Rabu, 20 April 2016

Pilihkan Aplikasi Gadget yang Menarik dan Bermanfaat Bagi Anak




Saat ini yang namanya gadget merupakan bagian dari kehidupan sosial manusia. Dari anak usia balita hingga lansia, terutama yang tinggal di perkotaan biasanya sudah familiar menggunakan gadget. Gadget bisa menjadi benda yang dibutuhkan karena kegunaannya yang besar namun bisa juga sesuatu yang mesti dibatasi penggunaannya jika malah merugikan penggunanya. Saya setuju dengan para orang tua yang membatasi penggunaan gadget bagi anak-anak karena pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, anak tetap membutuhkan aktivitas fisik. Jadi, jangan sampai kesukaannya bermain gadget membuat anak malas bergerak.
Anak tetap butuh aktivitas di luar ruangan

Kedua, menurut penelitian kesehatan, gadget yang merupakan alat elektronik ini dapat mengeluarkan radiasi yang dapat mengganggu fungsi otak manusia jika digunakan secara berlebihan. Nah...nah...jangan sampai anak kita terkena dampak negatif dari gadget ini ya.

Tapi...ya tapi nih, jaman sekarang tidak bisa juga kita menjauhkan teknologi dari anak-anak. Kita tidak bisa menyamakan jaman kita dulu yang bisa hidup tanpa gadget dengan kehidupan anak-anak sekarang. Meurut saya, anak-anak kita mesti tahu gadget, mesti tahu fungsi gadget, mesti tahu cara menggunakan gadget dengan tepat dan mesti tahu dampak negatif gadget bagi dirinya. Dengan pengertian yang dimiliki anak tentang gadget ini diharapkan anak bisa memahami atas dasar apa orang tua mengijinkan atau membatasi dia dalam menggunakan gadget.
Orang tua harus tahu aplikasi/game yang dimainkan anak


Untuk memaksimalkan fungsi positif dari gadget, orang tua sebaiknya menjadi pengendali dari aplikasi-aplikasi yang terpasang di gadget. Memang tidak semua orang tua suka main game tapi orang tua mesti tahu isi dari game atau aplikasi yang kerap dimainkan anaknya. Jangan sampai ternyata isinya menggambarkan tindak kekerasan atau berupa konten dewasa yang tidak layak dilihat anak.

Salah satu aplikasi pendidikan yang aman, bermanfaat dan menarik bagi anak usia 2-4 tahun adalah Aplikasi “Belajar Menulis Bersama Boci” yang dikeluarkan oleh Rolling Glory, Creative Digital Media Studio yang berlokasi di Bandung. Personil Rolling Glory ini anak-anak muda semua lho. Teman-teman bisa kepo-in mereka di facebook-nya, di sini heheh...

Baiklah, kita lanjut ke aplikasinya ya. Bagi yang penasaran, Teman-teman bisa instal dulu aplikasinya di sini.
Aplikasi ini tersedia gratis di Playstore

Udah? Oke sekarang di buka ya.
klik tombol 'Play' di tengah
Kita bisa memilih 'pesawat', 'kapal', atau 'kereta'
Gunakan jari untuk menggerakan pesawat sesuai bentuk huruf
Yeeeeah...berhasil deh bikin huruf A!
 
Setelah huruf 'A' besar selesai, muncul huruf 'a' kecil
Selamat, teman-teman sudah menyelesaikan semua huruf!
Nah, beres deh!
Kalau teman-teman pingin tahu lebih banyak tentang Petualangan Boci, Teman-teman bisa berkunjung ke website Boci di sini ya. Oya, selain aplikasi "Belajar Menulis Bersama Boci", Teman-teman bisa download aplikasi-aplikasi pendidikan lainnya dari Rolling Glory di sini.
Oke, semoga bermanfaat ya!

