Selasa, 30 Juli 2013

PENULIS CILIK-Buntu nih, Gimana dong? (materi 23)

Lanjutan dari materi 22

Satu waktu mungkin kamu tidak bisa melanjutkan ceritamu. Kamu merasa tidak ada yang bisa dituliskan lagi. Pokoknya, ceritanya mentok abis!
Yakin?

Cobalah ini:
Tetap Menulis
Tetap usahakan mengerahkan seluruh yang ada di benakmu meskipun kamu merasa apa yang kamu tulis ‘garing banget’. Nikmatilah selama menulis, mudah-mudahan saja tulisan yang ‘garing’ itu menjadi pembuka ide yang lebih bagus.
Cari Bahan
Bisa jadi tulisanmu mentok karena memang kamu kekurangan bahan tulisan. Coba kamu baca lagi hasil tulisanmu. Adakah satu tulisan yang bisa dikembangkan? Kalau ada, kamu tinggal mencari dan membaca referensi supaya idemu kembali menggelembung. Contohnya seperti tulisan Husna di atas (Petualangan Joanna). Husna mengembangkan ide baru dari kata ‘ubi jalar’ yang sudah dituliskan sebelumnya.
Istirahat
Betul, pikiran kamu buntu mungkin karena memang kamu harus istirahat. Kamu bisa tidur, mengerjakan hal-hal yang ringan seperti duduk di teras, bercanda dengan adik atau telpon sahabat. Nah, setelah badan dan pikiranmu ‘fresh’ lagi, kamu bisa lanjutin nulis.
Membongkar/Mengganti Kerangka Karangan
Sebenarnya, ini jalan terakhir lho. Kalau kamu merasa nggak maju-maju dengan kerangka karangan/outline yang kamu miliki sekarang, mungkin kamu memang tidak berminat atau tidak menguasai bahannya. Yah, mungkin kamu sudah berusaha mencari bahan-bahan tulisan dengan browsing, tanya sana-sini, diskusi dan sebagainya tapi bahannya memang sulit, tak ada pilihan selain membelokkan alur ceritanya. Tapi, alur yang tadi sebaiknya jangan dibuang ya. Simpan saja untuk tabungan ide. Mudah-mudahan ke depannya kamu bisa mendapat bahan-bahan yang mendukung ceritamu itu. Kan, lumayan nggak perlu bikin outline baru lagi.

Kok, jumlah halamannya kurang?
Setelah kamu menyelesaikan seluruh ceritamu dari bab pertama sampai bab terakhir, dari mulai opening sampai ending, ternyata kok jumlah halamannya tidak mencapai target. Apa yang harus kamu lakukan?
Jangan sedih dulu ah!
Bergembiralah karena kamu sudah menyelesaikan sebuah karya tulis. Berhasil menyambungkan alur cerita dari awal sampai akhir. Coba baca dari awal secara perlahan. Perhatikan bagian-bagian yang bisa kamu kembangkan.
Misalnya, kamu membuat adegan sang tokoh pergi ke toko buku. Nah, coba perjalanan ke toko bukunya jangan dibuat mulus-mulus saja. Kamu bisa membuat kejadian sang tokoh baru sadar kalau dompetnya hilang saat di jalan sehingga sang tokoh harus mencari-cari dulu dompetnya itu. Sang tokoh kembali menelusuri jalan yang tadi dilewatinya. Dia juga menyibakkan tanaman-tanaman yang berjejer di sepanjang jalan. Saat dia bertanya pada orang yang dia temui, orang itu malah tertawa dan menunjuk dompet yang sedari tadi ternyata dikepit oleh ketiak sang tokoh. Sambil menahan malu, sang tokoh mengucapkan terima kasih dan pergi menuju toko yang dituju.
Kamu lihat, adegan sang tokoh pergi ke toko lebih panjang bukan? Selain itu, kamu juga bisa membuat pembaca tertawa. Padahal peristiwa hilangnya dompet mungkin tidak nyambung secara langsung dengan tema cerita. Tapi tidak apa-apa. Toh, dalam kehidupan nyata pun, perjalanan hidup kita tidak pernah selalu mulus bukan?
Nah, itu baru dikembangkan di satu titik saja. Kalau kamu terus melanjutkan membaca ceritamu, kamu akan menemukan titik-titik yang lain untuk dikembangkan. Jadi, target jumlah halaman ceritamu, pasti bisa tercapai. Dicoba yah…

