Rabu, 09 Desember 2015

Semua Bisa Memberi




Salah satu mantan asisten rumah tangga saya bernama Bi Nani. Sekarang dia sudah tidak bekerja lagi pada saya. Karena anak-anak sudah besar, saya memutuskan untuk tidak memiliki asisten rumah tangga lagi.

Bi Nani berasal dari Garut. Saat pertama datang ke Bandung, dia langsung bekerja di rumah saya. Alasan Bi Nani pindah ke rumah mertuanya di Bandung, karena sawah yang digarapnya di Garut kering dan tak menghasilkan. Meskipun hanya berprofesi sebagai asisten rumah tangga, Bi Nani ingin anaknya sekolah. Ketika masih tinggal di Garut anaknya baru saja lulus SMP. Bi Nani ingin supaya anak perempuannya itu melanjutkan sekolah SMA di Bandung saja.

Setiap hari Bi Nani kerja di rumah saya dari pukul 07.00 pagi hingga 12.00 siang. Bi Nani hanya kerja dari hari senin sampai sabtu. Hari minggu saya memberinya libur. Tugas Bi Nani mencuci perabotan rumah tangga, mencuci baju, menyetrika hingga membersihkan rumah. Kerjanya cepat dan rapi. Saya memberinya upah harian. Dia memang inginnya diupah seperti itu.

Sepulang kerja dari rumah saya, Bi Nani tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia kerja lagi menjadi asisten rumah tangga di rumah orang lain hingga maghrib tiba. Demi anak, jawab Bi Nani saat saya bertanya capek atau tidak kerja dari pagi sampai sore begitu.

Saya memang kasihan dengan nasib Bi Nani sehingga saya suka berusaha memberikan pertolongan apa pun yang saya mampu. Saya benar-benar ikhlas membantu Bi Nani tanpa mengharap balasan. Namun tiba-tiba, entah setan mana yang membelokkan pikiran saya. Terlintas dalam pikiran saya ungkapan seperti ini: "lagi pula Bi Nani bisa memberi apa pada saya?" 
Astagfirullah...sepertinya pikiran saya yang terakhir itu betul-betul kebablasan.

Rupanya Allah hendak membukakan pikiran saya. Di suatu hari minggu pagi tiba-tiba saya merasa mual-mual dan kemudian muntah-muntah. Kepala rasanya pusing sekali. Waduh, gimana saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Pikir saya. Padahal piring kotor banyak sekali. Tadi malam keluarga besar dari suami mampir ke rumah. Mereka ada keperluan di Bandung dan meminta suami mengantar-antar. Suami pun langsung berangkat bersama mereka dan belum kembali hingga siang ini. Tadi malam telpon, katanya mau tidur di rumah saudaranya yang tinggal di Bandung juga.

Akhirnya saya pun rebahan dahulu berharap kondisi tubuh membaik.

Namun ternyata, tubuh saya malah demam tinggi. Anak-anak saya biarkan main bersama anak tetangga di teras.

Ketika saya sedang merasakan panas dingin di dalam selimut, terdengar orang yang bicara di luar.

“Ibunya kemana?”

“Tidur. Katanya sakit,” jawab Muti, anak saya.

Tidak lama setelah itu, terdengar pintu depan terbuka.

“Bu! Bu!”

Lho, itu kan suara Bi Nani?

“Ya, Bi. Ibu di kamar. Sini!” jawab saya.

Bi Nani masuk ke kamar.

“Ibu sakit?” tanya Bi Nani.

“Iya. Tumben Bibi hari minggu kesini?” tanya saya.

“Saya sering lewat sini kok, Bu. Biasanya hari minggu pagi, saya sudah lihat jemuran di depan. Barusan saya lihat jemuran masih kosong. Saya jadi curiga khawatir ada apa-apa sama Ibu. Makanya saya mampir. Saya lihat Si Neng Muti lagi main di depan,” jelas Bi Nani.

“Iya, Bi. Ibu juga nggak tahu kenapa tiba-tiba nggak enak badan begini,” keluh saya.

“Ibu istirahat saja, biar Nani yang beres-beres.”

Tanpa menunggu jawaban saya, Bi Nani langsung keluar kamar dan mengerjakan semua pekerjaan yang biasa dia lakukan. Setelah semua beres, Bi Nani kembali ke kamar untuk pamitan.

“Bu, Nani pulang dulu ya. Semua sudah beres. Sekalian Nani masakin juga bahan-bahan masakan yang ada di dapur,” pamit Nani.