Jumat, 15 April 2016

Cara Menggunakan Jumbo Chopper Oxone



Kemaren itu ada konsumen saya yang tanya melalui whatsapp tentang cara menggunakan Jumbo Chopper Oxone tipe Ox-272. Akhirnya saya bikin deh foto-foto editan untuk memudahkan konsumen tersebut mengikuti langkah-langkah penggunaannya. Nah, berhubung sayang banget kalau foto-foto tersebut tersimpan saja di galeri, ya aku share aja di sini. Sapa tahu ada yang butuh, ada yang udah beli dan belum pernah dipake sampai sekarang gara-gara gak tahu cara pakenya hik...hik.. :D (ngaco)

Memang sih untuk beberapa produk Oxone terutama seri Professional, pengamannya tuh ketat banget. Kalau kita salah pasang tutupnya saja, nggak ngunci dengan benar, maka si mesin gak bakal nyala. Jadi gak usah khawatir si mata pisau bakal muter selama alat belum terkunci dengan benar.

Oya saya jadi inget di poliklinik dekat rumah, ada pasien anak  dengan jari berdarah-darah. Katanya sih sang ibu lengah pas menggunakan blender. Itu anak saking penasaran melihat isi blender yang muter kenceng, langsung aja masukin jarinya ke dalam gelas blender hiiiy... naudzubillah ya jangan sampai kejadian lagi.

Oke balik lagi ke masalah Jumbo Chopper Oxone tipe ox-272. Produk ini memang favorit banget di kalangan ibu-ibu. Saya sendiri paling sering menggunakan alat ini untuk bikin perkedel kentang. Selain itu bola-bola daging dan rencana yang belum juga kesampaian adalah bikin nugget. Padahal konsumen saya banyak yang udah pada bikin nugget lho dengan Jumbo Chopper ini.
Adonan perkedel kentang


Ehm, saya pernah cerita soal senangnya punya Jumbo Chopper di artikel ini ya:

Hore...Bikin Perkedel Lebih Gampang!


 Bahkan konsumen yang nanya tutorial cara menggunakan Jumbo Chopper Oxone ini pun tahunya alat ini dari artikel tersebut. Dia langsung kontak saya via whatsapp dan langsung beli deh (ke saya hihi...).

Nah setelah berpanjang-panjang cerita kesana-kemari, ini dia langkah-langkahnya menggunakan Jumbo Chopper Oxone tipe Ox-272:

1.      Masukan mata pisau ke tiang logam di dasar


2.      Jadinya seperti ini. Bagian depan mangkok chopper, saya sebut bagian A


3.      Perhatikan B adalah pengunci, C adalah pegangan untuk memutar tutup dan D adalah satu-satunya tonjolan yang harus diletakkan di sebelah kiri A


4.      Jadinya seperti ini ya. Perhatikan letak C yang menyamping ke sebelah kanan A. Itu tandanya Chopper belum terkunci.


5.      Putar tutup ke sebelah kiri dengan jari telunjuk bertumpu pada C. Nanti akan terdengar suara ‘trek’ dari bagian B sebagai tanda terkunci.


6.      Letakkan mesin di atas tutup dengan tulisan Oxone di sebelah kiri A


7.      Terakhir tekan mesin dengan telapak tangan. Itulah cara menyalakan mesin. Kita akan melihat mata pisau berputar dengan cepat.


Hmm...ribet? Nggak juga kalau kita sudah mempraktekannya.

Bagi yang belum tahu mengenai produk ini, saya share spesifikasinya di sini ya:



OX-272 | Jumbo Chooper Oxone - 250Watt

• Pisau Stainless

• Tombol On/ Off

• Kapasitas 1.2 Liter

• Mug Plastik dengan pegangan

• Power supply 220V 50Hz 250W

Senin, 11 April 2016

KETIKA BUKU DOA SEUMPAMA BUKU MANTRA

Gambar dari sini


Maaf ya, bagi yang tidak berkenan dengan judul tulisan ini. Saya hanya ingin menceritakan tentang masa kecil saya yang lahir dengandaya imajinasi tinggi. Saya sering mengkhayalkan berbagai hal seperti istana permen dan es krim, istana boneka, gaun-gaun putri, pesta pernikahan dengan pangeran, penyihir, koki istana, ratu, peri, malaikat dan hal-hal seperti itu.
Sepertinya khayalan-khayalan saya tidak lepas dari majalah anak yang saya baca masa itu. Beruntung, meski orang tua saya tinggal di kampung tapi saya sudah dapat fasilitas langganan majalah anak yang terbit seminggu sekali.
Gambar dari sini

Namun di sisi lain, saya juga tinggal di lingkungan agamis khususnya di lingkungan kakek dari pihak ayah dan nenek dari pihak ibu. Nenek tinggalnya cukup jauh jadi beliau mempengaruhi keber-agamaan saya ketika saya sudah cukup besar. Sedangkan di masa-masa balita, kakek lah yang lebih berpengaruh.