Berlanjut ke materi 24 

PCPK Piza Pizi Veronica, karya Maryam Muthmainnah

PENULIS CILIK-Gambarkan Sehingga Pembaca Seperti Merasakan (materi 22)

Lanjutan dari materi 21

Kembali lagi ke masalah rasa terlibat seorang pembaca dalam tulisanmu. Saat kamu sedang menulis, bayangkan pikiran pembaca yang sedang membaca tulisanmu. Apakah terbayang di benak mereka, maksud ceritamu? Samakah bayangan pembaca saat membaca tulisanmu dengan bayangan kamu saat sedang menulis cerita ini? Artinya, gambarkan maksud ceritamu sedetil mungkin sehingga pembaca memiliki gambaran yang sama dengan yang kamu maksudkan.

Coba lihat kutipan dari buku Little Cutties karangan Alline ini:
Di kamar, aku segera membuka kotak-kotak kecil yang berisi manik-manik. Lalu, aku membuka bungkus benang karet.
Mula-mula, aku memasukkan manik-manik bintang, diikuti dengan bunga kristal. Dan dilanjutkan dengan bintang, dan seterusnya. Aku membuat gelang.
Kemudian, aku membuat kalungnya. Aku isi setengahnya dengan manik-manik bulatan putih, bintang, dan kututup lagi dengan manik-manik putih. Akhirnya, kuikat lalu kubakar ujungnya dengan lilin.
Bisakah kamu membayangkan sang tokoh saat tahap demi tahap merangkai manik-manik untuk gelang dan kalungnya?

Coba lihat lagi kutipan dari buku Mysterious Egypt karangan Husna Salsabila yang ini:
Saat bermain-main, Grandma biasanya memanggil anak-anak untuk minum teh. Hidangannya adalah kue favorit keluarga mereka yaitu sachertorte, kue bolu dengan olesan selai aprikot dan dilapisi oleh dark chocolate yang tebal. Lalu di atasnya tertulis kata “Sacher” yang indah. Kadang-kadang Grandma menghiasnya dengan jeruk atau kiwi kalengan. Mmmm… menetes air liur Ashley kalau mengingatnya. Ya, keluarga Davis memang keluarga penyuka coklat.
Bisakah kamu membayangkan kelezatan kue coklat buatan neneknya Ashley? Kue bolu coklat dilapisi selai aprikot dengan hiasan jeruk atau kiwi yang sudah dipotong-potong? Mmmm…
Begitupun dengan ceritamu. Tuliskan sedetil mungkin apa yang kamu rasakan sehingga pembaca bisa ikut merasakan. Entah itu tentang aktivitas, makanan, wajah seseorang, rasa sakit, rasa senang, apapun… sehingga pembaca tidak hanya sekedar membaca tapi ikut merasakan.

Berikan Kejutan-kejutan
Bagaimana rasanya kalau kamu membaca sebuah buku cerita dan isinya datar-datar saja? Atau kamu sudah bisa menebak kejadian selanjutnya atau malah akhir ceritanya? Tentu membosankan bukan? Mungkin kamu bilang, idiiih…garing banget!
Oleh karena itu, saat kamu memperjalankan tokoh di ceritamu, cobalah bayangkan kalau seandainya tokohmu itu diri kamu yang ingin memberikan kejutan-kejutan kepada lawan mainnya.
Membuat berbagai kejutan dalam cerita itu, menarik lho. Masalahnya kamu bisa membuat kejutan seseru apapun. Hal-hal yang kalau di dunia nyata, kadang kamu tidak bisa berbuat sekehendakmu. Tapi dalam cerita karanganmu, kamu bisa membuat kejadian apapun selama itu nyambung dengan ceritamu.

Berlanjut ke materi 23

Udah baca buku ini kan? Keren ya...