“Oh iya, tadi sebelum sakit, Ibu masih sempet belanja di tukang sayur. Sebentar ya Bi, Ibu ambil dompet dulu,” kata saya sambil bangun perlahan karena masih terasa pusing.

“Eh jangan, Bu!” sergah Bi Nani sambil menahan tubuh saya supaya tetap tidur.

“Jangan gimana, Bi?” tanya saya tidak mengerti.

“Jangan dibayar. Hari ini kan bukan jadwal Nani kerja. Selama ini Ibu selalu bantu Nani. Sekarang saatnya Nani bantu Ibu. Hanya ini yang bisa Nani beri ke Ibu,” ucapnya sambil tersenyum.

Mendengar ucapan Bi Nani, saya langsung  merasa diingatkan. Ternyata saya telah salah berpikir. Siapa bilang orang kecil itu tidak bisa memberi? Tuhan Maha Adil. Siapa pun pasti bisa memberi. Lagipula Tuhan tidak melihat bentuk yang diberi. Tidak melihat besar atau kecil pemberian. Ia hanya melihat keikhlasan Si Pemberi, yaitu tidak menyebut-nyebut pemberian yang bisa menyakiti hati yang diberi.

  “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando's Giveaway : Spread The Good Story"


Gado-Gado Rumah Tangga



Tanggal 8 desember 1996, 19 tahun yang lalu merupakan hari bersejarah buat saya. Hari itu saya mengalihkan perwalian saya dari seorang ayah pada suami. Tidak ada habis-habisnya saya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. yang telah memberi saya bermacam-macam nikmat dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Nikmat atas anugerah suami yang bertanggung jawab, anak-anak yang sehat, dan berbagai limpahan karunia lainnya. Sungguh tidak dapat dihitung banyaknya.

Meskipun begitu, seperti halnya rumah tangga lain, yang namanya ujian pasti selalu ada seperti problem dari luar, kesulitan ekonomi, anak dan pasangan sakit, dan sebagainya. Namun alhamdulillah, karena ternyata semua ujian itu hanyalah guncangan sementara yang menguji kesungguhan iman. Pada akhirnya Allah mengangkat kembali ujian itu dan mengembalikan keadaan pada ketenangan. Tinggal kita menilai, apakah kita bisa bersabar ataukah mesti memperbaiki diri lagi? Apapun hasilnya tentu harus kita sikapi dengan positif.

Yang saya rasakan, setiap ujian dalam kehidupan itu merupakan cara Allah memintarkan dan mendewasakan kita. Saya ingat saat awal menikah, saya bingung bagaimana harus memposisikan pasangan dalam setiap kasus. Misalnya ketika tetangga meminjam uang, eh kok saya jadi bingung ya? Dulu tidak pernah ada pertimbangan apa-apa dalam meminjamkan uang. Uang punya sendiri, kok. Tapi setelah menikah, apa harus seizin suami ya? *bingung :D *

Padahal ya padahal, saya baca-baca juga kok buku-buku persiapan pra nikah. Tapi pada prakteknya tetep saja suka bingung-bingung.

Begitu pula saat pertama kali dikaruniakan anak. Soal perawatan fisiknya sih oke-oke saja. Tinggal baca pengetahuan tentang perawatan bayi. Tapi menghadapi sikap bayi? Duh, ya ampuun... *bengong*

Sebelum menikah saya memang tidak pernah mengasuh bayi. Paling cuma gendong-gendong keponakan atau anak tetangga sebentar saja. Jadinya ya nggak tahu, kalau tangisan begini tuh maunya apa, tangisan begitu tuh pengennya apa. Namun alhamdulillah dengan berjalannya waktu, kini saya sudah lebih banyak tahu cara menghadapi anak. Contohnya, saya menemukan cara memperlakukan anak berdasarkan perbandingan rasa dan akal yang mereka miliki. Bayi berkomunikasi berdasarkan rasa maka saya pun harus melakukan pendekatan berdasarkan rasa pula. Semakin besar anak, daya akalnya bertambah. Nah, saya pun melakukan pendekatan sejauh akal yang dimiliki anak. Sisanya tetap menggunakan rasa. Bingung? Maafkaan... saya memang kurang bisa menjelaskan bahasa psikologi ini. *halah*

Intinya, sejumlah kebingungan yang saya alami dalam rumah tangga hanyalah indikasi bahwa saya harus terus belajar. Itu. Kalau tidak dikasih masalah, belum tentu saya mau belajar kan? :D

