Hehe...lupa,” sambil melirik teman barunya itu.

“Memang kenalan di mana?”

“Ketemu barusan di lapang dekat masjid.”

Ade...Ade...siapa saja selalu bisa jadi teman kamu hehe...

Karena aktivitas fisiknya yang tinggi dan sering ingin serba cepat, kaki Ade banyak baret-baret dan bajunya pun cepat sekali kotor. Karenanya saya lebih memilih warna-warna gelap untuk baju Ade seperti baju warna hitam yang dipakai oleh Ade ini. Baju kaos dari Hoofla Kids.

Oya kenalkan Hoofla adalah merk baju kaos dari Bandung yang dipakai oleh Kakak Ovi, Bang Awan dan Ade Yahya pada foto-foto di tulisan ini. Bahannya lembut, menyerap keringat, tidak tipis tapi juga tidak terlalu tebal. Pokoknya pas banget.

Ada kesamaan antara saya dan Hoofla. Hal itu tergambar dalam tagline Hoofla yaitu When Your Kids Meet Their Needs. Saya seorang ibu yang memperlakukan anak sesuai kebutuhan mereka. Demikian pula Hoofla, produk-produknya terinspirasi dari kebutuhan anak. Baik dari bahan, model, warna, gambar dan tulisan yang menghiasi kaosnya. Coba teman-teman lihat produk-produk Hoofla lainnya di katalog ini. 
Menarik-menarik bukan? Tapi kalau teman ingin tahu lebih jelas lagi, Teman-teman bisa cek ke instagram Hoofla dan page Hoofla ya.

Balik lagi ke soal pendidikan anak. Jika anak mengenali dirinya, mengerti apa itu hidup dan bagaimana menjalaninya, maka dia akan lebih percaya diri melangkah dan menapaki kehidupannya.

Simpulannya adalah, kita sebagai orang tua hanya tinggal membantunya dengan melatih keterampilan berpikir dan komunikasinya, memaksimalkan fungsi otaknya dan menjaga serta mengarahkan potensinya pada kebaikan. Skill-nya? Ya itu salah satu bantuan dari sekolah.

Hmm...kira-kira seperti itu, teman-teman. Terus terang, saya juga masih terus belajar dalam mendidik anak. Jadi, apa yang saya lakukan bukan jaminan keberhasilan 100%. Apa yang saya lakukan ini hanya merupakan sebuah usaha sejauh yang saya mampu. Sedangkan hasilnya saya serahkan pada Sang Maha Pencipta. Tapi, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjawab kepenasaran teman-teman tentang bagaimana cara saya memperlakukan anak-anak saya sehari-hari ya.

Artikel ini disponsori oleh Hoofla Kids, WHEN YOUR KIDS MEET THEIR NEEDS. Brand kaos anak lucu, kaos anak muslim, kaos anak karakter, kaos anak branded, kaos anak bandung.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...