Sabtu, 26 Maret 2016

Kenali Anak Karena Setiap Anak Berbeda


 Bulan maret 2016 ini, putra saya Hamzah meraih juara 1 Kompetisi Sains Madrasah (KSM) untuk Tsanawiyah tingkat Kota Bandung di Bidang Fisika. Hamzah pun berhak maju ke KSM tingkat provinsi pada bulan mei mendatang. Prestasi yang Hamzah raih pernah juga dirasakan oleh kakaknya Hamzah, yaitu Husna. Bahkan Husna berhasil melaju hingga tingkat nasional di bidang fisika ini. Meskipun di tingkat nasional, Husna hanya berhasil meraih medali perak. Karena prestasinya itu, Husna bisa masuk ke SMAN 3 Bandung melalui jalur prestasi.

Saya sebagai ibunya tentu merasa bangga hehe... Ibu mana sih yang tidak bangga jika anaknya berprestasi? Nah, karena foto Hamzah dengan medali emas dan pialanya saya jadikan foto profil facebook, otomatis banyak sekali respon positif yang saya terima. Mulai dari ucapan selamat hingga menanyakan bagaimana cara mendidik anak supaya berprestasi.

Saya sering bingung jika ditanya seperti itu. Pasalnya, saya bukan tipe orang tua yang menyuruh anak supaya belajar terus menerus, les ini-itu dan mesti mengerjakan berbagai soal-soal pelajaran. Tapi bukan pula saya cuek terhadap pendidikan anak. Saya membaca juga buku-buku parenting. Namun bagi saya, pendidikan anak bukan bagaimana mereka hapal berbagai isi pelajaran sekolah dan mendapat nilai tinggi. Bagi saya, pendidikan anak itu adalah memahamkan anak bagaimana dia mengenali dirinya, mengerti tentang kehidupan ini dan dapat menjalaninya dengan baik.
Beberapa buku parenting yang saya baca

Selain tentunya kita mendukung anak dengan kasih sayang, doa dan fasilitas sekemampuan kita, yang saya praktekan di rumah terhadap anak-anak, antara lain seperti ini:

1.      Banyak Ngobrol

Saat anak-anak di rumah, saya lebih banyak ngobrol dengan mereka alih-alih menyuruh mereka membuka buku pelajaran. Bukan...bukan saya menyepelekan pekerjaan rumah dari sekolah. Saya juga mengingatkan jika mereka ada PR. Tapi aktivitas ngobrol bersama anak-anak harus menjadi prioritas. Tidak harus selalu pas kita santai kok. Ada pekerjaan yang bisa disambi saat ngobrol dengan anak. Saya sering ngobrol dengan anak sambil merapikan baju di lemari atau sambil luluran lotion ke tangan dan kaki ;)

Salah seorang teman saya pernah bilang, katanya dia juga sering ngobrol dengan anak tapi masalahnya anak-anak tidak mau dengar. Lalu saya tanya, memang kamu ngomong apa? Jawab teman saya, ya ngasih nasihat.

Haha...tentu saja anak tidak mau dengar. Pasti anak-anak bilang, ibu membosankan, pasti ibu kasih nasihat lagi, sebel, dan lain sebagainya. Yang saya maksud ngobrol itu adalah membicarakan apapun yang menarik minat anak. Jadi, sudut pandangnya adalah sudut pandang anak. Bukan sudut pandang orang tua. Misalnya, anak kita sedang gandrung game. Cobalah pelajari sedikit tentang game itu dan kenapa anak kita begitu tertarik. Nah kita bisa jadikan soal game itu menjadi obrolan yang menarik. Tentu anak-anak akan meresponnya dengan semangat. Barulah kita bisa memasukan nilai-nilai positif di dalamnya tanpa nada menggurui. Misalnya kita mengangkat sisi positif dari game itu seperti melatih ketekunan atau sportifitas. Tentu anak-anak akan bangga jika game kesukaannya dipuji. Lalu ingatkan pula bahwa tugas utama kita adalah belajar jadi ambil manfaatnya dari game tersebut dan jangan sampai mengganggu tugas utama kita. Insya Allah jika kita memberi penghargaan pada aktivitas anak, maka anak akan rela mendengar nasihat kita.