Oya omong-omong tentang rasa dan akal itu berlaku juga lho dengan pasangan *hihi...kepo lo* Iya, saat kita berinteraksi dengan pasangan pun, kita lihat momennya. Momen rasa atau momen akal? Semisal suami ngajak kita ngobrol suatu masalah yang harus dicari solusinya. Suami ngomong pakai akal, eh kita malah nanggapin pakai rasa. Hasilnya, kita malah jadi termehek-mehek karena tersinggunglah, tersindirlah, merasa tidak dihargailah dan berbagai perasaan negatif lainnya. Pernah? Pernah? Atau Pernah?

Saya sih pernah banget. Saya sendiri sering heran, kenapa setiap diajak ngobrol suami ujung-ujungnya malah berantem? Ternyata salahnya di situ. Suami ngomong pakai akal ya mestinya yang maen akal kita juga dong. Nah, kalau suami pengen romantis-romantisan atau sedang sakit ingin dilayani, maka cobalah pakai pendekatan rasa. Dijamin tambah disayang! *nasihat nenek*

Oya, banyak orang yang tanya pada saya, bagaimana sih caranya membesarkan 6 anak? Apa gak repot? Ya repot bin riweuh bin rempong lah... (saking repotnya jadi ada bin-binnya, beranak pinak). Tapi, punya 6 anaknya kan tidak sekaligus, bukan kembar 6. Yang satu lahir, yang satunya mulai gede. Kalau anak masih dua, tenaga kita juga masih kenceng. Saat anak ketiga lahir, anak pertama sudah mulai bisa mengurus diri, sudah bisa makan dan mandi sendiri, sudah bisa ngajak main adiknya yang kedua. Artinya anak nambah, ya kemandirian anak terdahulu pun nambah. Otomatis nambah? Ya nggak lah. Tentu kita persiapkan, kita program. Tapi ya semaksimal apapun usaha kita, Allah lah sebaik-baik pendidik. Jadi jangan lupa untuk selalu berserah diri dan terus memohon pertolongan-Nya.

Ada yang kepo dengan perekonomian rumah tangga saya? Hihi... Nggak sih, saya cuma pengen sharing saja. Jadi, pelajaran yang saya ambil dari perjalanan rumah tangga saya bahwa ternyata peningkatan perekonomian seseorang itu ada hubungannya dengan cara berpikir (mindset). Betul, masalah materi itu rejeki dari Allah. Tapi Allah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada manusia untuk mencari karunia-Nya kan? Nah, saat kita membatasi pikiran kita dengan berbagai alasan (belum butuhlah, tidak punya modallah, banyak hambatan lah, dan lain-lain), maka tertutuplah pintu-pintu rejeki di hadapan kita. Tetapi ketika kita membuka diri, mencari ilmunya, mau mendengar masukan orang (mendengar tidak sama dengan mengikuti ya) dan mengolahnya, maka pintu-pintu rejeki pun terbuka. Percaya? Percaya? Atau Percaya?

Oya jangan lupa, sering-sering shadaqah pada yang membutuhkan. Shadaqah apa? Shadaqah apa saja sekemampuan kita. Niatkan shadaqah dengan ikhlas dan hanya mengharap balasan dari Allah. InsyaAllah dalam waktu tidak lama, Allah akan membalasnya.

Hmm...apalagi ya? Eh, sudah dulu saja ah. Tadinya cuma mau nulis 300-400 word. Ini malah bablas ke 700-an. Mana waktu sudah menunjukkan pukul 0.23 lagi. Sekian saja ya, semoga bermanfaat. Ntar sharing lagi di lain waktu. C'u