PCPK Piza Pizi Veronica, karya Maryam Muthmainnah
 

PENULIS CILIK-Perkirakan komposisi dialog dan narasi (Materi 21)

Lanjutan dari materi 20

Berapa banyakkah kamu menulis saat awal menuangkan ide? Kalau berhasil menulis sampai beberapa bab, itu bagus. Sudah sampai 3 bab atau pun baru 1 halaman, sekarang saatnya kamu melanjutkan tulisanmu.
Misalnya kamu sekarang menggarap bab 4 atau masih berkutat di Bab 1. Bacalah dengan teliti outline dari bab yang sedang kamu garap. Rekam di otakmu dan mulailah menguraikannya dalam bentuk cerita.
Supaya pembaca ceritamu tidak bosan, buatlah komposisi narasi dan dialog yang tepat. Pembaca dari kalangan anak-anak biasanya tidak suka tulisan yang berbentuk narasi terlalu panjang. Tulisan narasi itu lebih memberi kesan kamu sebagai penulis cerita dalam keadaan sedang menjelaskan dan pembaca sedang mendengarkan. Padahal, kalau pembaca merasa kurang dilibatkan, akibatnya akan timbul rasa bosan pada diri pembaca dan bisa jadi pembaca memutuskan untuk menghentikan membaca ceritamu.
Ya, meskipun tulisan jenis narasi penting juga dalam sebuah tulisan. Tapi, biarkan cerita mengalir melalui dialog-dialog tokohnya. Dengan demikian pembaca merasa dirinya lah yang sedang melakukan dialog-dialog itu.
Selain itu, keuntungannya tulisan berbentuk dialog adalah... sttt… akan membuat ceritamu lebih panjang, lho… hehe… Jadi, target panjang halamanmu, bisa cepat terpenuhi. Tapi, sekali lagi ingat ya, tulisan narasi pun penting sebagai penjelas yang perlu kamu sisipkan di sela-sela dialog.
FYI, Husna pernah lho punya kesulitan membuat dialog ini. Jadi dia menulis sampai beberapa bab, hampir semuanya narasi. Tapi tidak apa, untuk menuangkan ide supaya tidak hilang, tuliskan saja semuanya. Nah, pada saat mengedit, ia merubah bagian-bagian mana saja peristiwa yang lebih baik di munculkan melalui dialog para tokohnya.
Contoh cerita dengan format narasi:
Sore hari, ketika Mayra hendak pulang bersama-sama dengan Meyda, sesuatu menarik perhatiannya. Ternyata di mading terdapat pengumuman anggota tim yang masuk tim basket. Mayra memang menjadi cadangan. Namun, di bagian bawah pengumuman tersebut, terdapat catatan bahwa tiap pemain harap berkumpul setelah pulang, jam 14.15.Padahal sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Mayra bilang pada Meyda bahwa ia tidak bisa pulang bersama karena harus latihan. Mayra juga minta supaya Meyda menyampaikan pesan pulang terlambat pada Bunda. Meyda terlihat kesal apalagi saat ditinggal duluan. Akhirnya Meyda pergi ke perpustakaan setelah sebelumnya berjanji akan menelepon Bunda.
Lalu Husna mengubahnya dengan cerita yang dibumbui dialog:
Sore hari, ketika Mayra hendak pulang bersama-sama dengan Meyda, sesuatu menarik perhatiannya.
“Sebentar Mey, aku lihat mading dulu. Nggak tau ya, aku penasaran banget,” pinta Mayra pada Meyda.
“Ok,” jawab Meyda pendek.
Ternyata perasaan Mayra benar. Di mading terdapat pengumuman anggota tim yang masuk tim basket. Mayra memang menjadi cadangan. Namun, di bagian bawah pengumuman tersebut, terdapat catatan bahwa tiap pemain harap berkumpul setelah pulang, jam 14.15.
Sambil menunjukkan muka menyesal, Mayra mendatangi Meyda yang menunggu dekat tiang atap teras.
“Ada apa?” tanya Meyda yang melihat raut muka adiknya.
“Meyda maaf ya. Karena pertandingan sudah dekat jadi banyak latihan. Kayaknya hari ini aku langsung latihan deh. Sekarang udah jam 14.00. Padahal latihannya jam 14.15. Tolong bilangin ke Bunda ya, pliiis…”
Wajah Meyda terlihat kesal tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. “Ya sudah, aku mau ke perpustakaan aja. Kalau Bunda, ntar aku telepon deh.”
“Aduh, makasih banget Meyda. Aku kelapangan sekarang ya!” Tanpa menunggu jawaban Meyda, Mayra langsung lari ke lapangan.
Meyda menghentakkan kakinya. Ia tambah kesal karena ditinggal begitu saja. Dengan muka masam, ia melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
Nah, apa persamaan dua cerita di atas? Dua-duanya menceritakan kejadian yang sama. Inti ceritanya sama.
Lalu, bedanya? Kita pasti bisa menilai, cerita dengan diwarnai dialog lebih menarik daripada cerita yang penuh dengan paparan (narasi) saja.
Berlanjut ke materi 22 

