Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2018

Sosis So Good Saus Padang


Saat bulan puasa semakin ke ujung, saya semakin bingung mesti masak apalagi. Akhirnya saya tanya ke Teteh, putri sulung saya.
“Teh, kira-kira untuk sahur ini kita mau makan apa?”
Tanpa ragu Teteh menjawab, “Sosis Saus Padang!
“Wah, iya? Kamu mau masaknya?” tanya saya.
“Boleh,” jawab Teteh mantap.
“Asyiik...,” Ibu kesenangan.
Saya buka kulkas, alhamdulillah saya punya stok So Good Premium Chicken Sausage Hot & Spicy atau Sosis Ayam Rasa Pedas. Dengan ditambah beberapa bumbu sederhana di rumah, akhirnya Teteh langsung eksekusi memasak Sosis So Good Saus Padang.
Saya & Teteh 

Olahan masakan berbumbu saus padang memang sangat digemari di keluarga saya. Biasanya bahan dasarnya berupa ikan gurame, ikan bawal atau kerang. Nah, yang sosis ini sih baru-baru saja karena ide dari Teteh itu.

Ini dia bahan-bahannya: 

  • 3 pcs So Good Premium Chicken Sausage, iris miring dengan ketebalan sedang.
  • ½ siung bawang bombay, cincang kasar
  • 2 siung bawang merah, iris tipis
  • 1 siung bawang putih, cincang halus
  • Saus sambal sesuai selera
  • Saus tomat sesuai selera
  • Saus tiram 1 sachet
  • Rawit Domba 3 tangkai, dirajang kasar
  • Garam secukupnya
  • Gula putih secukupnya
  • Air
  • Minyak goreng


Cara membuat:
  • Goreng potongan sosis hingga matang, sisihkan. 
  • Tumis bawang merah, bawang putih dan bawang Bombay. 
  • Masukkan sosis, aduk-aduk hingga bawang melumuri seluruh bagian sosis. 
  • Masukkan saus sambal, saus tomat dan saus tiram, garam dan gula putih. 
  • Masukkan air hingga macak-macak. 
  • Terakhir masukkan rawit domba. 
  • Angkat dan hidangkan. 


Praktis bukan?
Hidangan ini sukses diserbu para gadis dan bujang di rumah saya hehe…Dasarnya karena ya itu tadi, mereka suka bumbu saus padang dan juga suka sosis. Jadi seakan-akan dua makanan kesukaan digabungkan. Apalagi mengingat rasa pedasnya. Ya dari sosisnya yang Hot & Spicy, ya dari saus sambalnya, dan ya juga dari rawit dombanya. Alamaaak…bikin sahur jadi semangat.

Tapi entah ya. Bagi para remaja di rumah saya, buka atau sahur, semangat makannya sama saja sih. Tidak ada alasan ngurangin porsi. Mungkin karena lagi masa-masa pertumbuhan kali ya. Waduuh…lihat porsi makannya tiga kali lipat saya, Maaak… Tapi seneng juga, artinya kan mereka sehat. Coba kalau sakit? Kasihan kan… dan biayanya pasti lebih membengkak untuk pengobatannya. Jangan sampai deh! Ya, mudah-mudahan saja rejeki bapaknya ngalir terus buat ngasih makan anak-anaknya hahaha…Aamiin… Lagi pula bapaknya sering bilang, jangan pelit-pelit kalau untuk makan, yang penting kita semua sehat dan bisa bekerja. Nah top gak tuh my soulmate hehe…

Lah…lah… kok malah cerita kesitu sih hehe… Baiklah saya pengen jelasin ya, Bun kalau So Good Premium Chicken Sausage ini memiliki kandungan daging ayam lebih banyak dan protein yang tinggi. Dipadukan dengan bumbu berkualitas dan dikemas vacuum untuk menjaga kesegarannya, tersedia dalam 5 pilihan rasa Original, Hot & Spicy, Garlic, Honey, dan Smoke Bratwurst.

Dalam setiap bungkusnya terdapat 5 pcs sosis dengan berat masing-masing 60 gr. Dan yang paling saya suka, sosis bisa kita nikmati dengan langsung mengolahnya tanpa harus membuka lapisan luarnya. Emang sih, hal-hal sepele kayak gini yang suka bikin ribet emak-emak kayak saya hahaha….