Saya didaftarkan ke madrasah ibtidaiyah oleh kakek ketika masih duduk di bangku TK. Saat itu belum ada yang namanya TPA yang lebih pas untuk usia saya saat itu. Saya yakin waktu itu bukan waktunya tahun pelajaran baru. Entah apa pertimbangan kakek mendaftarkan saya secara tiba-tiba ke madrasah. Saya juga tidak tahu apakah kakek koordinasi dulu atau tidak dengan orang tua saya dalam hal pendaftaran ini. Saya ingat betul kakek mengajak saya mendatangi kepala sekolah madrasah dan besoknya saya disuruh ikut sekolah agama di madrasah dengan tante saya. Saya dimasukkan ke kelas untuk anak kelas 1, sedangkan tante sudah kelas 3.
Kakek sekeluarga (ayah saya yang berdiri di tengah)

Pengalaman hari pertama sekolah agama, saya begitu menderita karena guru menyuruh anak-anak di kelas menulis basmalah dalam bahasa arab dan saya tidak bisa, huaaa.... T_T Segitunya ya pikiran anak kecil. Padahal guru juga tentu tidak akan menuntut anak yang baru saja masuk bangku sekolah.

Setiap malam, saya menginap di rumah kakek. Waktu itu kedua adik saya masih kecil-kecil dan mamah saya betul-betul kerepotan. Saat menjelang malam, kakek mengajarkan banyak hal. Dari mulai cerita nabi, surat-surat pendek, doa-doa, syair-syair pujian pada Tuhan sampai perkalian. Saya lihat kakek tertawa gembira dan bertepuk tangan saat saya bisa mengucap ulang semua yang diajarkan Kakek. Saya tidak mengerti, memang apa susahnya? Duh, betapa ajaibnya ya memori masa kecil. Saya bahkan merasa tidak memakai energi sedikit pun saat menjawab pertanyaan mengenai perkalian bilangan 12. Entah kemana ya kemampuan itu sekarang? Hehe... Yang saya ingat adalah saya selalu mengaitkan apa yang kakek ucapkan dengan sebuah gambaran di otak saya. Kalau kakek bertanya A, maka saya tinggal memunculkan kenangan yang saya kaitkan dengan A, maka meluncurlah jawabannya di mulut saya. Sekarang saya menilai, mungkin saya memiliki daya ingat visual ya. Jadi bisa mengingat sesuatu melalui sebuah gambaran.

Nah, ketika saya sudah lancar membaca, Kakek membeli buku cerita 25 Nabi dan Rasul dalam bahasa sunda dan sebuah buku doa. Saya membaca buku cerita 25 Nabi dan Rasul dengan susah payah. Ya sampai sekarang, saya memang termasuk pembaca lambat. Saya agak sulit dalam mencerna sebuah bahan bacaan. Akhirnya, sepupu saya yang lebih dulu menyelesaikan buku tersebut. Sedangkan saya lebih tertarik pada buku doa.

Buku doa itu berukuran buku saku namun cukup tebal. Di setiap halaman ada satu macam doa dalam huruf arab dan latin, terjemahannya dan ilustrasi kartun warna hitam putih. Buat saya buku itu demikian menakjubkan. Saya yang dimanjakan dengan cerita-cerita dongeng seakan-akan menemukan jawaban. Sekarang saya tahu, jika saya punya keinginan maka saya tinggal membaca doa. Sama dengan manusia-manusia di negeri dongeng yang apabila ingin sesuatu maka tinggal melapalkan mantra, simsalabim! Dan hap! Segala yang diinginkannya terjadi.