Kamu yang lagi belajar nulis, bisa perhatiin cara Kak Yas Marina membuat novel melalui buku ini:

Saranghae Bluemoon, karya Yas Marina
 

[GA AKU DAN POHON] Salah Panggil




Di halaman rumah nenekku yang luas, tumbuh pohon rambutan yang cukup besar dan rindang. Hampir seluas halamannya tertutup oleh daun dari pohon rambutan tersebut. Bagiku dan sepupuku, Early, kadang-kadang keberadaan pohon itu cukup mengesalkan. Pasalnya, kamilah yang bertugas menyapu daun-daunnya yang berguguran.

Tapi, setiap yang kita lakukan pasti ada imbalannya. Melihat apa yang kami lakukan *walaupun agak terpaksa*, Emak *panggilan kami pada nenek* tidak pernah pelit dengan buah-buahan yang beliau miliki. Misalnya, ketika pohon rambutan itu berbuah lebat. Begitu aku merengek ingin segera memakan buah rambutan tersebut, Emak menyuruhku memanggil orang untuk memetik rambutan.

“Panggilin Mang Emuh, ya. Nanti kamu boleh makan sepuasnya,” kata Emak.

Tanpa membantah, aku segera mengajak Early ke rumah Mang Emuh. Aku tahu rumahnya, pikirku. Mang Emuh kan yang punya warung. Aku sering disuruh mamahku beli krupuk di warung yang dijagain Nyai Sari, istrinya Mang Emuh. Selain itu, Mang Emuh adalah paman dari teman sekelasku, Imas. Beberapa kali aku bertemu dengan Mang Emuh saat bermain bersama Imas.

Sampai di rumah Mang Emuh.

“Punten.” Aku mengucapkan salam khas Sunda.

“Mangga,” jawab Nyai Sari yang sedang sibuk membuat adonan bakwan.

“Nyai, saya disuruh Emak. Kata Emak, tolong supaya Mang Emuh metikin rambutan di rumahnya,” ujarku.

Nyai Sari tidak segera menjawab permintaanku. Sepertinya ia malah memikirkan sesuatu. Tiba-tiba muncul Mang Emuh dari ruangan lain. Nampaknya ia mendengar ucapan kami.

“Ada apa, Neng?” tanya Mang Emuh ramah.

“Kata Emak, Mang Emuh diminta metik rambutan.”

Aku melihat Mang Emuh berpandang-pandangan dengan Nyai Sari. Sampai akhirnya dia menjawab, “Baik, nanti Emang ke sana.”

Dengan suka cita, aku segera kembali ke rumah Emak. Sudah terbayang di benakku, aku bakal menikmati buah rambutan Emak yang dikenal sangat manis sekali rasanya.

Setelah memberi laporan pada Emak bahwa Mang Emuh bersedia memetik rambutan, tanpa firasat apapun, aku pun pamit pada Emak untuk berangkat ngaji.

Sepulang ngaji, Early menemuiku dan memberikan kabar ala breaking news. Mengagetkan!

“Rin, tahu tidak kalau Emak marah sama kita?”

“Hah? Kok bisa sih?” tanyaku heran.

“Iya, soalnya Mang Emuh yang dimaksud Emak bukan Mang Emuh yang kita panggil. Jadi dari tadi Emak ngomel terus. Kayaknya dia merasa malu deh. Soalnya, Emak kan tidak kenal sama Mang Emuh yang itu,” terang Early.