Sedangkan informasi nilai gizinya sebagai berikut:

  • Takaran Saji: 60 gr
  • Energi Total: 200 kkal
  • Lemak Total: 7 gr / 10 %
  • Protein: 9 gr / 15%
  • Karbohidrat Total: 3 gr / 1%
  • Natrium/Sodim: 230 mg / 16%
*Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2000 kkal.

Nah, jadi Bunda tidak perlu ragu mengkonsumsi produk So Good karena selain telah terdaftar di BPOM RI, juga sudah mendapat sertifikat HALAL dari LPPOM MUI.


Oya, So Good sekarang hadir dengan kemasan baru seperti saya tampilkan di bawah ini. Jadi jika Bunda melihat dalam kemasan seperti yang saya gunakan di atas, itu kemasan lama. Tapi isinya tetap sama.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Resep 
Masakan Rumah Khas Ramadhan ala SO GOOD


Sabtu, 11 Februari 2017

KUTU BUSUK BIKIN SUNTUK


Seumur-umur saya baru lihat yang namanya tumbila. Orang sunda di lingkungan masa kecil saya padahal sering banget menyebut kata tumbila. Tapi sumpah, sebelum ini saya sama sekali tidak tertarik untuk tahu dan tidak mau tahu wujudnya. Masalahnya saya paling jijik pada hewan-hewan kecil kelompok arthropoda sebangsa kutu, semut, laba-laba dan teman-temannya. Apalagi kalau hewannya itu memiliki tubuh bersekat-sekat kayak kecoak, lipan dan sejenisnya hiiiy... Ngebayanginnya saja sampai merinding bulu kuduk.

BERBEDA DENGAN TUNGAU
Awalnya saya mengira tumbila itu sama dengan tungau. Namun, melalui pencarian yang cukup seksama dan mendetail di google (segitunya), saya baru tahu ternyata tumbila itu berbeda dengan tungau. Tumbila masuk ke dalam kelas insecta, sedangkan tungau masuk kelas arachnida (masih kerabat laba-laba). Walaupun ada tungau yang tinggal di pemukiman manusia (jenis tungau debu rumah atau hust dust mist dalam bahasa inggris), tungau debu rumah dan tumbila memiliki nama yang berbeda dalam bahasa inggris. Tumbila memiliki sebutan bedbug dalam bahasa inggris. Dipanggil bedbug karena tumbila memang sangat suka tinggal di sela-sela tempat tidur atau kasur.
Dari wikipedia saya baru tahu kalau tumbila memiliki nama lain kutu busuk, bangsat, kepinding atau tinggi. Disebut kutu busuk karena dikenal dengan bau tidak sedapnya. Dua kata pertama sebutan lain tumbila mengingatkan saya pada ucapan orang yang sedang memaki. Sebelumnya saya bahkan tidak tahu, kalau orang memaki seperti itu ternyata berawal dari nama lain tumbila. Seperti halnya orang memaki dengan kata... emm... dog, pig, etc. #maaf
Nah, kenapa sekarang si tumbila ini sampai mendapatkan kehormatan saya tulis di sini? Sebabnya adalah karena dia sangat-sangat mengganggu hidupku.
Awalnya anakku yang tidur di kamar tamu ngeluh pergelangan kaki dan tangannya gatal-gatal. Pas bangun tidur kakinya banyak baret bekas garukan. Waktu itu saya belum ngeh penyebabnya. Saya bilang paling nyamuk. Maka, saya semprotlah kamar dengan semprotan pembasmi nyamuk. Namun keesokan harinya anak saya tetap mengeluh gatal-gatal. Katanya selain gatal, kulitnya terasa panas dan kemerahan.
Melakukan pembersihan dengan vacum cleaner