Demikian pula dengan saya. Dengan berbekal keyakinan bahwa Tuhan saya adalah Allah, Sang Pencipta Yang Maha Hebat, maka saya yakin Allah bakal mampu mengabulkan doa-doa saya. Di situ Kakek saya membimbing bahwa jika Allah belum mengabulkan doa kita, maka Allah lebih tahu saat yang terbaik untuk kita dalam mengabulkannya. Masya Allah, terima kasih Kakek. Semoga Allah merahmati dan melapangkan kuburmu.
Buku doa saya sekarang

Sejak saat itu saya membawa buku doa kemana-mana. Saat bangun tidur, saat masuk kamar mandi, saat mau makan, saat hujan, saat masuk pasar tanpa malu saya buka bukunya dan saya baca. Bagi saya saat itu, buku doa adalah buku mantra. Kun fayakun! Dan hap! Dia akan memberikan kebaikan-kebaikan pada saya seperti yang tersurat dalam doa-doa yang saya ucapkan.

*tulisan ini dibuat saat saya rehat sejenak menghapal doa-doa

Sabtu, 26 Maret 2016

Kenali Anak Karena Setiap Anak Berbeda


 Bulan maret 2016 ini, putra saya Hamzah meraih juara 1 Kompetisi Sains Madrasah (KSM) untuk Tsanawiyah tingkat Kota Bandung di Bidang Fisika. Hamzah pun berhak maju ke KSM tingkat provinsi pada bulan mei mendatang. Prestasi yang Hamzah raih pernah juga dirasakan oleh kakaknya Hamzah, yaitu Husna. Bahkan Husna berhasil melaju hingga tingkat nasional di bidang fisika ini. Meskipun di tingkat nasional, Husna hanya berhasil meraih medali perak. Karena prestasinya itu, Husna bisa masuk ke SMAN 3 Bandung melalui jalur prestasi.

Saya sebagai ibunya tentu merasa bangga hehe... Ibu mana sih yang tidak bangga jika anaknya berprestasi? Nah, karena foto Hamzah dengan medali emas dan pialanya saya jadikan foto profil facebook, otomatis banyak sekali respon positif yang saya terima. Mulai dari ucapan selamat hingga menanyakan bagaimana cara mendidik anak supaya berprestasi.

Saya sering bingung jika ditanya seperti itu. Pasalnya, saya bukan tipe orang tua yang menyuruh anak supaya belajar terus menerus, les ini-itu dan mesti mengerjakan berbagai soal-soal pelajaran. Tapi bukan pula saya cuek terhadap pendidikan anak. Saya membaca juga buku-buku parenting. Namun bagi saya, pendidikan anak bukan bagaimana mereka hapal berbagai isi pelajaran sekolah dan mendapat nilai tinggi. Bagi saya, pendidikan anak itu adalah memahamkan anak bagaimana dia mengenali dirinya, mengerti tentang kehidupan ini dan dapat menjalaninya dengan baik.
Beberapa buku parenting yang saya baca

Selain tentunya kita mendukung anak dengan kasih sayang, doa dan fasilitas sekemampuan kita, yang saya praktekan di rumah terhadap anak-anak, antara lain seperti ini:

1.      Banyak Ngobrol

Saat anak-anak di rumah, saya lebih banyak ngobrol dengan mereka alih-alih menyuruh mereka membuka buku pelajaran. Bukan...bukan saya menyepelekan pekerjaan rumah dari sekolah. Saya juga mengingatkan jika mereka ada PR. Tapi aktivitas ngobrol bersama anak-anak harus menjadi prioritas. Tidak harus selalu pas kita santai kok. Ada pekerjaan yang bisa disambi saat ngobrol dengan anak. Saya sering ngobrol dengan anak sambil merapikan baju di lemari atau sambil luluran lotion ke tangan dan kaki ;)

Salah seorang teman saya pernah bilang, katanya dia juga sering ngobrol dengan anak tapi masalahnya anak-anak tidak mau dengar. Lalu saya tanya, memang kamu ngomong apa? Jawab teman saya, ya ngasih nasihat.