“Waduh! Habis Emak nggak ngejelasin juga Mang Emuh yang mana,” kelitku.

“Ya, pokoknya kejadiannya begitu.”

“Tapi jadi kan Mang Emuh yang kita panggil metik rambutan?”

“Ya jadi sih. Mang Emuh-nya kan udah datang ke Emak. Masa Emak bilang nggak jadi. Pasti Emak tambah malu.”

“Hihi… iya juga yah. Tapi aku jadi nggak berani nemuin Emak.”

“Eh, jangan gitu dong. Kasihan sama Emak. Setidaknya dengan ngomelin kamu, mungkin hati Emak bisa sedikit lapang,” ujar Early terkekeh.

Akhirnya…

Walau dengan berat hati, aku menemui Emak. Yah, sedikit diomelin sih. Tapi lumayan terbayar dengan manisnya buah rambutan.


Gambar diambil dari http://www.rambutan.com/

Yuk Kenalan dengan Pohon dan Buah Rambutan
  
Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae, berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Kata "rambutan" berasal dari bentuk buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut.


Rambutan banyak terdapat di daerah tropis seperti Afrika, Kamboja, Karibia , Amerika Tengah, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Sri Lanka.

Pohon rambutan menyukai suhu tropika hangat (suhu rata-rata 25 derajat Celsius), tinggi dapat mencapai 8m namun biasanya tajuknya melebar hingga jari-jari 4m.  Tumbuhan ini menghasilkan bunga setelah tujuh tahun jika ditanam dari biji, namun pada usia 2 tahun sudah dapat berbunga jika diperbanyak secara vegetatif.

Di daerah Sumatera bagian utara, yang tidak mengenal musim kemarau rambutan dapat menghasilkan buah dua kali dalam setahun. Di tempat lain, bunga muncul biasanya setelah masa kering 3 bulan (di Jawa dan Kalimantan biasanya pada bulan Oktober dan November).

Buah rambutan terbungkus oleh kulit yang memiliki "rambut" di bagian luarnya (eksokarp). Warnanya hijau ketika masih muda, lalu berangsur kuning hingga merah ketika masak/ranum. Endokarp berwarna putih, menutupi "daging". Bagian buah yang dimakan, "daging buah", sebenarnya adalah salut biji atau aril, yang bisa melekat kuat pada kulit terluar biji atau lepas ("rambutan ace"/ngelotok).

Jenis Tanaman Rambutan 

Dari survey yang telah dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yang berasal dari galur murni maupun hasil okulasi atau penggabungan dari dua jenis dengan galur yang berbeda. Ciri-ciri yang membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat buah (dari daging buah, kandungan air, bentuk, warna kulit, panjang rambut). Dari sejumlah jenis rambutan diatas hanya beberapa varietas rambutan yang digemari orang dan dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomis relatif tinggi diantaranya:

1) Rambutan Rapiah buah tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi, kulit berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan beramut agak jarang, daging buah manis dan agak kering, kenyal, ngelotok dan daging buahnya tebal, dengan daya tahan dapat mencapai 6 hari setelah dipetik.

2) Rambutan Aceh Lebak bulus pohonnya tinggi dan lebat buahnya dengan hasil rata-rata 160-170 ikat per pohon, kulit buah berwarna merah kuning, halus,rasanya segar manis-asam banyak air dan ngelotok daya simpan 4 hari setelah dipetik, buah ini tahan dalam pengangkutan.

3) Rambutan Cimacan, kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170 ikat per pohon, kulit berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar dan agak jarang, rasa manis, sedikit berair tetapi kurang tahan dalam pengangkutan.

4) Rambutan Binjai yang merupakan salah satu rambutan yang terbaik di Indonesia dengan buah cukup besar, dengan kulit berwarna merah darah sampai merah tua rambut buah agak kasar dan jarang, rasanya manis dengan asam sedikit, hasilbuah tidak selebat aceh lebak bulus tetapi daging buahnya ngelotok.

5) Rambutan Sinyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai terutama orang Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat,rasa buah manisa sam, banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.


