“Teteh, bagaimana kabarmu dan anak-anak?” terdengar suara dari tab saya.
Nadanya lemah dan seperti berharap. Karena saya anak sulung di keluarga, hampir
semua anggota keluarga memanggil saya, Teteh.
“Ya, baik.” Saya yang sedang sibuk mendata barang-barang
orderan hanya menjawab pendek-pendek.
“Teteh lagi di mana?” tanyanya lagi.
“Di kantor.”
“Oya, bagaimana suamimu? Bukankah kemarin
sakit?”
“Sekarang malah sedang tugas keluar kota.”
“Apih
sekarang lagi sakit. Mamahmu juga.”
“Ouh? Sudah ke dokter?”
“Sudah.”
-Hening-
“Oh, iya maaf, Teteh belum bisa nengok. Akang
(suami saya) masih sibuk dengan tugas kantornya. Jadi tidak ada yang antar.” Ucap saya buru-buru memecah
keheningan.
“Nggak apa-apa. Doakan saja supaya Apih dan
Mamah segera sehat lagi.”
“Iya.”
“Teteh lagi sibuk ya? Ya, sudah ya.”
“Oke.”
Saya pun kembali
sibuk memilah-milah barang-barang orderan supaya bisa segera sampai ke tangan
konsumen.
Itu obrolan melaui
telepon antara saya dengan ayah saya tadi pagi. Pagi yang sangat sibuk.