Saya pun curiga, jangan-jangan di kasur ada kutu kasurnya atau tumbila ini. Maka saya pun mengambil langkah-langkah pembersihan. Saya angkat seluruh seprai dan sarung bantal guling. Tidak lupa selimut juga, saya cuci semuanya. Setelah itu saya bersihkan kasur dengan vacuum cleaner. Beberapa hari keluhan anak saya mereda, namun selanjutnya malah saya yang mengeluh gatal-gatal di kaki. Olala rupanya kasur di kamar saya pun disambangi juga oleh tumbila tersebut.
Kutu busuk rawan sembunyi di ceruk kasur kapuk
Ibu saya sempat merasa aneh. Menurut beliau, tumbila biasanya hidup di kasur yang terbuat dari kapuk. Padahal hampir semua kasur di rumah saya itu spring bed. Tapi pas saya browsing-browsing di internet soal tumbila ini, banyak juga gambar yang memperlihatkan tumbila di atas kasur spring bed. Ooh...ternyata bukan soal kapuk atau spring bednya, tapi di kasur apa pun yang penting tersedia tempat bersembunyi bagi tumbila.
Menurut sumber yang saya baca di internet, tumbila memang takut dengan cahaya. Maka jika ingin mencari di mana tumbila, tentu di tempat-tempat yang tersembunyi di kasur. Salah satunya, ini dia... di lipatan pinggir kasur dan di antara kasur dan dipan kasur.
Kutu busuk sembunyi juga di lipatan pinggir spring bed

Berdasarkan data tumbila takut pada cahaya, saya dan suami bergotong royong mengangkat kasur untuk dijemur. Namun berhubung tidak ada halaman luas seperti di kampung halaman, penjemuran pun berlangsung tidak sempurna. Walah... saya jadi ingat saat nenek saya jemur kasur di halaman rumahnya yang luas dengan penggebuk rotannya yang cantik. Buk! Buk! Buk! Suara itu masih terngiang-ngiang di telinga saya sampai sekarang.
Penggebuk kasur
foto dari https://ragamhandicraftrajapolah.wordpress.com/
Sambil dijemur, saya dan suami pun berburu tumbila. Benar saja, beberapa ekor saya temukan di satu sudut lipatan kasur. Saya korek-korek hingga mental ke lantai. Saya pukul dengan benda keras, dan keluarlah darahnya. Seketika itu juga saya merasa habis digigit vampir semalaman huhuhu... Gak rela rasanya.
penampakan tumbila (sengaja diblur)
Tumbila menyedot darah manusia dengan belalainya supaya dapat berkembangbiak. Pada belalai tumbila ada dua lobang yang berfungsi untuk menyedot darah dan untuk menyuntikan ludahnya yang mengandung anti-koagulan dan anestetik. Itulah sebabnya, kita baru merasakan dampak gigitan berupa gatal setelah beberapa menit sampai satu jam setelah digigit tumbila. Kalau pas gigit langsung terasa sakit, pasti sudah kita tepok tuh tumbila. Kalau sampai satu jam sih sudah kabur duluan.

SOLUSIKU MENGHALAU SI KUTU BUSUK
Apakah dengan dijemur dan diburu, tumbila sudah hilang? Ternyata belum sodara-sodara T_T
Saya kejar di kasur, ternyata tumbila masuk ke laci-laci pakaian dalam huhu... Nempel di lipatan koleksi dompet-dompet saya. Juga di lipatan gorden kamar. Akhirnya saya bongkar juga tuh gorden untuk dicuci. Saya pun membeli kapur barus satu plastik besar. Saya selipin kasur barus di tiap lipatan kasur, di bawah seprai, di bawah kasur, di laci-laci dan di lemari baju. Untuk mengurangi rasa paranoid, saya upayakan permukaan kasur selalu tertutup seprai dengan rapat. Tidak memberikan celah keluar tumbila dari kasur ke atas seprai.
Letakan kapur barus di tempat-tempat persembunyian kutu busuk


Alhamdulillah, perjuanganku tidak sia-sia. Sudah beberapa bulan ini sejak saya menebar kapur barus tidak pernah ada keluhan digigit tumbila lagi. Dan saya berbesar hati karena Allah swt. bakal memberi saya pahala karena sudah membebaskan keluarga dari segala marabahaya (halah!).  Eh tapi bener lho, segala sesuatu itu kan gak ada yang sia-sia. Dibikin asyik saja hehe... Buktinya bermanfaat juga jadi sebuah tulisan. Lumayan bisa menaikkan DA/PA yang anjlok wkwkwk... (ternyata,  sttt...).  Oya, paling komentar tamu saja yang begitu melewati kamar tamu langsung berkomentar, kok bau orang meninggal? Hadeuuh...
kapur barus identik dengan bau jenazah?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...