Senin, 01 April 2013

Kisah Seru 25 Nabi dan Rasul, Terbit!



Alhamdulillah... itu kata pertama yang aku ucapkan ketika mendapat kabar dari bagian marketing Salamadani, Pak Dadan Supardan, bahwa buku tulisanku yang berjudul Kisah Seru 25 Nabi dan Rasul, sudah terbit.

Buku ini benar-benar hal terindah dalam hidupku. Eh, bukan lebay lho hihi...
Aku memang pengen banget bisa memberikan pencerahan tentang agama Islam kepada siapa saja, khususnya kepada anak-anak muslim. Bisa dibayangkan kalau anak-anak itu bagaikan selembar kertas putih. Kalau mereka mau membaca buku-buku yang bermanfaat, maka hal-hal yang bermanfaatlah yang akan tercetak pada dirinya.

Memberikan pencerahan melalui buku yang dicetak nasional oleh sebuah penerbit besar, subhanallah, jantungku sampai berdegup memikirkannya. Sungguh luar biasa, kalau anak-anak mau memilih buku ini, membacanya dan mengingatnya sampai dewasa nanti. Mudah-mudahan bagiku ini menjadi amal ibadah yang pahalanya tidak putus, amiin...

Hal lain yang begitu menggembirakanku adalah, buku Kisah Seru 25 Nabi dan Rasul itu dikemas dengan cantik sekali. Salah satu sudutnya membentuk kapal Nabi Nuh. Terus, ilustrasinya kereeen banget! Jelas, yang nge-ilustrasi kan InnerChild, yg udah dikenal kualitas gambarnya kyut-kyut plus imut-imut :D. Eh, ditambah lagi hadiah penggaris yang bisa berfungsi juga sebagai pembatas buku. Atau pembatas buku yang berfungsi sebagai penggaris ya...? Ah... sudahlah.

Buku ini dijual dengan harga Rp. 69.000,- . Dan itu cukup pantas dibandingkan dengan tebalnya. Ya, lah... kisah 25 orang gitu lho.... :)

O,ya sedikit bocoran tentang isi buku ini. Setiap kisah nabi dan rasul di buku ini, penceritaannya dimulai dari klimaks. Sehingga anak langsung dibawa larut kepada kisah hidup paling dramatis dari perjalanan hidup para nabi dan rasul yang bagaikan cerita petualangan ini. Ya, anak-anak harus tahu bahwa kalau mereka membutuhkan figur hebat, para nabi dan rasullah sosoknya. Mereka adalah sosok nyata yang jelas-jelas sudah berhasil melewati tantangan hidup yang begitu berat. 

Kenapa seperti kisah-kisah petualangan?
Tengok saja kisah Nabi Yunus, yang pernah tinggal di dalam perut ikan paus. Kisah Nabi Ibrahim, yang pernah dibakar api. Kisah Nabi Musa yang bisa mengubah tongkat menjadi ular, atas izin Allah. Nabi Yusuf, yang asalnya hidup sengsara kemudian jadi raja. Dan, masih banyak lagi.

Whuaah... sungguh maha karya indah perjalanan hidup mereka. Dan semua itu, Allah-lah yang memperjalankannya dan menceritakannya dalam Al Qur'an. 

Maka dari itu, aku pernah merasa berat juga saat menulis buku ini. Aku, bagaikan harus mengulang kembali cerita yang disampaikan Allah. Lantas, bagaimana kalau ada kesalahan? Duh, beribu-ribu ampun aku panjatkan kepada Allah SWT. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, sekuat kemampuanku. Mungkin dengan mengorbankan banyak hal. Untuk ini, aku memohon kerelaannya pada suami dan anak-anakku karena waktu mereka terambil demi buku ini. Semoga semua keikhlasan ini, menjadi barokah buat bukuku dan bisa bermanfaat buat pembacanya, amiin...