Oya menurut saya, ngobrol antara orang tua dan anak itu berperan juga dalam mencerdaskan anak lho. Tentunya cara ngobrolnya jangan dibiarkan begitu saja tapi harus menghasilkan obrolan berkualitas. Oleh karenanya orang tua harus pandai mengarahkan sehingga obrolan tidak hanya sekedar ngalor-ngidul, kesana-kemari. Misalnya orang tua melemparkan sebuah pertanyaan ke anak seperti, siapa sih teman kalian yang paling populer di kelas, siapakah guru yang paling kalian sukai, atau kemana sih kalian ingin berlibur? Kalau obrolan seperti ini dibiasakan sejak anak kecil, anak akan terbiasa diajak mencerna sebuah pertanyaan dan memikirkan jawabannya. Kemudian kita tanya alasan dari pilihan mereka. Hal ini akan melatih mereka supaya terbiasa membuat alasan atas dasar pemikiran. Insya Allah dari aktifitas ngobrol dengan anak ini akan banyak manfaatnya. Jadi jangan sampai menyepelekannya ya.

2.      Seimbangkan Fungsi Otak Kanan dan Kiri

Masalah fungsi otak kanan dan kiri sudah banyak dibahas di buku, di seminar-seminar pendidikan dan di internet. Jadi silakan teman-teman cari sendiri. Di sini saya hanya ingin cerita mengenai apa yang saya lakukan untuk memaksimalkan fungsi otak kanan dan kiri anak.

Berdasarkan percobaan sederhana, saya diketahui dominan otak kanan dan suami dominan otak kiri. Mungkin tanpa disadari, perlakuan kami terhadap anak berdasarkan dominasi otak yang kami miliki ini membuat anak memiliki keseimbangan di keduanya. Itu baru mungkin ya hehe... Tapi bukan berarti karena saya dominan otak kanan lantas tidak melatih anak menggunakan otak kirinya. Kalau secara teori tahu, ya kenapa tidak dipraktekan, ya kan.

Untuk melatih otak kanan anak, saya sering menyanyikan lagu-lagu di dekat anak. Bahkan tiap anak yang lahir saya buatkan jingle khusus yang memuat nama masing-masing anak. Ketika saya menggendongnya, saya selalu menyanyikan jingle itu. Sampai anak-anak besar, mereka tahu jingle lagunya masing-masing.

Ketika anak sudah menginjak usia balita, saya senang cerita apa saja ke anak-anak. Dongeng, kisah masa kecil, pengalaman orang lain, dan sebagainya. Bercerita pada anak dapat meningkatkan daya imajinasi anak yang merupakan fungsi dari belahan otak kanan.

Sedangkan untuk melatih otak kirinya, saya mengajarkan berbagai hapalan doa dan surat-surat pendek bahkan sejak mereka bayi. Saya tidak menyuruh anak-anak berdiri di depan saya dan membacakan hapalannya. Cukup dengan melapalkan saja pada saat mereka mau masuk dan keluar kamar mandi, saat mau makan, saat mau pergi dan aktivitas lainnya. Untuk hapalan ayat, setiap pagi saya biasa menperdengarkan murottal dari MP3 dan melapalkannya sambil beraktifitas. Selebihnya saya mengajarkan mereka membaca, berhitung dan hal-hal lain yang membutuhkan kemampuan otak kiri.

3.      Karakter, Potensi Anak dan Menempatkannya.

Di sini saya ingin menceritakan tiga orang anak saya dengan karakter yang berbeda-beda dan bagaimana saya memperlakukan mereka sesuai kebutuhan mereka.

