Sabtu, 22 Oktober 2016

Motivasi Mencari Syafaat Rasulullah SAW dari Raudhah


Lokasi: depan masjid nabawi (dok.pribadi)

 Tidak tahu kenapa, jika ada sesuatu yang tidak tepat dalam pikiran, perasaan saya suka berontak. Kayaknya ada sesuatu deh...tapi apa ya? Itu yang ada di pikiran saya ketika keluar dari area raudhah pertama kali. Raudhah terletak di kawasan Masjid Nabawi. Lokasi raudhah merupakan tempat favorit Rasulullah saat membina para sahabatnya atau menerima tamu-tamunya. Di sebelah kiri raudhah terletak rumah Aisyah yang sekarang jadi makam Rasulullah saw. dan kedua sahabatnya. Sedangkan di sebelah depan tengah raudhah merupakan letak mimbar nabi.
Antrian menuju Raudhah
Hampir semua peziarah ingin mengunjungi raudhah karena percaya doa di sana mustajab. Buktinya Rasulullah saja memfavoritkan tempat tersebut dan menyebutkan bahwa raudhah itu taman surganya. Namun karena area yang sempit, hasilnya ya berdesak-desakan. Desak-desakannya tidak bisa dianggap main-main. Nafas saya sampai megap-megap saking terjepit dari semua arah. Bagi saya waktu itu, masuk kesana seperti perjuangan hidup dan mati. Dan kabarnya di lokasi itu memang sering jatuh korban jamaah haji yang meninggal. Suasana haru sekaligus panik dan bingung terlihat menghinggapi wajah-wajah jamaah Indonesia yang tubuhnya kecil-kecil. Saat saya sholat sunat pun, pembimbing (muthawif) menjaga kepala saya supaya tidak terinjak. Selesai sholat saya langsung disuruh keluar. Sebetulnya saya masih ingin berlama-lama di situ tapi pembimbing menegur saya karena dianggap tidak memberikan kesempatan pada yang lain. Karena jalan keluar juga sulit, akhirnya saya memanfaatkan waktu berdesak-desakan itu sambil berdoa. Saya berhasil keluar dari raudhah sekitar pukul 01.00 malam.
Keluar dari area raudhah hingga sampai hotel saya masih setengah bingung. Kepala terasa goyang sisa tangis selama di raudhah. Akhirnya saya pun tertidur kelelahan tanpa bermimpi apapun. Padahal saya berharap bermimpi bertemu Rasulullah. Di penghujung malam, sekitar pukul 03.00 saya terbangun dengan hati hampa. Di situ saya meratap, ya Allah sebetulnya saya dapat apa dari raudhah? Dapat apa saya dengan berdesak-desakan dan melintas makam rasul yang hanya sekejap itu? Dapat apa saya yang shalat pun dilakukan dengan perasaan panik dan terburu-buru takut terinjak? Saya pun shalat malam dan subuh di masjid nabawi dengan hati merana.
Mubarak Hotel, tempat saya menginap selama di Madinah
Selepas makan pagi, saya beristirahat di kamar hotel. Dan pada saat itulah seolah malaikat berbisik, "Hmm... mengunjungi makam Rasulullah saw. saja sulit, bukan? Karena semua orang ingin kesana. Lalu bagaimana di alam mahsyar saat kita butuh syafaat Rasulullah? Bisakah kita berdesak-desakan bersaing bersama umat manusia seluruh dunia untuk mendekati dan berbicara dengan beliau s.a.w? Kenal dan pedulikah rasul pada kita? Siapa kita?"
MasyaAllah... saya langsung tersentak. Air mata saya langsung bercucuran tak tertahan. Alhamdulillah ya Allah, ini ternyata yang dicari batin saya. Ternyata ke raudhah itu bukan sekadar tempat menangis dan berdoa di makam Rasulullah. Tapi yang lebih penting adalah raudhah menjadi motivasi bagi saya supaya sepulang ke tanah air saya bisa mempersiapkan diri berdesak-desakan di alam mahsyar. Bagaimana supaya Rasulullah melambai pada saya untuk memberikan syafaatnya, subhanallah...
Kalau begitu, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan kecuali saya selama hidup ini selain harus menarik hati Rasulullah dengan menjalankan sunahnya, melakukan apa yang dicontohkannya, menegakkan apa yang menjadi misinya, InsyaAllah.
Lokasi Raudhah di tandai dengan karpet warna hijau
Setelah shalat dhuha saya bertekad memasuki raudhah sendiri. Saya ingin bersyukur dengan petunjuk ini. Dan Allah Maha Baik. Saya diberikan kemudahan saat masuk ke raudhah untuk kedua kalinya ini. Meski tepat di depan mata saya orang berdesak-desakan, namun saya mendapat tempat luas. Tidak ada orang yang mendekati saya. Seperti ada benteng tak terlihat berbentuk setengah lingkaran dengan radius 1 m di hadapan saya. Saya bisa sholat dengan tenang tanpa ada pembimbing yang menjaga kepala saya, bisa membaca satu per satu doa titipan teman-teman yang saya list di buku sejak dari tanah air, bahkan saya foto bukunya di atas karpet hijau raudhah. Alhamdulillah...

4 komentar:

  1. trimnaksih mbah tulisanya sangat bermanfaat dan memotifasi mbak

    BalasHapus
  2. Aku baper, iri padamu Mbak 2x ke Raudhah juga krn cerita spiritualmu itu hehe. Doain ya moga2 aku bisa ke sana jg TFS yaaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga baper dan irinya bikin makin kuat doa dan usahanya ya, Mba. InsyaAllah mudah2an Mba bisa segera ke tanah suci :)

      Hapus

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...