Tampilkan postingan dengan label childhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label childhood. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Ayo Bikin Slime!



Sejak hari minggu siang kemarin, saya baru ngeh kalau Ade kena cacar. Hari sabtunya suhu tubuh Ade memang lumayan tinggi. Saya kira hanya panas biasa saja. Jadi saya beri obat penurun panas. Besoknya suhu badan Ade menurun, tapi malah bermunculan bintil-bintil kecil di sekujur tubuhnya. Ternyata Ade kena cacar air. Gak heran sih, soalnya beberapa hari sebelumnya wabah cacar ini sudah ramai dibicarakan para orang tua murid teman sekelas Ade di grup WA. Beberapa teman Ade sudah terkena cacar duluan. Waduuh...padahal hari seninnya kan UAS. Ya sudahlah, izin susulan saja.
Kasihan banget, Ade. Mukanya sampai blepotan Caladine
Hari ini, hari senin jadilah Ade nemenin saya di rumah. Namanya anak bawaan gak mau diam, dikasih sakit gitu ya tetep gak mau diam juga. Pengennya ditemenin dan dilayanin terus. Pas dia buka laptop ayahnya, saya sudah seneng. Wah, alamat dia bakal anteng nih. Eh, ternyata tetep saja ada maunya. Dia nyalain laptop ayahnya dan muter video-video youtube yang menayangkan hampir semua tutorial slime. Mulutnya terus saja ngoceh, “Lihat, Bu. Mudah kok, Bu. Ayo, bikin Bu.”
Saya yang baru habis sakit dan tubuh masih terasa lemas akhirnya memutuskan, “Baiklah. Ayo kita happy-happy saja. Rumah berantakan urusan nanti. Yang penting kita sudah makan, haha...”
Saya menyerah ikut keinginan Ade dengan harapan dia bakal anteng setelah dibikinin slime. Saya pun lihat sebentar tutorialnya. Ya, ternyata caranya memang cukup sederhana. Bahan-bahannya pun mudah di dapat. Bahan yang sudah ada di rumah: lotion dan sabun cair. Kebetulan sebulan yang lalu dikasih lotion sama tantenya anak-anak. Sabun cair juga hadiah dari pembalut, haha...
Yang kurangnya tinggal: lem dan obat tetes mata. What? Iya, obat tetes mata. Fungsinya apa? Alaah...ikutin saja haha...
Pertama, siapkan dulu bahan-bahannya:


  1. Air
  2. Lem cair (saya pakai merk Povinal) 
  3. Obat tetes mata
  4. Body Lotion
  5. Sabun mandi cair

Cara membuatnya:

  • Masukan air sebanyak 2 sendok makan ke mangkok plastik/melamin
  • Tambahkan 2 botol lem cair/ 2 sendok makan lem putih Pvc (saya lebih suka pakai lem cair karena tekstur slime jadi lebih kenyal) 
  • Aduk hingga tercampur
  • Tambahkan Body Lotion 1 sendok makan, aduk hingga bercampur
  • Tambahkan setengah botol obat tetes mata, aduk merata
  • Tambahkan 1 sendok makan sabun mandi cair, aduk hingga adonan tidak menempel ke wadah
  • Jika masih menempel ke wadah atau malah berbusa, masukan obat tetes mata sisanya
  • Terus aduk hingga kalis
  • Setelah kalis, teteskan pewarna makanan dan aduk lagi hingga warna tercampur merata

Nah, slimenya jadi deh!
Pada awalnya, slime masih terasa lembek. Tidak apa-apa jusru di situ serunya. Yang penting kalis, artinya slime bisa dilepaskan dari telapak tangan. Lama kelamaan slime akan semakin mengeras. Jika kita ingin slime yang lebih lembek lagi, rendam saja di air hangat. Kira-kira 5 menit, angkat dan mainkan kembali.
Selamat mencoba dan selamat bersenang-senang!

Doakan juga biar Ade cepat sembuh dan sehat selalu yaa....

Senin, 11 April 2016

KETIKA BUKU DOA SEUMPAMA BUKU MANTRA

Gambar dari sini


Maaf ya, bagi yang tidak berkenan dengan judul tulisan ini. Saya hanya ingin menceritakan tentang masa kecil saya yang lahir dengandaya imajinasi tinggi. Saya sering mengkhayalkan berbagai hal seperti istana permen dan es krim, istana boneka, gaun-gaun putri, pesta pernikahan dengan pangeran, penyihir, koki istana, ratu, peri, malaikat dan hal-hal seperti itu.
Sepertinya khayalan-khayalan saya tidak lepas dari majalah anak yang saya baca masa itu. Beruntung, meski orang tua saya tinggal di kampung tapi saya sudah dapat fasilitas langganan majalah anak yang terbit seminggu sekali.
Gambar dari sini

Namun di sisi lain, saya juga tinggal di lingkungan agamis khususnya di lingkungan kakek dari pihak ayah dan nenek dari pihak ibu. Nenek tinggalnya cukup jauh jadi beliau mempengaruhi keber-agamaan saya ketika saya sudah cukup besar. Sedangkan di masa-masa balita, kakek lah yang lebih berpengaruh.