Terakhir, aku hanya ingin mengatakan, terimalah persembahan buku tulisanku ini. Tolong maafkan segala kekurangannya. Dan doakan saya semoga buku-buku Islam tulisanku yang lain bisa lancar penulisannya dan dapat segera diterbitkan. Bukan demi apa-apa bagiku, melainkan hanya ingin turut andil dalam upaya syiar Islam. Mudah-mudahan menjadi bekalku di akhirat nanti, amiin...

Rabu, 27 Maret 2013

Talkshow bersama Ovi di SD Mutiara Hati

Acara Talkshow di SD Mutiara Hati, Antapani Bandung

Hari selasa, 26 Maret 2013, saya dan Ovi (Fairuz Shofia) diundang mengisi salah satu acara di SD Islam Mutiara Hati, Jl.Terusan Cikajang Antapani Bandung. Sekolah tersebut memang sedang mengadakan acara besar berupa pameran buku, pameran karya murid-murid, penampilan seni dan lain-lain.

Sebelum acara dimulai saya sempat ngobrol dengan Ibu Dewi Opik, salah seorang staf pengajar di sana. Bu Dewi ini pula lah yang pertama mengontak saya untuk bisa mengisi acara tersebut. Dari obrolan dengan Ibu Dewi tersebut, saya jadi tahu ternyata sekolah tersebut tidak hanya menerima anak-anak biasa tapi juga menerima murid yang berkebutuhan khusus. Makanya sekolah tersebut diberi nama sekolah inklusi... hihi tentang istilah itu, baru tahu saya :D

Sebelum dipanggil naik ke panggung,  saya sempat memerhatikan penampilan seni anak-anak. Timbul kekaguman saya pada mereka. Baik pada anak-anaknya maupun para gurunya. Di tengah keterbatasan kemampuan biasa mereka, anak-anak tersebut mampu melakukan penampilan terbaiknya. Ada yang menari dan ada yang memukul perkusi. Guru-gurunya pun begitu support pada mereka. Tidak ada yang menghadapi anak-anak tanpa tersenyum. Semuanya terlihat begitu antusias.

Akhirnya tibalah giliran saya dan Ovi naik ke panggung. Yang menjadi hostnya adalah ibu guru ramah bernama Bu Eva. Memang semuanya ramah, kok :)

Mulanya dibacakan dulu profil dan biodata Ovi. Setelah itu, barulah Ovi ditanya mengenai awal mulanya dia menulis, bagaimana caranya menulis dan lain-lain.

Sebenarnya saya surprise juga melihat penampilan Ovi. Sebelum acara Ovi selalu bilang takut gak bisa. Akhirnya saya bilang, bahwa sekolah tersebut mengundang kita karena kita punya pengalaman. Jadi, mereka hanya akan menanyakan apa yang pernah kita lakukan. Jadi kita pasti tahu jawabannya. Kalau Ovi merasa tidak tahu, ya jawab saja tidak tahu. Yang penting jangan diam.

Eh, ternyata Ovi mampu menjawab pertanyaan lebih dari yang saya bayangkan. Memang sih, ada beberapa istilah yang sepertinya Ovi belum menguasai hingga jawabannya kurang jelas. Tapi, saya melihat keinginan yang besar pada dirinya untuk menjawab. Ya, dia sebenarnya tahu, tapi mungkin masih bingung kata-kata yang tepatnya.

Gak apa-apa Ovi. Lihat saja, Bapak pun bahkan kagum dengan penampilanmu. Semangat, ya Nak :)

Minggu, 24 Maret 2013

KEINGINAN YAS MARINA……..


Reposting tulisanku tahun 2009:

Aku membayangkan seandainya aku menjadi seorang penulis. Aku menulis sebuah artikel atau feature-feature lalu dimuat di sebuah majalah atau surat kabar. Sangat menyenangkan kalau buah pikiranku dibaca orang dan tentu saja yang lebih menyenangkan lagi aku dapat uang dengan dimuatnya tulisanku itu. Tapi aku merasa itu masih merupakan sebuah perjalanan panjang yang harus kutempuh. Yang tentunya membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Dan itu tidak akan tercapai tanpa niat dan mental yang kuat.
Saya pikir, saya harus membuat sebuah road map yang bisa menjadikan setiap langkah-langkahku lebih pasti dan terarah. Buktinya, sampai sekarang saya merasa tidak maju-maju. Seperti masih bingung apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Padahal saya yakin ada banyak cara untuk sampai kepada apa yang saya harapkan. Tapi akhirnya kesibukan yang didepan matalah yang menyita seluruh waktuku.
Saya tahu sebagai manusia hidup pasti tidak lepas dari berbagai tanggung jawab hidup. Sebenarnya dalam hal ini pun saya masih merasa kacau. Saya masih takut aktivitas yang satu menjadi korban dari aktivitas yang lain. Atau kalau aku terlalu memaksakan, aku khawatir fisikku tidak kuat alias drop. Tentu ruginya malah lebih banyak karena jadi tidak bisa mengerjakan apa pun.
Sebetulnya kalau aku sih, mengerjakan apapun senang-senang saja. Apalagi ketika melihat hasil dari buah tanganku terasa dan terlihat dan malah bisa dinikmati oleh orang lain. Karena senang ini dan itulah yang membuatku jadi merasa habis waktu.
Hal yang pertama yang harus aku lakukan barangkali aku harus mendata lagi semua aktivitasku. Lalu dipilih mana yang prioritas dan tidak (atau malah harus dibuang!). Yang bisa kukerjakan sendiri dan yang bisa kudelegasikan. Selanjutnya langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dari semua aktivitasku itu. Ya, itu yang aku maksud sebagai road map tadi. Dan tentunya aku harus bisa fokus dengan planningku itu. Jangan sampai terlalu lirik-lirik kanan kiri. Kalau tidak disiplin artinya saya mempertaruhkan cita-citaku. Dan aku tentu saja akan sangat kecewa karena sudah mensia-siakan seluruh waktu yang tidak mungkin bisa kembali.
Inilah yang menjadi unek-unekku. Aku tuliskan sebagai sebuah pengingat yang tercetak sehingga bisa selalu kubaca. Dan dengan menulis juga aku merasa lebih bisa mendeskripsikan rencana-rencanaku dengan lebih sistematis. Mudah-mudahan dengan tumpahnya unek-unekku dalam tulisan ini tidak menumpahkan semangat yang ada dalam diriku. Tapi justru semakin yakin dan percaya diri untuk melangkah maju menuju keinginanku.
Bandung, 16 Juli 2009

Artikel Tulisan Ovi dimuat di Percil, Pikiran Rakyat


Ovi itu, kalau udah datang mood nulisnya dia cepat sekali. Satu artikel pendek untuk kolom Warcil (Wartawan Cilik) di Percil, Koran Pikiran Rakyat, Bandung, bisa ia selesaikan kurang lebih 1 jam. Tapi, kalau kagak mood... beuh, jangan tanya. Dipaksa pun kagak bakalan mau hehe...
Emang sih, untuk urusan kreatif, mana bisa dipaksa. Apalagi untuk seorang anak. Aku sih tidak pernah memaksa Ovi untuk menulis. Menawarkan, mengingatkan, memotivasi itu sih, iya. Tapi kalau dia tidak mau, ya sudah.
Aku memang tidak pernah memaksa anak-anak menjadi penulis. Saya hanya melihat, bahwa dalam diri mereka ada bakat itu. Dan, yang penting mereka harus tahu. Mudah-mudahan ke depannya bakal berguna untuk kehidupan mereka.
Satu hal yang saya kagumi dari tulisan Ovi, di usianya yang ke 9 ini (kelas 3 SD), tulisannya runut dan cukup memiliki kosa kata. Aku paling hanya membantu dia dalam hal EYD dan setting komputer.
Pernah sih, aku mengkritisi isi naskah yang akan dia kirimkan. Waktu itu tulisannya tentang jatuhnya pesawat Bravo di acara Bandung Airshow 2012. Di akhir tulisan dia menulis ini: "Melihat kejadian jatuhnya pesawat terbang, saya jadi takut naik pesawat."
Bagiku itu pemikiran negatif yang harus diluruskan. Aku bilang pada Ovi: "Daripada kita takut naik pesawat terbang, lebih baik kita berdoa saja supaya kejadian itu tidak terulang lagi."
Rupanya Ovi mengerti, dan dia mengubah tulisannya persis dengan yang saya nasihatkan.
O,ya menulis di Percil ini, dapat honor lumayan lho buat uang saku seorang anak. Apalagi Ovi itu anaknya tidak pelit. Jadi setelah menerima honor, Ovi pun mentraktir PHD untuk kita sekeluarga.
Horreee... sering-sering nulis ya, Vi. Biar sering nraktir kita hehe...