Pertama, Kakak Ovi (umur 12 tahun) yang memiliki karakter keras. Tidak ada yang bisa menundukkan Kakak Ovi kecuali dirinya sendiri yang ingin. Karakter ini sering memicu konflik dengan saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya sering mengadu kesal karena Kakak Ovi tidak mau menurut. Sebagai ibunya, saya justru melihat bahwa karakter keras yang dimiliki Kakak Ovi merupakan potensi besar. Saya tidak boleh menghilangkannya dengan mengatakan bahwa kekerasan wataknya itu merupakan kejelekan atau sikap bandel dalam artian negatif. Justru saya harus meyakinkan Kakak Ovi bahwa sikapnya itu merupakan keteguhan hatinya. Sehingga jika digunakan dalam jalan kebenaran, Kakak Ovi akan menjadi pemegang kebenaran yang kuat.

Saya tahu, ucapan dan perlakuan saya terhadapa dirinya sangat membesarkan hatinya. Meskipun dia kerap melakukan kesalahan karena sikap dasarnya itu membuat dia bermasalah dengan saudaranya, tapi dia yakin ibu selalu di sampingnya untuk membantunya menempatkan sikapnya dengan tepat.

Kedua, Abang Awan (umur 9 tahun). Bang Awan sudah menunjukkan kecerdasan intelektualnya sejak kecil. Dia sudah bisa membaca dengan lancar mulai usia 3 tahun. Dia juga sangat suka surfing di internet. Laman yang sering dia kunjungi seperti wikipedia, google maps, detik.com, dan berbagai situs berbasis ilmu pengetahuan dan berita. Tidak heran kalau dia sering menjadi tempat kita bertanya seperti, nama dan arah jalan, kejadian terkini, dan bermacam-macam pengetahuan lainnya. Anaknya cenderung pendiam, jarang mau main di luar dan minim aktivitas fisik. Anehnya ketika Bang Awan kecil ditanya cita-citanya mau jadi apa? Dia menjawab ingin menjadi tentara. Saya benar-benar tidak paham apa yang Bang Awan pikirkan tentang tentara.

Namun sekarang cita-citanya sudah berubah lagi. Hal itu saya ketahui saat pagi-pagi, Bang Awan bilang harus membawa kostum ke sekolah sesuai cita-cita. Saya tanya, memang Bang Awan cita-citanya ingin jadi apa? Dengan mantap Bang Awan menjawab, ingin menjadi Pengusaha Sukses!

Wow...

Melihat karakter Bang Awan yang kutu buku dan cenderung pendiam, saya berupaya memotivasi Bang Awan supaya mau melakukan aktivitas fisik seperti bermain sepeda bersama anak tetangga dan beberapa tugas kecil seperti mencuci sepatu sendiri. Ya dia harus melatih keterampilan sosial dan motoriknya supaya seimbang dengan kemampuan otaknya. Walaupun guru-gurunya mengatakan Bang Awan pintar di semua bidang pelajaran di sekolah dan dapat ranking 1 di kelas, tapi Ibu akan lebih bahagia jika Bang Awan suka ngobrol dan bermain dengan teman-temannya juga. Karena keberhasilan hidup itu tidak hanya ditentukan oleh kepintaran otak saja tapi juga kepintaran bergaul dan bekerja keras.

