Kamis, 26 Januari 2012

PENULIS CILIK-Tentukan Genre, Tema, Latar, Alur, Konflik dan Ending (Materi 16)


 Sambungan dari Materi 15

Sekarang saatnya kamu membuat gambaran lengkap tentang cerita yang akan dimainkan oleh pemeran yang sudah kamu ciptakan.

Genre
Genre apakah yang ingin kamu pasang di ceritamu? Menentukan genre sama dengan memasang aturan genre tersebut dalam keseluruhan alur ceritamu. Misalnya, kamu menentukan genre realis-lah yang akan disuguhkan dalam cerita buatanmu. Berarti seluruh isi ceritamu harus bermuatan adegan yang realistis, yang mungkin terjadi pada kehidupan manusia sehari-hari.
Contohnya dalam ceritamu ada adegan peristiwa kejahatan, seorang ibu dijambret kalungnya. Nah, tentu sang penolong yang mungkin dihadirkan adalah polisi. Polisi memang sejatinya orang yang mempunyai kemampuan menghadapi penjahat dalam kehidupan manusia. Jadi, jangan sampai dalam ceritamu, kamu malah mendatangkan superhero semacam Superman untuk menolongnya. Kecuali genre ceritamu kamu ubah menjadi genre fantasi.
Demikian pula saat kamu menentukan genre ceritamu adalah genre misteri atau humor. Kalau genre ceritamu misteri, berarti siapkan seluruh alur ceritamu untuk memberikan efek-efek penasaran dan kejutan yang menegangkan pada para pembacanya. Dan jika genre ceritamu humor, siapkan pula bahan-bahan pengocok perut (bahan cerita pembuat tertawa) yang akan bertebaran di seluruh alur ceritamu.

Tema
Tema adalah ide pokok yang akan dijadikan acuan cerita yang akan kamu tulis. Tema dari novel Petualangan Joanna adalah perjalanan seorang anak untuk menyelidiki misteri circle crop. Nah, tentunya selama Husna menulis cerita, tulisannya akan mengacu pada tema yang sudah ditentukankannya.
Cobalah kamu berlatih menangkap tema dari setiap cerita yang kamu baca, baik itu cerpen maupun novel. Latihan itu akan membuat kamu lancar dalam menentukan tema ceritamu.

Latar (Setting)
Latar atau setting adalah tempat, waktu, suasana yang terdapat dalam cerita. Menggambarkan latar yang tepat akan menjadikan cerita kamu lebih nyata dan hidup.
Penggambaran latar dalam tulisan tidak harus menceritakan nama tempat atau lokasi kejadian berlangsung. Penggunaan bahasa, dialek, nama panggilan khas, dan benda-benda khas juga bisa menggambarkan latar.
Coba kamu perhatikan potongan cerita di bawah ini:
“Waktu kecil aku takut sekali dengan ondel-ondel. Kalau ada ondel-ondel datang bernyanyi dan menari di dekat rumahku, aku selalu bersembunyi.”
Potongan cerita ini dikutip dari tulisan Faiz yang berjudul Badu Anak Ondel-ondel di buku antologi Tangan-tangan Mungil Melukis Langit.
Dari kata ‘ondel-ondel’ yang merupakan boneka khas Jakarta atau betawi, kita mendapat informasi tentang latar dari cerita Faiz tersebut.
Seperti sudah disebutkan di atas, latar bukan hanya sekedar menggambarkan tempat. Waktu dan suasana pun merupakan bagian dari latar. Kalau kamu membuat cerita yang berlatar jaman Mesir Kuno berarti kamu harus menggambarkannya dengan suasana dan kebiasaan masyarakat masa itu. Demikian pula kalau kamu membuat cerita tentang masa depan, kamu harus bisa membayangkan hal-hal apa saja yang mungkin ada dan akan dilakukan orang pada masa itu.
Jadi, kalau kamu sudah kebayang di mana dan bagaimana ceritamu terjadi, kuasai ya suasana yang melatari ceritamu.

Berlanjut ke Materi 17

Ini dia buku best seller dari Husna Salsabila:

 
PCPK Holiday in Korea, karya Husna Salsabila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih ya atas kunjungan dan komentarnya ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...