Kamis, 03 Desember 2015

Setahun Bersama Oriflame



Tanpa terasa saya sudah satu tahun gabung di bisnis jaringan Oriflame. Tadi baru saja terima invoice order dengan tagihan Renewal Fee sejumlah Rp 35.000,- Ya, itu maksudnya biaya perpanjangan member di Oriflame.
Bosan nggak sih setahun di Oriflame? Yang saya rasakan sih betah-betah saja. Senang. Setiap bulan selalu excited lihat katalog baru, promo menarik dan relasi kerja baru. Memang untung ya bisnis Oriflame? Ya untung lah. Tapi, untuk masa merintis ini, semua keuntungan yang saya dapat gak saya makan dulu melainkan dijadikan modal lagi.
Lha memang bisnis di Oriflame butuh modal? Yaiya lah namanya juga bisnis. 
Modal buat apa saja?
Modal beli produk sebelum sampai ke tangan konsumen, modal internet untuk iklan produk dan rekrut, modal ongkos, modal pikiran, modal tenaga, modal pulsa, dll. Tapi omong-omong tentang modal untuk beli produk, itu bisa diatur-atur kok. Contoh, karena produk Oriflame itu produk kosmetik yang bisa dipakai sendiri dan keluarga. Jadi aku mengalihkan belanja bulananku kayak sabun, shampo, bedak, foundation, dan lain-lain dengan merk Oriflame.
Lho, kalau dipakai sendiri lalu darimana keuntungannya? Haha...jangan lupa, saya kan bisnis jaringan. Keuntungan utamanya dari performance discount. Bonus kerja jaringan.
Adil gak sih pembagian keuntungan di Oriflame? Setelah saya pelajari cara pembagian bonusnya, saya menilainya adil. Kalau tidak adil, mana mungkin perusahaaannya bisa langgeng berdiri sampai lebih dari 60 tahun. Kalau merugikan, pasti sudah pada ninggalin. Ini dari waktu ke waktu malah makin maju.
Lalu, susah nggak jalanin bisnis jaringan Oriflame itu? Kalau menurut saya sih namanya juga kerja, intinya ya mesti dikerjain. Mau dipake susah ya susah tapi kalau mau dipake gampang ya gampang aja sih. Ukurannya, sejauh mana mental kita jalanin pekerjaan tersebut. Kalau mental kita oke, gak bakalan juga bikin baper dan termehek-mehek. Profesional saja.
Jadi, sebetulnya ngapain saja yang dikerjain di bisnis jaringan Oriflame?
Selain jual produknya, kita juga membangun jaringan di bawah kita. Dengan menjual produk, kita dapat selisih 23% dari harga di katalog. Sedangkan dengan membangun jaringan, kita bisa dapat poin grup. Semakin besar poin grup bakal semakin besar pula bonusnya.

Pengen tahu cara jualan dan membangun jaringan? Gabung aja yuk. Ntar aku ajarin deh :)

Invite pin bbmku: DEWIYAS
Atau WA/LINE: 087822233662

Kamis, 15 Oktober 2015

Perjalanan Keluarga Aman dan Nyaman Bersama Grand New Avanza


Bang Awan dan gambar Grand New Avanza
Bang Awan, anakku yang baru menginjak kelas 3 SD ini adalah orang yang paling heboh di rumah saat Grand New Avanza dan Grand New Veloz mau keluar.

“Memang apa bagusnya dibanding Avanza punya kita sekarang, Bang?” tanya saya di suatu sore saat menyiapkan makanan untuk makan malam.

“Grand New Avanza, Bu? Mesinnya dual VVT-i!” jawabnya mantap. Sementara matanya masih asyik memainkan smartphone milik ayahnya.

Kamis, 08 Oktober 2015

XL Ada dalam Setiap Momenku



Kalau saya ditanya sudah berapa lama saya menggunakan kartu sim XL? Terus terang, saya lupa sejak kapan. Yang pasti sudah lamaaa...banget! Tapi saya ingat, kenapa akhirnya saya menggunakan kartu XL adalah akibat digosok bapak saya secara terus menerus.

Dengan bangga, Bapak menyodorkan ponselnya ke muka saya, “Tuh, cuma habis Rp 25,-. Padahal Bapak ngobrol lama sekali .” Haha...saat itu XL memang lagi rame promo telpon Rp 25,-. Bapak ngotot pengen saya pakai XL ya biar beliau bisa sering-sering nelpon saya. Karena anak-anak beliau sudah tidak ada yang tinggal bersamanya, jadi ya kesepian gitu. Kalau semua sudah sama-sama pakai simcard XL kan gampaang..., tambah Bapak dengan gigihnya terus membujukku hihi...

Hmm...ya, mau bagaimana lagi? Ponselku kan CDMA. Mana bisa? Pikirku dalam hati. Ya, waktu itu si simcard CDMA yang itu memang masih merajai.

Namun, seiring waktu, akhirnya saya mendapat banyak kesulitan dalam komunikasi. Menggunakan nomor CDMA yang notabene lokal terasa mahal jika harus menelepon ke simcard GSM. Padahal, keluarga dan teman-teman kebanyakan pada pakai simcard GSM. Saya pun akhirnya memutuskan membeli simcard GSM.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...