Ketiga, Ade Yahya (umur 5,5 tahun). Terus terang saya terkaget-kaget mendapati anak seperti Ade Yahya. Sejak bayi dia sering sekali jatuh dari tempat tidur. Di usia dua tahun dia pernah menggelinding dari tangga dan di usia 3 tahun dia pernah berjalan di puncak wuwungan rumah :’( Gerakan badan Ade itu lebih cepat dari yang kita duga. Misalnya, ketika Ade yahya bertanya, bolehkah Ade minta piring? Saat kita menjawab, ya, maka Ade Yahya sudah berlari memanjat rak piring. Gerak cepat dan keberaniannya itu kerap membuat saya kaget dan khawatir. Dia tidak takut melakukan apapun. Tidak heran jika di usia 4 tahun, Ade Yahya sudah bisa mengendarai sepeda milik saya. Namun karena gerakannya yang cepat itu pula, Ade sering melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru dan akhirnya melakukan kesalahan. Banyak teman-temannya yang protes padanya karena merasa terganggu. Hal yang paling sulit dilakukan di sekolah adalah baris berbaris dan sholat berjamaah. Dia selalu tidak sabar menunggu saat pikirannya tertarik kepada hal lain. Tapi bukan berarti dia tidak bisa konsentrasi. Adek Yahya bakal mampu melakukan sesuatu berjam-jam jika ada sesuatu yang benar-benar mampu menarik hatinya.

Oya Ade Yahya termasuk anak yang supel. Temannya banyak. Dia sering membawa teman-teman barunya ke rumah.

Saya tanya Ade, “Siapa itu Dek?”

“Teman,” Jawab Ade singkat.

“Siapa namanya?” Selidikku.

“Hehe...lupa,” sambil melirik teman barunya itu.

“Memang kenalan di mana?”

“Ketemu barusan di lapang dekat masjid.”

Ade...Ade...siapa saja selalu bisa jadi teman kamu hehe...

Karena aktivitas fisiknya yang tinggi dan sering ingin serba cepat, kaki Ade banyak baret-baret dan bajunya pun cepat sekali kotor. Karenanya saya lebih memilih warna-warna gelap untuk baju Ade seperti baju warna hitam yang dipakai oleh Ade ini. Baju kaos dari Hoofla Kids.

Oya kenalkan Hoofla adalah merk baju kaos dari Bandung yang dipakai oleh Kakak Ovi, Bang Awan dan Ade Yahya pada foto-foto di tulisan ini. Bahannya lembut, menyerap keringat, tidak tipis tapi juga tidak terlalu tebal. Pokoknya pas banget.

Ada kesamaan antara saya dan Hoofla. Hal itu tergambar dalam tagline Hoofla yaitu When Your Kids Meet Their Needs. Saya seorang ibu yang memperlakukan anak sesuai kebutuhan mereka. Demikian pula Hoofla, produk-produknya terinspirasi dari kebutuhan anak. Baik dari bahan, model, warna, gambar dan tulisan yang menghiasi kaosnya. Coba teman-teman lihat produk-produk Hoofla lainnya di katalog ini. 
Menarik-menarik bukan? Tapi kalau teman ingin tahu lebih jelas lagi, Teman-teman bisa cek ke instagram Hoofla dan page Hoofla ya.

Balik lagi ke soal pendidikan anak. Jika anak mengenali dirinya, mengerti apa itu hidup dan bagaimana menjalaninya, maka dia akan lebih percaya diri melangkah dan menapaki kehidupannya.

Simpulannya adalah, kita sebagai orang tua hanya tinggal membantunya dengan melatih keterampilan berpikir dan komunikasinya, memaksimalkan fungsi otaknya dan menjaga serta mengarahkan potensinya pada kebaikan. Skill-nya? Ya itu salah satu bantuan dari sekolah.

Hmm...kira-kira seperti itu, teman-teman. Terus terang, saya juga masih terus belajar dalam mendidik anak. Jadi, apa yang saya lakukan bukan jaminan keberhasilan 100%. Apa yang saya lakukan ini hanya merupakan sebuah usaha sejauh yang saya mampu. Sedangkan hasilnya saya serahkan pada Sang Maha Pencipta. Tapi, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjawab kepenasaran teman-teman tentang bagaimana cara saya memperlakukan anak-anak saya sehari-hari ya.

Artikel ini disponsori oleh Hoofla Kids, WHEN YOUR KIDS MEET THEIR NEEDS. Brand kaos anak lucu, kaos anak muslim, kaos anak karakter, kaos anak branded, kaos anak bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...