Haha...tentu saja anak tidak mau dengar. Pasti anak-anak bilang, ibu membosankan, pasti ibu kasih nasihat lagi, sebel, dan lain sebagainya. Yang saya maksud ngobrol itu adalah membicarakan apapun yang menarik minat anak. Jadi, sudut pandangnya adalah sudut pandang anak. Bukan sudut pandang orang tua. Misalnya, anak kita sedang gandrung game. Cobalah pelajari sedikit tentang game itu dan kenapa anak kita begitu tertarik. Nah kita bisa jadikan soal game itu menjadi obrolan yang menarik. Tentu anak-anak akan meresponnya dengan semangat. Barulah kita bisa memasukan nilai-nilai positif di dalamnya tanpa nada menggurui. Misalnya kita mengangkat sisi positif dari game itu seperti melatih ketekunan atau sportifitas. Tentu anak-anak akan bangga jika game kesukaannya dipuji. Lalu ingatkan pula bahwa tugas utama kita adalah belajar jadi ambil manfaatnya dari game tersebut dan jangan sampai mengganggu tugas utama kita. Insya Allah jika kita memberi penghargaan pada aktivitas anak, maka anak akan rela mendengar nasihat kita.

Oya menurut saya, ngobrol antara orang tua dan anak itu berperan juga dalam mencerdaskan anak lho. Tentunya cara ngobrolnya jangan dibiarkan begitu saja tapi harus menghasilkan obrolan berkualitas. Oleh karenanya orang tua harus pandai mengarahkan sehingga obrolan tidak hanya sekedar ngalor-ngidul, kesana-kemari. Misalnya orang tua melemparkan sebuah pertanyaan ke anak seperti, siapa sih teman kalian yang paling populer di kelas, siapakah guru yang paling kalian sukai, atau kemana sih kalian ingin berlibur? Kalau obrolan seperti ini dibiasakan sejak anak kecil, anak akan terbiasa diajak mencerna sebuah pertanyaan dan memikirkan jawabannya. Kemudian kita tanya alasan dari pilihan mereka. Hal ini akan melatih mereka supaya terbiasa membuat alasan atas dasar pemikiran. Insya Allah dari aktifitas ngobrol dengan anak ini akan banyak manfaatnya. Jadi jangan sampai menyepelekannya ya.

2.      Seimbangkan Fungsi Otak Kanan dan Kiri

Masalah fungsi otak kanan dan kiri sudah banyak dibahas di buku, di seminar-seminar pendidikan dan di internet. Jadi silakan teman-teman cari sendiri. Di sini saya hanya ingin cerita mengenai apa yang saya lakukan untuk memaksimalkan fungsi otak kanan dan kiri anak.

Berdasarkan percobaan sederhana, saya diketahui dominan otak kanan dan suami dominan otak kiri. Mungkin tanpa disadari, perlakuan kami terhadap anak berdasarkan dominasi otak yang kami miliki ini membuat anak memiliki keseimbangan di keduanya. Itu baru mungkin ya hehe... Tapi bukan berarti karena saya dominan otak kanan lantas tidak melatih anak menggunakan otak kirinya. Kalau secara teori tahu, ya kenapa tidak dipraktekan, ya kan.

Untuk melatih otak kanan anak, saya sering menyanyikan lagu-lagu di dekat anak. Bahkan tiap anak yang lahir saya buatkan jingle khusus yang memuat nama masing-masing anak. Ketika saya menggendongnya, saya selalu menyanyikan jingle itu. Sampai anak-anak besar, mereka tahu jingle lagunya masing-masing.

Ketika anak sudah menginjak usia balita, saya senang cerita apa saja ke anak-anak. Dongeng, kisah masa kecil, pengalaman orang lain, dan sebagainya. Bercerita pada anak dapat meningkatkan daya imajinasi anak yang merupakan fungsi dari belahan otak kanan.

Sedangkan untuk melatih otak kirinya, saya mengajarkan berbagai hapalan doa dan surat-surat pendek bahkan sejak mereka bayi. Saya tidak menyuruh anak-anak berdiri di depan saya dan membacakan hapalannya. Cukup dengan melapalkan saja pada saat mereka mau masuk dan keluar kamar mandi, saat mau makan, saat mau pergi dan aktivitas lainnya. Untuk hapalan ayat, setiap pagi saya biasa menperdengarkan murottal dari MP3 dan melapalkannya sambil beraktifitas. Selebihnya saya mengajarkan mereka membaca, berhitung dan hal-hal lain yang membutuhkan kemampuan otak kiri.