Saya didaftarkan ke madrasah ibtidaiyah oleh kakek ketika masih duduk di bangku TK. Saat itu belum ada yang namanya TPA yang lebih pas untuk usia saya saat itu. Saya yakin waktu itu bukan waktunya tahun pelajaran baru. Entah apa pertimbangan kakek mendaftarkan saya secara tiba-tiba ke madrasah. Saya juga tidak tahu apakah kakek koordinasi dulu atau tidak dengan orang tua saya dalam hal pendaftaran ini. Saya ingat betul kakek mengajak saya mendatangi kepala sekolah madrasah dan besoknya saya disuruh ikut sekolah agama di madrasah dengan tante saya. Saya dimasukkan ke kelas untuk anak kelas 1, sedangkan tante sudah kelas 3.
Kakek sekeluarga (ayah saya yang berdiri di tengah)

Pengalaman hari pertama sekolah agama, saya begitu menderita karena guru menyuruh anak-anak di kelas menulis basmalah dalam bahasa arab dan saya tidak bisa, huaaa.... T_T Segitunya ya pikiran anak kecil. Padahal guru juga tentu tidak akan menuntut anak yang baru saja masuk bangku sekolah.

Setiap malam, saya menginap di rumah kakek. Waktu itu kedua adik saya masih kecil-kecil dan mamah saya betul-betul kerepotan. Saat menjelang malam, kakek mengajarkan banyak hal. Dari mulai cerita nabi, surat-surat pendek, doa-doa, syair-syair pujian pada Tuhan sampai perkalian. Saya lihat kakek tertawa gembira dan bertepuk tangan saat saya bisa mengucap ulang semua yang diajarkan Kakek. Saya tidak mengerti, memang apa susahnya? Duh, betapa ajaibnya ya memori masa kecil. Saya bahkan merasa tidak memakai energi sedikit pun saat menjawab pertanyaan mengenai perkalian bilangan 12. Entah kemana ya kemampuan itu sekarang? Hehe... Yang saya ingat adalah saya selalu mengaitkan apa yang kakek ucapkan dengan sebuah gambaran di otak saya. Kalau kakek bertanya A, maka saya tinggal memunculkan kenangan yang saya kaitkan dengan A, maka meluncurlah jawabannya di mulut saya. Sekarang saya menilai, mungkin saya memiliki daya ingat visual ya. Jadi bisa mengingat sesuatu melalui sebuah gambaran.

Nah, ketika saya sudah lancar membaca, Kakek membeli buku cerita 25 Nabi dan Rasul dalam bahasa sunda dan sebuah buku doa. Saya membaca buku cerita 25 Nabi dan Rasul dengan susah payah. Ya sampai sekarang, saya memang termasuk pembaca lambat. Saya agak sulit dalam mencerna sebuah bahan bacaan. Akhirnya, sepupu saya yang lebih dulu menyelesaikan buku tersebut. Sedangkan saya lebih tertarik pada buku doa.

Buku doa itu berukuran buku saku namun cukup tebal. Di setiap halaman ada satu macam doa dalam huruf arab dan latin, terjemahannya dan ilustrasi kartun warna hitam putih. Buat saya buku itu demikian menakjubkan. Saya yang dimanjakan dengan cerita-cerita dongeng seakan-akan menemukan jawaban. Sekarang saya tahu, jika saya punya keinginan maka saya tinggal membaca doa. Sama dengan manusia-manusia di negeri dongeng yang apabila ingin sesuatu maka tinggal melapalkan mantra, simsalabim! Dan hap! Segala yang diinginkannya terjadi.

Demikian pula dengan saya. Dengan berbekal keyakinan bahwa Tuhan saya adalah Allah, Sang Pencipta Yang Maha Hebat, maka saya yakin Allah bakal mampu mengabulkan doa-doa saya. Di situ Kakek saya membimbing bahwa jika Allah belum mengabulkan doa kita, maka Allah lebih tahu saat yang terbaik untuk kita dalam mengabulkannya. Masya Allah, terima kasih Kakek. Semoga Allah merahmati dan melapangkan kuburmu.
Buku doa saya sekarang

Sejak saat itu saya membawa buku doa kemana-mana. Saat bangun tidur, saat masuk kamar mandi, saat mau makan, saat hujan, saat masuk pasar tanpa malu saya buka bukunya dan saya baca. Bagi saya saat itu, buku doa adalah buku mantra. Kun fayakun! Dan hap! Dia akan memberikan kebaikan-kebaikan pada saya seperti yang tersurat dalam doa-doa yang saya ucapkan.

*tulisan ini dibuat saat saya rehat sejenak menghapal doa-doa
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...