Kandungan Gizi dan Manfaat Buah Rambutan

Buah ini mengandung karbohidrat, protein, lemak, fosfor, besi, kalsium dan vitamin C. Kulit buah mengandung tanin dan saponin. Biji mengandung lemak dan polifenol. Daun mengandung tannin dan saponin. Kulit batang mengandung tannin, saponin, flavonida, pectic substance, dan zat besi. 

Gambar dari sini
Di dalam buah rambutan tersimpan khasiat obat yang tak ternilai harganya. Menurut kajian pakar tanaman obat, buah rambutan memuat besi, kalium, sampai vitamin C. Dalam setiap 100 gram (sekitar 3 buah rambutan) terkandung 69 kalori, 18,1 gram karbohidrat, serta 58 mg vitamin). Kadar serat rambutan juga cukup tinggi, sekitar 2 gram per 100 gram berat buah. Karakter buah seperti ini cocok dikonsumsi orang-orang yang tengah berdiet menurunkan atau menjaga berat badan.
Bagian tumbuhan ini yang dapat digunakan sebagai obat adalah kulit buah digunakan untuk mengatasi disentri dan demam, kulit kayu digunakan untuk mengatasi sariawan, daun digunakan untuk mengatasi diare dan menghitamkan rambut, akar digunakan untuk mengatasi demam, dan biji digunakan untuk mengatasi kencing manis (diabetes mellitus).
Cara dan Contoh Pemakaian: 
Disentri: Kulit buah rambutan (10 buah) dicuci, lalu dipotong-potong seperlunya. Lalu ditambahkan 3 gelas minum air bersih, selanjutnya rebus sampai airnya tersisa setengah. Setelah dingin, disaring dan diminum 2 kali sehari, masing-masing tiga perempat gelas.
Demam: Kulit rambutan yang telah dikeringkan (15 gr) dicuci. Kemudian ditambah 3 gelas air bersih, lalu direbus sampai mendidih selama 15 menit. Setelah dingin, disaring dan diminum 3 kali sehari, masing-masing sepertiga bagian.
Perawatan Rambut: Daun rambutan secukupnya dicuci, lalu ditumbuk sampai halus. Sedikit air ditambahkan, sambil diaduk rata sampai menjadi adonan seperti bubur. Lalu, diperas dan didisaring dengan sepotong kain. Air yang terkumpul digunakan untuk membasahi kulit kepala. Hal ini dilakukan setiap hari sampai terlihat hasilnya.
Kencing Manis: Biji rambutan (5 biji) digoreng sangran (sangria), lalu digiling sampai menjadi serbuk. Kemudian, diseduh dengan satu cangkir air panas. Setelah dingin airnya diminum sekaligus. Lakukan 1-2 kali sehari.
Sariawan: Kulit kayu rambutan (3 ruas jari) dicuci, lalu direbus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa satu gelas. Kemudian dipakai untuk berkumur selagi hangat.
  

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Rambutan
http://agromaret.com/post/jenis_tanaman_rambutan/91217113620
http://www.itd.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=316:kandungan-gizi-dan-manfaat-buah-rambutan&catid=40:health-news&Itemid=113


Tulisan di atas diikut sertakan pada Lomba  “Give Away Aku dan Pohon”

Postingan pindah ke:  http://dewiyasmarina.blogspot.com/2013/08/ga-aku-dan-pohon-salah-panggil.html



Senin, 29 Juli 2013

[Kontes Unggulan: Enam Puluh Tiga] Nenek dan Kotoran Ayam






Wajah Nenek terlihat muram.

“Kenapa, Nek?” tanyaku.

“Tadi Nenek ke kandang, ngasih makan ayam. Kenapa sekarang tercium bau tahi ayam terus? Padahal Nenek sudah cuci tangan, cuci kaki, ganti kebaya.”

Kupandangi Nenek. Tiba-tiba sebuah pemandangan menggelitik hatiku.

“Hihi… pantas Nenek mencium bau tahi ayam. Itu secuil ada di hidung Nenek,” tunjukku terkekeh.

“Masya Allah!” jerit Nenek sambil buru-buru ke kamar mandi, membasuh muka.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...