3.      Karakter, Potensi Anak dan Menempatkannya.

Di sini saya ingin menceritakan tiga orang anak saya dengan karakter yang berbeda-beda dan bagaimana saya memperlakukan mereka sesuai kebutuhan mereka.

Pertama, Kakak Ovi (umur 12 tahun) yang memiliki karakter keras. Tidak ada yang bisa menundukkan Kakak Ovi kecuali dirinya sendiri yang ingin. Karakter ini sering memicu konflik dengan saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya sering mengadu kesal karena Kakak Ovi tidak mau menurut. Sebagai ibunya, saya justru melihat bahwa karakter keras yang dimiliki Kakak Ovi merupakan potensi besar. Saya tidak boleh menghilangkannya dengan mengatakan bahwa kekerasan wataknya itu merupakan kejelekan atau sikap bandel dalam artian negatif. Justru saya harus meyakinkan Kakak Ovi bahwa sikapnya itu merupakan keteguhan hatinya. Sehingga jika digunakan dalam jalan kebenaran, Kakak Ovi akan menjadi pemegang kebenaran yang kuat.

Saya tahu, ucapan dan perlakuan saya terhadapa dirinya sangat membesarkan hatinya. Meskipun dia kerap melakukan kesalahan karena sikap dasarnya itu membuat dia bermasalah dengan saudaranya, tapi dia yakin ibu selalu di sampingnya untuk membantunya menempatkan sikapnya dengan tepat.

Kedua, Abang Awan (umur 9 tahun). Bang Awan sudah menunjukkan kecerdasan intelektualnya sejak kecil. Dia sudah bisa membaca dengan lancar mulai usia 3 tahun. Dia juga sangat suka surfing di internet. Laman yang sering dia kunjungi seperti wikipedia, google maps, detik.com, dan berbagai situs berbasis ilmu pengetahuan dan berita. Tidak heran kalau dia sering menjadi tempat kita bertanya seperti, nama dan arah jalan, kejadian terkini, dan bermacam-macam pengetahuan lainnya. Anaknya cenderung pendiam, jarang mau main di luar dan minim aktivitas fisik. Anehnya ketika Bang Awan kecil ditanya cita-citanya mau jadi apa? Dia menjawab ingin menjadi tentara. Saya benar-benar tidak paham apa yang Bang Awan pikirkan tentang tentara.

Namun sekarang cita-citanya sudah berubah lagi. Hal itu saya ketahui saat pagi-pagi, Bang Awan bilang harus membawa kostum ke sekolah sesuai cita-cita. Saya tanya, memang Bang Awan cita-citanya ingin jadi apa? Dengan mantap Bang Awan menjawab, ingin menjadi Pengusaha Sukses!

Wow...

Melihat karakter Bang Awan yang kutu buku dan cenderung pendiam, saya berupaya memotivasi Bang Awan supaya mau melakukan aktivitas fisik seperti bermain sepeda bersama anak tetangga dan beberapa tugas kecil seperti mencuci sepatu sendiri. Ya dia harus melatih keterampilan sosial dan motoriknya supaya seimbang dengan kemampuan otaknya. Walaupun guru-gurunya mengatakan Bang Awan pintar di semua bidang pelajaran di sekolah dan dapat ranking 1 di kelas, tapi Ibu akan lebih bahagia jika Bang Awan suka ngobrol dan bermain dengan teman-temannya juga. Karena keberhasilan hidup itu tidak hanya ditentukan oleh kepintaran otak saja tapi juga kepintaran bergaul dan bekerja keras.