Hadiah Lomba Menulis Sulostrum


Beberapa waktu tidak ngeblog rasanya punya utang. Padahal selama rentang waktu tersebut ada aktivitas menulis yang ingin aku share. Salah satunya adalah tentang pengumuman Lomba Menulis Sulostrum-IIDN.
Alhamdulillah, di lomba itu saya dapat juara 1. Hihi... jingkrak-jingkrak rasanya. Soalnya ini pengalaman pertama jadi juara ke-1 dalam lomba menulis :D
Pengalaman nulisnya sendiri, sebenarnya aku mengerjakan tulisan lomba ini mepet-mepet. Kalau tidak salah, saya harus mengerjakan tugas menulis lain. Tapi tetap aku jadwal supaya tidak lupa.
O,ya mengenai produknya, sebenarnya saya pernah melihat susu Sulostrum ini ketika belanja ke supermarket Borma. Sempat saya pegang dan saya baca-baca kemasannya. Dari situ saya tahu, Sulostrum adalah susu kolostrum sapi. Setelah itu, ya saya taro lagi hehe... belum minat beli, soalnya.
Eh, nggak disangka beberapa waktu kemudian IIDN menyelenggarakan lomba menulis bekerja sama dengan perusahaan susu Sulostrum. Saya pun akhirnya jadi membeli produk tersebut :)
Iyalah, tema yang saya ambil kan tentang bagaimana kita merasakan sensasi sehat saat meminum susu Sulostrum. Jadi, bagaimana kita bisa menuliskannya, kalau kita tidak pernah tahu produknya.
Oke, itu yang pertama. Selanjutnya, aku mulai buka-buka website dan akun Sulostrum di twitter dan facebook. Membaca bahan-bahan di situ, membuat aku lebih merasa dekat dengan produk susu tersebut. Ada chemistry, mungkin itu bahasa kerennya hehe...
Nah, dari pengalaman, wawasan dan rasa dekat itu aku mulai mencari sambungannya dengan salah satu sisi dari hidup aku. Jadinya, ya sebuah tulisan yang menyatu antara saya dengan produk susu Sulostrum.
Menurut Lygia Pecanduhujan, salah satu juri lomba menulis Sulostrum ini, kebanyakan ibu-ibu yang mengikuti lomba, tulisannya kering. Mungkin karena mereka tidak mencoba produknya. Jadi, mereka hanya membuat tulisan berdasarkan data-data yang mereka ambil di website Sulostrum. Namun menurut Bapak .......... (haduh, saya lupa lagi namanya), perwakilan Sulostrum yang saya temui di kantor Indscript Creatif saat penyerahan hadiah, Sulostrum sebetulnya sudah ada di Alfamart Minimarket. Jadi, kita gampang menemukannya.
O,ya ingin tahu hadiah apa yang saya dapat dari juara 1 nulis artikel tentang Sulostrum ini?
Hadiahnya berupa uang tunai Rp 1 juta + goody bag (2 cangkir, 1 thumbler, pulpen dan 1 kotak Sulostrum berisi 10 sachet). Bagiku sih itu jumlah yang lumayan banget hehe...
Hmm... kapan ya, saya bisa menang lagi? Sebetulnya ada beberapa lomba nulis yang saya bidik saat ini. Tapi, saya juga harus menyelesaikan hutang-hutang nulis saya pada penerbit. Mudah-mudahan saja saya bisa membagi waktu.
Tentang semangat? Itu selalu :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...