Jumat, 05 November 2010

(LOMBA: Moms Go Blogging) Awan, Lancar Membaca dan Menulis di Umur 3,5 Thn.

Kami biasa memanggilnya Awan meskipun nama sebenarnya adalah Anwar. Terus terang aku pernah merasa "surprise" ketika dia lahir. Setelah aku melahirkan keempat kakaknya yang berkulit putih, Awan mempunyai warna kulit lebih gelap. Awan adalah anak ke-5 dari 6 orang anakku. Sehingga para tetangga selalu bilang, "Lho, yang ini kok lebih berwarna?". Kecewa? Tentu tidak! Naluri seorang ibu, akan tetap sayang pada anaknya walau bagaimana pun adanya. Ketika Awan menginjak umur 2 tahun, dia menunjukkan kekuranglancaran dalam berbicara. Kalau dia memanggil atau meminta sesuatu, dia lebih suka bilang, "Euh...! euh..!". Sambil menunjuk-nunjuk apa yang dia maksudkan. Melihat keadaan itu, aku merasa khawatir tapi juga tidak khawatir. Tidak khawatir karena aku menganggap itu alamiah. Dulu juga Hamzah, kakak laki-lakinya Awan sama seperti itu, pikirku, dan sekarang bisa bicara normal. Khawatirnya, karena pada kenyataanya ketidaklancaran berbicara tetap saja mengganggu proses belajar. Ketika TK, Hamzah tidak mau disuruh ibu gurunya bicara di depan, karena suaranya yang cedal kerap ditertawakan teman-temannya.

Suatu waktu, Aku sedang menonton film kartun di televisi bersama Awan. Ketika sesi iklan, Awan berteriak menyebut nama produk makanan ringan yang kebetulan kemasan produk itu sedang dia pegang. Ketika iklan beralih ke produk susu bubuk, dia berteriak juga menyebutkan nama susu bubuk tersebut sambil menunjuk-nunjuk ke meja makan di mana di situ ada dus susu bubuk tersebut. Aku menjadi penasaran, ku ambil dus susu bubuk itu. Lalu aku tunjuk merk yang tercantum di dus tersebut.

"Wan, Apa ini?"

Awan menyebutkan merknya. Lalu aku cari kemasan produk lain seperti sabun mandi, pasta gigi, detergent, shampoo dan lain-lain yang biasa ada di iklan televisi. Dengan lancar dia bisa menyebutkan merknya. Aku tambah penasaran, lalu aku ambil selembar kertas dan pinsil. Aku tulis merk produk tersebut di kertas lalu aku tunjukkan kepada Awan untuk dibacanya. Dan, ternyata dia tetap bisa menyebutkan merk yang sudah kutulis di kertas tadi. Malah dia memintaku untuk menuliskan merk-merk produk lain yang biasa dia lihat di iklan televisi.

Awan tampak semakin senang dengan aktivitas itu. Wajahnya cerah ketika aku tertawa dan bertepuk tangan setiap dia bisa menebak kata yang aku tulis. Tapi dia energinya memang luar biasa. Ketika aku mulai capek, dia masih tetap semangat. Sampai pernah suatu malam dia memintaku untuk menulis untuk dibacanya padahal aku mengantuk sekali. Akhirnya, aku beri Awan buku Yellow Page untuk dibacanya. Besoknya dia jadi tahu nama-nama bank, merk-merk mobil dan barang-barang elektronik. Melihat hal itu aku jadi semakin terpacu. Aku mengenalkan tulisan dari kata-kata yang dia kenal seperti kata ibu, bapak, kakak, teteh, piring, gelas, sendok, mobil, bebek dan lain-lain. Setelah kosa katanya cukup banyak, aku membelikan dia sebuah buku cerita yang memiliki huruf-huruf besar dan kalimatnya sederhana. Dia senang sekali ketika bisa membacanya dan mengerti makna dari kalimat tersebut. Dia hanya menanyakan awalan atau akhiran 'meng' dan 'nya', itu dibacanya, apa sih?

Sekarang Awan berumur 3,5 tahun dan Ia semakin lancar membaca. Buku apapun bisa ia baca. Bahkan dia bisa mengoperasikan komputer sendiri dengan mengikuti intruksi yang ada pada komputer. Ia juga bisa menulis dengan menggunakan program Microsoft Word. Dia bisa menulis karena tahu huruf-huruf apa saja yang harus dia tekan di keyboard untuk menulis kata-kata yang diinginkannya. Tapi aku tahu, aku harus tetap mendampinginya terus. Karena dengan kemampuannya, Awan bisa terkena dampak negatif juga. Dia sudah biasa googling sendiri, mengetikkan judul-judul film kartun kesukaannya untuk dia tonton di youtube. Apa jadinya kalau dia mengetikkan kata-kata yang tidak cocok untuk anak seumurannya, tentu akibatnya akan sangat mengerikan sekali. Hal lain yang aku senang adalah kemampuannya membaca membuat dia terlatih untuk melapalkan kata-kata. Sehingga kemampuan bicaranya pun ikut terlatih. Sekarang Awan hampir sudah tidak cedal lagi. Yah..., jalanmu memang masih panjang, anakku. Masa depanmu pun masih terbentang luas di hadapanmu. Tapi aku senang. Karena Awan dan aku sudah memulainya dengan baik.

2 komentar:

  1. Salam kenal mbak Dewi
    Waah senang ya kalau liat perkembangan anak kita.
    Aku jg seorang ibu, putriku umur 2thn.
    Aku skrg msh kerja, tp dalam wkt dekat ada rencana resign krn ingin dekat dengan anak.
    Anak memang bisa buat kita melakukan apapun ya mbak.
    Maen blog ku ya mba..
    Salam

    BalasHapus
  2. Salam kenal kembali mbak Yovita. Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Salam buat si kecil ya...:)

    BalasHapus

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...