Ketiga, Ade Yahya (umur 5,5 tahun). Terus terang saya terkaget-kaget mendapati anak seperti Ade Yahya. Sejak bayi dia sering sekali jatuh dari tempat tidur. Di usia dua tahun dia pernah menggelinding dari tangga dan di usia 3 tahun dia pernah berjalan di puncak wuwungan rumah :’( Gerakan badan Ade itu lebih cepat dari yang kita duga. Misalnya, ketika Ade yahya bertanya, bolehkah Ade minta piring? Saat kita menjawab, ya, maka Ade Yahya sudah berlari memanjat rak piring. Gerak cepat dan keberaniannya itu kerap membuat saya kaget dan khawatir. Dia tidak takut melakukan apapun. Tidak heran jika di usia 4 tahun, Ade Yahya sudah bisa mengendarai sepeda milik saya. Namun karena gerakannya yang cepat itu pula, Ade sering melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru dan akhirnya melakukan kesalahan. Banyak teman-temannya yang protes padanya karena merasa terganggu. Hal yang paling sulit dilakukan di sekolah adalah baris berbaris dan sholat berjamaah. Dia selalu tidak sabar menunggu saat pikirannya tertarik kepada hal lain. Tapi bukan berarti dia tidak bisa konsentrasi. Adek Yahya bakal mampu melakukan sesuatu berjam-jam jika ada sesuatu yang benar-benar mampu menarik hatinya.

Oya Ade Yahya termasuk anak yang supel. Temannya banyak. Dia sering membawa teman-teman barunya ke rumah.

Saya tanya Ade, “Siapa itu Dek?”

“Teman,” Jawab Ade singkat.

“Siapa namanya?” Selidikku.

“Hehe...lupa,” sambil melirik teman barunya itu.

“Memang kenalan di mana?”

“Ketemu barusan di lapang dekat masjid.”

Ade...Ade...siapa saja selalu bisa jadi teman kamu hehe...

Karena aktivitas fisiknya yang tinggi dan sering ingin serba cepat, kaki Ade banyak baret-baret dan bajunya pun cepat sekali kotor. Karenanya saya lebih memilih warna-warna gelap untuk baju Ade seperti baju warna hitam yang dipakai oleh Ade ini. Baju kaos dari Hoofla Kids.

Oya kenalkan Hoofla adalah merk baju kaos dari Bandung yang dipakai oleh Kakak Ovi, Bang Awan dan Ade Yahya pada foto-foto di tulisan ini. Bahannya lembut, menyerap keringat, tidak tipis tapi juga tidak terlalu tebal. Pokoknya pas banget.

Ada kesamaan antara saya dan Hoofla. Hal itu tergambar dalam tagline Hoofla yaitu When Your Kids Meet Their Needs. Saya seorang ibu yang memperlakukan anak sesuai kebutuhan mereka. Demikian pula Hoofla, produk-produknya terinspirasi dari kebutuhan anak. Baik dari bahan, model, warna, gambar dan tulisan yang menghiasi kaosnya. Coba teman-teman lihat produk-produk Hoofla lainnya di katalog ini. 
Menarik-menarik bukan? Tapi kalau teman ingin tahu lebih jelas lagi, Teman-teman bisa cek ke instagram Hoofla dan page Hoofla ya.

Balik lagi ke soal pendidikan anak. Jika anak mengenali dirinya, mengerti apa itu hidup dan bagaimana menjalaninya, maka dia akan lebih percaya diri melangkah dan menapaki kehidupannya.

Simpulannya adalah, kita sebagai orang tua hanya tinggal membantunya dengan melatih keterampilan berpikir dan komunikasinya, memaksimalkan fungsi otaknya dan menjaga serta mengarahkan potensinya pada kebaikan. Skill-nya? Ya itu salah satu bantuan dari sekolah.

Hmm...kira-kira seperti itu, teman-teman. Terus terang, saya juga masih terus belajar dalam mendidik anak. Jadi, apa yang saya lakukan bukan jaminan keberhasilan 100%. Apa yang saya lakukan ini hanya merupakan sebuah usaha sejauh yang saya mampu. Sedangkan hasilnya saya serahkan pada Sang Maha Pencipta. Tapi, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjawab kepenasaran teman-teman tentang bagaimana cara saya memperlakukan anak-anak saya sehari-hari ya.

Artikel ini disponsori oleh Hoofla Kids, WHEN YOUR KIDS MEET THEIR NEEDS. Brand kaos anak lucu, kaos anak muslim, kaos anak karakter, kaos anak branded, kaos anak bandung.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...